Pembelajaran 1.1

Setelah mempelajari modul 1 pembelajaran 1.1 mahasiswa diharapkan:
1. Menjelaskan pengertian lingkup filsafat
2. Memahami manfaat mempelajari filsafat
3. Menjelaskan objek material dan objek formal filsafat.

1. Pengertian Filsafat
a) Dari Segi Etimologis
Sebelum dibahas pengertian Filsafat secara material maka dipandang perlu untuk membahas terlebih dahulu makna dan arti istilah “filsafat”. Pada umumnya para filsuf maupun para ahli filsafat mempunyai tinjauan yang sama dalam mengartikan istilah filsafat, walaupun secara harafiah mempunyai perbedaan. Istilah “filsafat” dalam bahasa Indonesia mempunyai padanan “falsafah” dalam kata Arab. Sedangkan menurut kata Inggris “Philosophy”, kata Latin “Philosophia”, kata Belanda “Philosopie”, yang semuanya itu diterjemahkan dalam kata Indonesia “Filsafat”. “Philosophia” ini adalah kata benda yang merupakan hasil dari kegiatan “Philosophein” sebagai kata kerjanya. Sedangkan kegiatan ini dilakukan oleh Philosopos atau filsuf sebagai subyek yang berfilsafat. Menurut Harun Nasution, istilah “Falsafah” berasal dari bahasa Yunani “Philein” dan kata mengandung arti “Cinta” dan Sophos dalam arti “Hikmat” (Wisdom). (Harun Nasution, 1973). Istilah “Falsafat” berasal dari bahasa Yunani. Bangsa Yunanilah yang mula-mula berfilsafat seperti lazimnya dipahami orang sampai sekarang. Kata ini majemuk, berasal dari kata “Philos” yang berarti “Sahabat” and kata “Sophia” yang berarti “Pengetahuan yang Bijaksana”. (Wished dalam bahasa Belanda Wisdom kata Inggris, dan Hikmat menurut kata Arab).
Maka Philosophia menurut arti katanya berarti cinta pada pengetahuan yang bijaksana, oleh karena itu mengusahakannya (Sidi Gazalba, 1977). Jadi terdapat sedikit perbedaan arti, disatu pihak mengatakan bahwa falsafah merupakan bentuk majemuk dari “Philein” dan “Sophos”, (Harun Nasution, 1973). Dilain pihak filsafat dinyatakan dalam bentuk majemuk dari “Philos”dan “Sophia”. (Sidi Gazalba, 1977) namun secara simantis mengandung makna yang sama.
Dengan demikian istilah “Falsafah” yang dimaksudkan sebagai kata majemuk “Philein” dan “Sophos” mengandung arti, mencintai hal-hal yang sifatnya bijaksana, sedangkan “Falsafah” yang merupakan bentuk dari “Philos” dan “Sophia” berkonotasi teman dan bijaksana.
Sementara ahli ada yang mengatakan bahwa “Sophia” arti yang lebih dari kebijaksanaan, arti “Sophia” meliputi pula kerajinan (Crefismanship) sampai kebenaran pertama (First Truth). “Sophia” kadang-kadang juga mengandung makna pengetahuan yang luas (wideknoledge), kebijaksanaan (intelektual virlues). Pertimbangan yang sehat (soundjugment), kecerdikan dalam memutuskan hal-hal yang praktis (shewdnwss in practical decision).
Jadi istilah “filsafat” pada mulanya suatu istilah yang secara umum dipergunakan untuk menyebutkan usaha ke arah keutamaan mental (The Pursuit of Mental Exellence). (Ali Mudhofir, 1980)
Pengertian secara Termilogis :
• Plato
Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran asli.
• Aristoteles
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung dalam ilmu ilmu metafisik logika, etika.
• Rene Descartes
Kumpulan segala pengetahuan di mana filsafat, harus menjadi pokok penyelidikan.
• Hasbullah Bakry

Ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mudah mengenai kebutuhan akan sementara dan manusia sekarang dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia khususnya mencapai pengetahuan.
b) Dari Segi Historis
Secara historis, istilah ‘’filsafat’’ mula-mula digunakan oleh Pythagoras seorang ahli matematika filosof dari Yunani yang hidup pada tahun 582- 496 SM. Pada masa itu istilah filsafat masih sangat luas dan dipakai untuk menyebutkan semua bidang ilmu pengetahuan yang ada. Lama-kelamaan ilmu-ilmu pengetahuan satu persatu memisahkan diri dari induknya yaitu filsafat, dan berkembang menjadi cabang-cabang dan ranting-ranting yang sangat kompleks. Sejak itu istilah filasafat mengandung arti yang lebih spesifik. Kini filsafat menjadi dasar perangkat dan pemersatu bagi segenap ilmu pengetahuan sehingga filsafat menjadi inter-disipliner – sistim.
c) Dari Segi Terminologis
Secara terminologis, istilah filsafat diartikan sebagai suatu ‘’asas atau pendirian hidup’’ dan disamping itu juga diartikan sebagai ‘’ ilmu pengetahuan yang terdalam’’. Pengertian yang pertama (asas atau pendirian hidup) sering dipergunakan istilah ‘’falsafah’’ sedangkan pengertian yang kedua (ilmu pengetahuan yang terdalam), sering dipergunakan istilah ‘’filsafat’’.

2. Lingkup Pengertian Filsafat
Berikut ini dijelaskan berbagai bidang lingkup pengertian filsafat :
a. Filsafat sebagai suatu kebijaksanaan yang rasional dari segala sesuatu
Sebagaimana dikemukakan oleh James K. Ferbleman, bahwa sifat sebagai suatu kebijaksanaan yang rasional tentang segala sesuatu terutama dalam kaitannya dengan hidup manusia. Manusia dalam hidupnya senantiasa menghadapi berbagai macam problem hidup. Antara lain masalah Ekonomi, Sosial, Politik, Idiologi dan sebagainya, dalam masalah ini manusia menemukan suatu kebijaksanaan yang hakiki dan rasional.
b. Filsafat sebagai suatu sikap pandangan hidup.
Manusia dalam menghadapi segala macam problema dalam hidupnya yang harus diselesaikan berdasarkan sikap dan pandangan hidupnya. Dalam masalah ini manusia harus memiliki prinsip-prinsip sebagai suatu sikap dan pandangan hidup agar di dalam hidupnya tidak terombang ambing. Bagaimanapun sulit dan rumitnya problema hidup dalam hidup manusia harus dihadapi secara mendalam, kritis dan terbuka. Dengan demikian akan menumbuhkan keseimbangan pribadi, ketenangan dengan pengendalian diri (lihat Hornold H. Titus, dkk).
c. Filsafat sebagai suatu kelompok persoalan.
Manusia dalam kehidupan sehari-hari senantiasa menghadapi persoalan yang merupakan suatu jawaban. Namun tidak semua persoalan manusia dapat dikatakan filsafat, misalnya persoalan biasa dalam kehidupan sehari-hari antara lain berupa jumlah kebutuhan hidup manusia sehari, bagaimana seorang mendapat penghasilan, berupa jumlah kendaraan yang dimiliki seseorang dan lain sebagainya ini tidak termasuk dalam lingkup pengertian filsafat. Persoalan manusia yang termasuk persoalan filsafat adalah bersifat fundamental, mendalam, hakiki serta memerlukan jawaban yang mendalam hakiki sampai pada tingkat hakekatnya. Misalnya apakah hidup manusia ? apakah manusia itu memiliki kebebasan atau tidak memiliki kebebasan dan apa dasar-dasarnya ? apakah hakikat pengertian kebenaran? apakah hakikat keberadaan manusia di dunia, apakah terikat oleh sebab akibat ataukah manusia ada di dunia secara kebetulan dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang merupakan persoalan yang fundamental tersebut memerlukan jawaban dan penyelesaian rasional, kritis, mendalam dan akan terjadi secara terus menerus.
d. Filsafat sebagai suatu kelompok teori dan sistem pikiran
Perkembangan filsafat sampai periode abad pertengahan bahkan aliran modern ditandai dengan munculnya sistem-sistem pemikiran dan teori – teori. Misalnya sederetan filsuf seperti August Comte dengan pemikiran Positivismenya, Henry Bergeson dengan paham Intuisionosmenya, Plato dengan Idealismenya, Jhon Locke dengan Empirisnya, Karl Marx dengan Komunismenya, John Dewey dengan Pragmatismenya, Demokritus dengan Materialismenya, dan lain sebagainya. Semua filsuf tersebut mengemukakan sistem pemikiran serta teori masing-masing dengan dengan ciri khas serta metodenya masing-masing (Hornold H. Titus, dkk).
e. Filsafat sebagai suatu proses kritis dan sistematis dari segala pengetahuan manusia
Filsafat senantiasa berupaya untuk meninjau secara kritis segala pengetahuan manusia terutama ilmu pengetahuan manusia dewasa ini. Apakah metode yang telah digunakan dalam suatu ilmu dapat benar-benar mencapai kebenaran obyektif, hakikat obyektif ilmu pengetahuan manusia itu dapat diamati dengan indra manusia ataukah hanya dapat dipahami berdasarkan akal budi manusia. Maka filsafat senantiasa memberikan tinjauan kritis terhadap paradigma ilmu pengetahuan. Secara praktis dalam proses penelitian ilmiah antar metode, objek penelitian serta segala instrumen penelitian haruslah memilki kesesuaian. Misalnya apakah gejala yang ada pada manusia. Kebudayaan, jiwa serta masyarakat memiliki kesamaan dengan gejala-gejala yang ada pada alam. Maka semua sistem pengetahuan dan ilmu pengetahuan manusia tersebut senantiasa ditinjau secara kritis oleh filsafat.
f. Filsafat sebagai usaha untuk memperoleh pandangan komprehensif
Para ahli filsafat spekulatif (yang dibedakan dengan paham filsafat kritis), yang antara lain tokohnya S.D. Board, tujuan filsafat adalah berupaya menyatu-padukan hasil-hasil pengalaman manusia dalam bidang keagamaan, etika, serta ilmu pengetahuan yang dilakukan secara menyeluruh. Upaya ini diharapkan untuk mendapatkan kesimpulan pemahaman secara umum tentang manusia, masyarakat alam dan hubungannya dengan manusia dan makhluk hidup lainnya serta pandangan-pandangan yang menjangkau kearah masa depan. Para filsaf yang berupaya untuk mendapatkan pandangan yang bersifat komprehensif antara lain, John Dewey, Hegel, A.N.Whitehead, Aristoteles, Plato, Bergeson dan lain sebagainya.
Sebenarnya untuk mendeskripsikan pengertian filsafat akan lebih mudah dipahami lewat pendekatan secara optimal. Berfilsafat dapat mengandung arti melakukan aktifitas filsafat dengan demikian akan menggunakan seperangkat metode-metode filsafat, dan sekaligus mempunyai filsafat.
Jadi manusia mempunyai problem khas yang diusahakan untuk dipecahkan dengan cara berfikir yang khas sehingga menghasilkan kesimpulan-kesimpulan pemecahan persoalan tersebut dalam suatu himpunan pengetahuan yang khas pula. Tetapi ternyata himpunan pengetahuan yang khas ini berfungsi ganda bagi subyek (manusia) yang berfilsafat.
Dari hasil penelitian konsep-konsep pengertian filsafat dari para filsuf maupun para ahli filsafat tersebut di atas, pengertian filsafat dapat disederhanakan menjadi dua pengertian pokok, yaitu mencakup pengertian filsafat sebagai produk (hasil pemikiran manusia) dalam hal ini bersifat statis, dan filsafat sebagai proses sehingga dalam hal ini filsafat bersifat dinamis.
Filsafat sebagai produk mencakup pengertian:
a) Pengertian filsafat yang mencakup arti-arti filsafat sebagai jenis pengertian, ilmu, konsep dari filsuf pada zaman dahulu, teori sistem atau aliran tertentu, yang merupakan hasil dari proses berfilsafat dan yang mempunyai ciri-ciri tertentu.
b) Filsafat sebagai suatu jenis problema yang dihadapi oleh manusia sebagai hasil dari aktivitas berfilsafat. Filsafat dalam pengertian ini mempunyai ciri-ciri khas tertentu sebagai suatu hasil kegiatan berfilsafat pada umumnya proses pemecahan persoalan filsafat ini diselesaikan dengan kegiatan berfilsafat (dalam pengertian filsafat sebagai proses yang dinamis).
Kesimpulan/Intisari
Filsafat adalah ilmu pengetahuan terkait kebenaran yang terkandung dalam dalam ilmu-ilmu metafisik logika dan etika serta menjadi pokok penyelidikan. Istilah filsafat mengandung arti yang lebih spesifik. Kini filsafat menjadi dasar perangkat dan pemersatu bagi segenap ilmu pengetahuan sehingga filsafat menjadi interdisipliner system.
Lingkup pengertian filsafat adalah filsafat sebagai suatu kebijaksanaan yang rasional dari segala sesuatu, filsafat sebagai suatu sikap pandangan hidup, filsafat sebagai kelompok persoalan, filsafat sebagai suatu kelompok teori dan sistem pemikiran, filsafat sebagai proses kritis dan sistematis dari segala pengetahuan manusia, filsafat sebagai usaha untuk memperoleh pandangan komprehensif.

Last modified: Monday, 20 July 2020, 9:20 PM