Pembelajaran 1.2

Setelah mempelajari modul 1 pembelajaran 1.2 mahasiswa diharapkan dapat:
1. Menjelaskan tujuan filsafat
2. Menjelaskan cabang-cabang filsafat
3. Menjelaskan hubungan filsafat dan ilmu pengetahuan

1. Tujuan Filsafat
Filasafat adalah pemikiran secara radikal, sistematis, dan universal untuk mencapai hakikat kebenaran segala sesuatu yang ada. Berpikir secara radikal tersebut adalah berpikir secara sungguh-sungguh dan bertujuan untuk dan bertujaun untuk mengetahui secara mendalam tentang segala sesuatu yan dipikirkan ini berarti ingin mencari hakikat kebenaran sesuatu. Oleh karena itu tujuan filsafat sesungguhnya adalah mencapai kebenaran yang hakiki. Tujuan mencari kebenaran ini merupakan keharusahan bagi para filsuf. Kebenaran ini akan mempengahuri tindakan , keyakinan sehingga akan membentuk sikap seseorang. Seperti Socrates sanggup mati dengan cara minum racun sebagai hukuman baginya karena mempertahankan kebenaran filsafatnya.
Oleh karena sifatnya yang universal maka filsuf selalu berhadapan segala macam masalah karena objek pemikiran filsafat adalah universal, dan berkaitan dengan realitas. Filsuf akan gelisah kalau masalah yang ia hadapi belum terpecahkan, dalam memecahkan masalah memberi dorongan keberanian bagi para filsuf karena kebenaran menjadi tujuan.ia berani mengajukan pertanyaan-pertanyan walaupun pertanyaan itumungkin tidak disenangi oleh orang lain yang bertanya dan ia berani memberikan jawaban atas orang yang bertanya, walaupun jawaban itu mungkin tidak sesuai dengan keinginan sebagian orang.
Pekerjaan berpikir secara filsafat seperti diuraikan diatas tentu bukan suatu pekerjaan yang mudah, sehingga disinilah letaknya bahwa tidak semua kegiatan berfikir berarti berfilsafat. Sama halnya tidak semua manuasia adalah filsuf, akan tetapi manusia mempunyai kemungkinan untuk menjadi filsuf apabila ia memiliki syarat-syaratnya. Bagi orang yang berpikir menurut syarat-syarat filsafat sesungguhnya baik waktu tenaga atau energy yang dikeluarkan itu tidaklah sia-sia tetu ada manfaat yang diperoleh. Seseorang yang berfilsafat baginya akan mempunyai atau memiliki sesuatuilmu yang mendalam tentang sesuatu yaitu pengetahuan hakikat. Dengan pengetahuan yang mendalam akan mudah baginya dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya, ia tahu bagaimana harus menempatkan dirinya dan bagaiman menilai sesuatu dengan tepat.
Orang yang telah mempelajari filsafat apabila telah mampu berpikir serius, akan mudah menjadi warga Negara yang baik. Mengapa? Karena rahasia Negara terletak pada filsafat Negara itu, filsafat Negara ditaksonomi kedalam undang-undang Negara, karena undang-undang yang mengatur warga Negara. Untuk memahami isi filsafat Negara dapat dengan mudah apabila seseorang telah biasa belajar filsafat. Berikut menurut para ahli tujuan filsafat.
1. Menurut Hornold H. Titus, tujuan filsafat adalah pengertian dan kebiksanaan (understanding and wisdom). Jadi dapat ditarik makna bahwa mempelajari filsafat yaitu untuk bisa berpikir secara radik dan bijaksana.
2. Oemar A. Hoesin mengatakan: ilmu memberi kepada kita pengetahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun tertib akan kebenaran.
3. S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya: filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yang tunggal (yaitu kebenaran).
4. Radakrishman, dalam bukunya , History of Philosophy menyebutkan: tugas filsafat bukan hanya sekedar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru yaitu kebenaran.
5. Soemadi Soejabrata menyatakan bahwa mempelajari filsafat adalah untuk mempertajam pikiran.
6. H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui , namun harus dipraktikkan dalm kehidupan sehari-hari.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan mempelajari filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisika (hakikat keaslian). Manfaat filsafat yang terpenting adalah kemampuannya untuk memperluas bidang-bidang keinsafan kita, untuk menjadi lebih hidup, lebih bergaya, lebih kritis, dan lebih cerdas. Dalam beberapa lapangan pengetahuan spesialisasi terdapat sekelompok fakta yang jelas dan khusus, mahasiswa diberi problema sehingga mereka dapat memperoleh kemampuan untuk mendapatkan jawaban yang cepat dan mudah. Akan tetapi dalam filsafat terdapat pandangan yang berbeda-beda dan harus dipikirkan, dan ada pula problema-problema yang belum terpecahkan tetapi penting bagi kehidupan kita. Dengan begitu maka rasa keheranan si mahasiswa, rasa ingin tahu dan kesukaannya dalam bidang pemikiran akan tetap hidup.
Sebagaimana yang dikatakan oleh para filosof zaman purba, filsafat adalah mencari kebijaksanaan. Kita mengerti bahwa seseorang mungkin memiliki pengetahuan yang banyak tetapi tetap dianggap orang bodoh yang berilmu. Dalam zaman kita yang penuh dengan kekalutan dan ketidakpastian, kita memerlukan ilmu pengarahan (sense of direction). Kebijaksanaan akan memberi kita ilmu tersebut, ia adalah soal nilai-nilai. Kebijaksanaan adalah penanganan yang cerdik terhadap urusan-urusan manusia. Kita merasakan tidak enak dari segi pemikiran jika kita dihadapkan pada pandangan dunia yang terpecah-pecah dan terbaur. Tanpa kesatuan pandangan dan response, jiwa kita akan terbagi, filsafat akan sangat berguna bagi kiata karena ia memberikan kita integrasi dalam membantu kita mengetahui arti dari eksistensi manusia.
Sekurang-kurangnya ada empat manfaat mempelajari filsafat;
1. Agar terlatih berpikir serius
2. Mampu memahami filsafat
3. Mungkin menjadi filsuf
4. Menjadi warga Negara yang baik

2. Objek Meterial dan Objek Formal Filsafat
Objek material adalah sesuatu hal yang dijadikan sasaran pemikiran (Gegenstand), sesuatu hal yang diselediki atau sesuatu hal yang dipelajari. Objek material mecakup apa saja baik hal-hal yang kongkret misalnya manusia, alam, benda, binatang dan sebagainya, bersifat abstrak misalnya ide-ide, nilai-nilai moral pandangan hidup dan sebagainya.
Adapun objek material dari filsafat adalah segala sesuatu yang ada yang meliputi :
? Ada dalam kenyataan
? Ada dalam pikiran
? Ada dalam kemungkinan
Objek formal adalah cara memandang, meninjau yang dilakukan oleh seorang peneliti terhadap objek materialnya serta prinsip-prinsip yang digunakannya, misalnya objek materialnya adalah ‘’manusia’’ maka manusia ini dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia diantaranya: psikologis, antropologi, sosiologi.
Bertalian dengan objek formal dan objek material, ada perbedaan antar filsafat dengan ilmu yang bukan filsafat. Bahkan berbeda antar ilmu yang satu dengan ilmu yang lain, misalnya onjek materialnya berupa pohon kelapa. Seorang ahli ekonomi akan mengarahkan perhatiannya atau meninjau (objek formal) pada aspek ekonomi dari pohon kelapa tersebut (berapa harga buahnya, harga kayunya, harga lidinya kalau dijual). Demikian pula seorang ahli pertanian mempunyai sudut pandang khusus sesuai dengan keahliannya (bagaimana caranya agar pohon kelapa tersebut tumbuh subur, apakah cocok ditanam pada lahan tertentu dsb). Seorang ahli biologi akan mengarahkan perhatianya pada unsur-insur yang terkandung pada seluruh pohon kelapa tersebut (baik unsur batang, daun,maupun buahnya). Seorang ahli hokum akan mempertanyakan status kepemilikan pohon tersebut (siapa pemiliknya sah pohon kelapa tersebut, apakah ditanam dilahanya sendiri atau dilahan sewaan).
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa para ilmuan yang disiplin ilmu tertentu mengarahkan pada salah satu aspek dari objek materialnya. Disiplin ilmu khusus terbatas ruang lingkupnya, artinya bidang sasarannya tidakmencakup bidang lain yang bukan wewenangnya. Inilah yang disebut otoritas dan otonomi keilmuan, yaitu wewenang yang dimiliki seorang ilmuan untuk mengembangan disiplin ilmunya tanpa campur tangan pihak luar. Padahal seringkali ilmu-ilmu khusus menghadapi persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan kemampuan ilmu yang dikuasainya.
Ada sejumlah persoalan fundamental yang mencakup dan melampaui wewenang setiap ilmu khusus. Persoalan-persoalan umum yang ditemukan dalam bidang imu khusus antara lain:
3. Sejauh mana batas-batas ( ruang lingkup) yang menjadi wewenag masing-masing ilmu khusus itu? Dari mana ilmu khusus itu dimulai dan sampai mana harus berhenti?.
4. Di manakah sesungguhnya tempat ilmu-ilmu khusus dalam realitas yang melingkupinya?
5. Metode yang dipakai ilmu-ilmu khusus tersebut berlaku samai di mana? Misalnya metode ilmu yang dipakai berbeda dengan yang dipakai ilmu kealaman maupun maupun ilmu humaniora.
6. Apakah persoalan kualitas (hubungan sebab akibat) yang berlaku dalam ilmu kealaman juga berlaku bagi ilmu-ilmu social maupun ilmu humaniora?
Contoh-contoh tersebut menunjukan bahwa setiap ilmu khusus menjumpai problem-problem yang bersifat umum. Problem-problem tersebut tidak dapat dijawab oleh ilmu itu sendiri hal ini filsafat mengatasi setiap ilmu, baik dalam metode maupun ruangvlingkupnya. Objek formal filsafat terarah pada unsur-unsur yang umum secara pasti ada pada ilmu-ilmu khusus. Dengan tinjauan yang terarah pada unsur-unsur yang umum itu maka filsafat berusaha mencari hubungan diantara bidang-bidang ilmu yang bersangkutan. Aktivitas filsafat yang demikian itu disebut multidispliner.
Filsafat yang memiliki bidang bahasan yang sangat luas yaitu segala sesuatu baik yang bersifat kongkrit maupun abstrak. Pembahasan filsafat yang melipiti segala sesuatu yang bersifat kongkrit seperti manusia, alam, benda binatang dan sebagainya, dan yang bersufat abstak misalnya ide-ide , niali-nilai moral pandangan hidup, dan sebagainya. Adapun persoalan utama yang menjadi objek kajian atau objek material filsafat adalah:
a. Persoalan realita dikaji dalam metafisika
b. Persoalan pengetahuan atau (knowledge) dan kebenaran atau (truth) dikaji dalam Epistimologi, Metodologi, dan Logika
c. Persoalan niali (aksiologi) dikaji dalam Etika, Estetika dan Kebudayaan.
Objek formal filsafat adalah sudut pandang secara menyelruh mengenai hakikat objek materialnya.

3. Cabang-cabang Filsafat
Sebagaimana ilmu lainnya filsafat memiliki cabang-cabang yang berkembang sesuai dengan persoalan filsafat yang dikemukakannya. Filsafat timbul karena adanya persoalan-persoalan yang yang dihadapi manusia. Persoalan-persoalan tersebut kemudian diupayakan pemecahannya oleh para filsuf secara sistematis dan rasional. Maka muncullah cabang-cabang filsafat. Cabang-cabang filsafat tersebut berkembang terus menerus sesuai dengan permikiran dan problema yang dihadapi oleh manusia.
Cabang-cabang filsafat yang tradisional terdiri atas empat yaitu : logika, metafisika, epistemologi dan etika. (Titus, 1984:17). Namun demikian berangsur-angsur berkembang sejalan dengan persoalan yang dihadapi oleh manusia. Maka untuk mempermudah pemahaman kita perlu utarakan cabang-cabang filsafat yang pokok, yaitu:
a. Metafisika
Metafisika semula digunakan untuk menunjukan karya-karya tertentu aristoteles. Istilah “Metafisika” berasal dari bahasa Yunani meta physika, yang berarti hal-hal yang berada sesudah (dibalik) fisika. Istilah tersebut dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang telaah tentang segala sesuatu secara mendalam atau sifat yang terdalam dalam kenyataan (ultimate nature). Bilamana dibandingkan dengan ilmu fisika yaitu yang mempelajari gejala-gejala benda fisik, ilmu biologi yang mempelajari gejala fisis makhluk hidup. Maka metafisik mempelajari dan membahas tentang keberadaan segala sesuatu benda fisis dari segi hakikatnya yang terdalam.
Metafisika dibagi menjadi dua cabang yaitu: ontologi dan kosmologi. Ontologi membahas tentang sifat dasar dari kenyataan yang terdalam. Dengan lain perkataan ontologi membahas asas-asas rasional dari kenyataan (Kattsoff, 2004: 76). (Ali Mudhofir, 1985:29). Adapun kosmologi membahas tentang hakikat alam semesta sebagai suatu sistem yang teratur.
Peroalan-persoalan metafisika dapat dirinci menjadi tiga macam persoalan yaitu:
a. Ontologi: misalnya apakah artinya hal yang ada (being)? apakah sifat dasar dari hal ada? bagaimana penggolongan dari hal ada?
b. Kosmologi: misalnya, apakah ruang itu? apakah waktu itu? apakah jenis tata tertib yang ada dalam alam semesta itu? dan lain sebagainya.
c. Antropologi: misalnya apa hakikat hubungan badan dan jiwa tersebut? manusia itu bersifat bebas ataukah tidak bebas ? bagaimanakah hakikat perbedaan mahluk manusia dengan mahluk hidup lainnya.
Cabang metafisika menimbulkan aliran-aliran filsafat sebagai berikut:
• Segi Kuantitas
Dipandang dari kwantitas yaitu berupa banyak susunan kenyataan yang sedalam-dalamnya tersebut, maka timbul aliran-aliran filsafat antara lain:
b. Monoisme
Monoisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa hanya ada satu kenyataan yang terdalam (yang fundamental). Kenyataan tersebut dapat berupa jiwa, materi, Tuhan atau substansi lainnya yang tidak dapat diketahui :
Tokoh-tokoh aliran Monoisme antara lain :
Thales (625-545), yang menyatakan bahwa kenyataan yang terdalam adalah substansi yaitu: air.
Aniximander (610-647), yang menyatakan bahwa yang merupakan kenyataan yang terdalam adalah apeiron. Apeiron yaitu sesuatu hal yang tanpa terbatas, tak dapat ditentukan, dan tidak mempunyai persamaan dengan salah satu benda di dunia.
Anaximenes (585-528 SM), yang menyatakan bahwa yang merupakan unsur kenyataan yang sedalam-dalamnya adalah udara.
c. Dualisme
Dualisme atau (serba dua) yaitu aliran yang menyatakan adanya dua substansi pokok yang masing-masing pokok berdiri sendiri-sendiri.
Tokoh-tokoh aliran dualisme antara lain adalah :
Plato (428-328 SM), membedakan dua dunia yaitu indra dan dua intelek.
Rene Descrates (1596-1650), yang membedakan adanya substansi pemikiran dan substansi perluasan.
Leibniz (1646-1717), yang membedakan adanya dua dunia, yaitu dunis sesungguhnya dan dunia yang mungkin.
Immanuel Kant (1724-1804), yang membedakan adanya dunia hakiki (noumena) dan dunia gejala (phenomena).
d. Pluralisme
Pluralisme adatau (serba ganda), yaitu aliran filsafat yang tidak mengakui adanya satu substansi atau hanya dua substansi melainkan mengakui adanya banyak substansi.
Tokoh-tokoh aliran Pluralisme antara lain adalah:
Empekdokles (490-430 SM), yang menyatakan bahwa hakikat kenyataan terdiri atas empat unsur yaitu : uadara, api, air dan tanah.
Anaxagaros (500-428 SM), yang menyatakan bahwa hakikat kenyataan terdiri atas unsur-unsur yang tidak terhingga (tidak terhitung banyaknya), sejumlah sifat benda dan semuanya itu dikuasai oleh satu mous (yaitu zat yang paling halus yang memiliki sifat pandai bergerak dan mengatur).

4. Dari Segi Kualitas
Dipandang dari segi kualitasnya yaitu dipandang dari segi sifatnya, maka terdapat beberapa aliran filsafat sebagai berikut:
1. Spiritualisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa kenyataan yang terdalam dalam alam semesta adalah roh.
2. Apakah watak dari pengetahuan? adakah dunia yang real di luar akal dan kalau ada dapatkah kita mengetahui ? ini problema penampilan (appearrance) terhadap realita.
3. Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? bagaimana kita membedakan kebenaran dan kekeliruan? ini adalah problema menguji kebenaran (verification) (Titus, 1984 :20-21).
Aliran-aliran dalam bidang pengetahuan yaitu sebagai berikut:
a. Rasionalisme
Aliran yang berpendapat bahwa semua pengetahuan bersumber pada pikiran atau rasio. Tokohnya antara lain Rene Descartes (1959-1650).
b. Empirisme
Empirisme adalah aliran yang berpendirian bahwa pengetahuan manusia diperoleh melalui pengalaman indera. Indera memperoleh pengalaman (kesan-kesan) dari alam empiris, selanjutnya kesan-kesan tersebut terkumpul dalam diri manusia sehingga menjadi pengalaman.
Tokoh-tokoh Empirisme antara lain adalah:
John Locke (1632-1704), menurut pengalaman dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu : (a) pengalaman luar (sensation), yaitu pengalaman yang diperoleh dari luar dan (b) pengalaman dalam (batin) (reflextion). Kedua pengalaman tersebut merupakan ide-ide yang sederhana, hanya kemudian dengan proses asosiasi membantu ide yang lebih kompleks (Harun Hadiwijono, Ali Mudhofir : 48).
David Hume (1711-1776), yang meneruskan tradisi empirisme. Hume berpendapat bahwa, ide-ide yang sederhana adalah salinan (copy) dari sensasi-sensasi sederhana atau ide-ide yang kompleks dibentuk dari kombinasi ide-ide sederhana atau eksan-eksan yang kompleks.
Aliran kemudian berkembang dan memiliki pengaruh sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan terutama pada abad 19 dan 20.
c. Realisme
Realisme yaitu aliran filsafat yang menyatakan bahwa obyek-obyek yang kita serap lewat indera adalah nyata dalam diri obyek tersebut. Obyek-obyek tersebut tidak tergantung pada subyek yang mengetahui atau tidak tergantung pada pikiran subyek. Pikiran dan dunia luar saling berinteraksi, interaksi tersebut mempengaruhi sifat dasar manusia tersebut. Dunia telah ada sebelum pikiran menyadari serta akan tetap ada setelah pikiran berhenti menyadari.
Tokoh-tokoh aliran realisme antara lain adalah:
Aristoteles (382-322 SM), menurut Aristoteles realitas berada dalam benda-benda kongkrit atau dalam proses-proses perkembangannya. Dunia yang nyata adalah dunia yang kita cerap. Bentuk (form) atau ide atau prinsip keteraturan dan material tidak dapat dipisahkan. Kemudian aliran realisme berkembang terus dan kemudian berkembanglah aliran realisme baru, yang tokoh-tokohnya adalah: Goerge Edward Moore, Bertrand Russel, sebagai reaksi terhadap aliran idealisme, subjectivisme dan absulutisme. Menurut realisme baru bahwa eksistensi obyek tidak tergantung pada diketahuinya obyek tersebut (kattsoff, 1968 : 110, Ali Mudhofir, 1985:49).
d. Kritisisme
Kritisisme yang menyatakan bahwa akal menerima bahan-bahan pengetahuan dari empiri (yang meliputi indera dan pengalaman). Kemudian akal menempatkan, mengatur dan menerbitkan dalam bentuk pengamatan yakni ruang dan waktu. Pengamatan merupakan permulaan pengetahuan sedangkan pengolahan akal merupakan pembentukannya.
Tokoh-tokoh adalah Immanule Kant (1724-1804). Aliran Kritisisme Kant ini nampaknya mensintesakan antara rasionalisme dan empirisme (Ali Modhofir, 1985 :52).
e. Positivisme
Posistivisme dengan tokohnya August Comteyang memiliki pandangan sebagai berikut: Sejarah perkembanggannya pemikiran umat manusia dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap:
Tahap pertama: Tahap Theologis, yaitu manusia masih percaya dengan pengetahuan dan pengenalan yang mutlak, manusia pada tahap ini masih dikuasai oleh takhyu-takhyul, sehingga subyek dan obyek tak bisa dibedakan.
Tahap dua: Tahap Metafisis, yaitu pemikiran manusia berusaha memahami dan memikirkan kenyataan, akan tetapi belum mampu membuktikan dengan fakta.
Tahap ketiga: Tahap Positiv yang ditandai dengan pemikiran manusia untuk menemukan hukum-hukum dan saling berhubungan lewat fakta. Maka pada tahap inilah pengetahuan manusia adapat berkembang dan dibuktikan lewat fakta. (Harun Hadiwijono, 1983:100, dibandingkan dengan Ali Mudhofir, 1985:52).
f. Skeptisisme
Skeptisisme, yang menyatakan bahwa pencerapan indera adalah bersifat menipu atau menyesatkan. Namun pada zaman modern berkembang menjadi skptisisme metodis (sistematis) yang mensyaratkan adanya bukti sebelum suatu pengetahuan diakui benar. Tokoh-tokohnya adalah Rene Descrates (1959-1650).
g. Pragmatisme
Pragmatisme, aliran ini tidak mempersoalkan tentang hakikat pengetahuan, namun mempertanyakan tentang pengetahuan dengan manfaat atau guna dari pengetahuan tersebut. Dengan lain perkataan kebenaran pengetahuan hendaklah dikaitkan dengan mafaat dan sebagai sarana baik suatu perbuatan. Tokoh-tokoh aliran pragmatisme antara lain : C.S. Pierce (1839-1914), yang menyatakan bahwa yang terpenting adalah manfaat apa (pengaruh apa) yang dapat dilakukan suatu pengetahuan dalam suatu rencana.

Pengetahuan kita mengenai sesuatu hal tidak lain merupakan gambaran yang kita peroleh mengenai akibat yang dapat kita saksikan (Ali Mudhofir, 1985 : 53). Tokoh yang lainnya adalah William James (1824-1910), yang menyatakan bahwa ukuran kebenaran sesuatu hal adalah ditentukan oleh akibat praktiknya.
1. Metodologi
Cabang filsafat tentang metodologi adalah membahas tentang metode terutama dalam kaitannya dengan metode ilmiah. Hal ini sangat penting dalam ilmu pengetahuan terutama dalam proses perkembangannya. Mislnya metode ilmiah, dan ilmu sejarah dalam ilmu sosiologi, dalam ilmu ekonomi dan lain sebagainya. Metodologi membicarakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan ilmiah misalnya sifat observasi, hipotesis, hukum, teori, susunan eksperimen dan lain sebagainya (Kattsoff, 1986: 73). Metode, menurut Senn (dalam Suriasumantri, 1984: 119) merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Sedangkan Metodologi merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan dalam metode tersebut (Senn, 1971 : 4, dalam Suriasumantri, 1984 : 119). Jadi Metodologi Ilmiah merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan dalam metode tersebut, atau pengetahuan tenang berbagai metode yang dipergunakan dalam penelitian, dengan kata lain, Metodologi merupakan sebuah kerangka konseptual dari metode tersebut. Metodologi meletakkan prosedur yang harus dipakai pada pembentukan atau pengetesan proposisi-proposisi oleh para ilmuwan yang ingin mendapatkan pengetahuan yang valid (dalam Triatmojo). Dengan demikian, Metodologi juga menyentuh bahasan tantang aspek filosofis yang menjadi pijakan penerapan suatu metode. Aspek filosofis yang menjadi pijakan metode tersebut terdapat dalam wilayah Epistemologi. Metodologi secara filsafati termasuk dalam Epistemologi.
Dapat dijelaskan urutan-urutan secara struktural-teoritis antara Epistemologi, Metodologi dan metode seperti yang diungkapkan oleh Kusumaningrum, dkk (2009 : 6) sebagai berikut: Dari Epistemologi, dilanjutkan dengan merinci pada Metodologi, yang biasanya terfokus pada metode atau teknik. Epistemologi itu sendiri adalah sub-sistem dari Filsafat, maka metode sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari Filsafat. Filsafat mencakup bahasan Epistemologi, Epistemologi mencakup bahasan Metodologis, dan dari Metodologi itulah akhirnya diperoleh metode. Jadi, metode merupakan perwujudan dari Metodologi, sedangkan Metodologi merupakan salah satu aspek yang tercakup dalam Epistemologi. Adapun Epistemologi merupakan bagian dari Filsafat. Adapun jenis-jenis Metodologi penelitian diantaranya adalah Riset Non-Eksperimental, Riset Eksperimental, Studi Kasus, Grounded Research, Riset Fenomenologi, Riset Etnografik, Riset Naturalistik, Strukturalisme-Linguistik, Strukturalisme-Semiotik, Marxisme-Kontekstual, dan lain sebagainya.
2. Logika
Logika adalah ilmu yang mempelajari pengkajian yang sistematis tentang aturan-aturan untuk menguatkan sebab-sebab mengenai kesimpulan (Titus, 1984:18), logika pada hakikatnya mempelajari teknik-teknik untuk memperoleh kesimpulan dari bahan-bahan tertentu, atau dari suatu premis-premis tertentu. Logika disebut juga sebagai ilmu tentang penarikan kesimpulan yang benar (Kattsoff, 1985 : 72). Logika dibagi menjadi dua macam yaitu logika deduktif dan logika induktif. Logika deduktif berusaha untuk menemukan suatu aturan-aturan yang dapat dipergunakan untuk menarik suatu kesimpulan yang bersifat keharusan dari presmi-premis tertentu.
Jika kita mengatakan bahwa a’ termasuk b, dan b termasuk c’ maka bila mana kita mengetahui susunan tanda tersebut ‘a termasuk ‘c. maka kesimpulan ‘a termasuk ‘c terjadi karena keharusan tanpa memperhatikan apakah yang diwakili oleh a, b maupun c.
Logika induktif, mencoba untuk menarik suatu kesimpulan dan fisat-sifat seperangkat bahan yang diamati. Hal itu dapat diperhatikan dalam ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
b. Dari suatu perangkat fakta yang diamati secara khusus menuju kepada suatu pernyataan yang bersifat umum, mengenai semua fakta bercorak demikian.
c. Dari suatu seperangkat akibat tertentu menuju kepada sebab dari akibat-akibat tersebut. Hal ini dapat dilihat dan diamati pada proses bekerjanya ilmu pengetahuan adalah dalam menemukan dalil-dalil, aksioma-aksioma, mapun prinsip-prinsip tertentu dalam suatu ilmu terutama ilmu-ilmu alam.
Dalam cabang filsafat tentang logika nampaknya kurang membicarakan tentang aliran-aliran filsafat. Oleh karena itu kiranya cukup tentang pengertian tentang logika sebagai suatu cabang filsafat.
3. Etika
Etika juga disebut filsafat moral yang membahas tentang moralitas. Etika membicarakan tentang pertimbangan-pertimbangan tentang tindakan-tindakan baik dan buruk, susila atau tidak susila, etis dan tidak etis dalam hubungan antara manusia. Etika dapat dikelompokkan menjadi tiga macam.
a. Etika Deskriptif: yaitu berusaha menjelaskan pengalaman moral dengan cara deskriptif. Misalnya pertimbangan tentang nilai, pertimbangan tentang kebaikan dan keburukan, susila dan tidak susila dalam kaitannya dengan tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan manusia lain.
b. Etika Normatif: yaitu membahas tentang pertimbangan yang dapat diterima tentang apa yang harus ada dalampilihan dan penilaian. Keharusan moral merupakan masalah pokok (moral ought). Pertimbangan tentang kewajiban dan keharusan melakukan tindakan tertentu.
c. Metaetika: yang menekankan pada analisis, istilah, bahasa yang dipakai untuk membenarkan tindakan-tindakan dan pertanyaan-pertanyaan etika. Misalnya ‘apakah arti baik itu?’. apakah penilaia moral dapat dibenarkan? dan lain sebagainya. (Titus, 1984 : 21,22).
Aliran-aliran dalam bidang etika adalah sebagai berikut :
Idealisme, suatu sistem moral dapat disebut Idealisme Etis, antara lain mengakui hal-hal sebagai berikut:
- Adanya suatu nilai-nilai, asas-asas moral, aturan-aturan bertindak
- Lebih mengutamakan kebebasan moral dari pada ketentuan-ketentuan kejiwaan
- Lebih mengutamakan hal yang umum dari pada hal yang khusus.
Tokoh-tokoh idealisme Imanuel Kant (1724-1804). Aliran-aliran etika adalah:
a) Etika Teleologi, yang menyatakan baik dan buruknya tindakan ditentukan oleh tujuan atau yang bermaksud baik secara langsung maupun tidak langsung. Yang termasuk etika teleologi adalah Utilitarisme.
b) Hedonisme, aliran ini menyatakan bahwa kebahagiaan yang didasarkan pada suatu kenikmatan (pleasure), adalah merupakan suatu tujuan dari tindakan manusia. Oleh karena itu tindakan manusia ukuran baik dan buruk, etis dan tidak etis, senantiasa didasarkan pada suatu tujuan kenikmatan manusia. Kama suatu tindakan yang bertujuan pada kenikmatan manusia adalah baik. Aliran ini dalam akhir abad 18 dihidupkan oleh Jeremy Bentham.
c) Utilitarisme: aliran ini menyatakan bahwa tindakan yang baik adalah tindakan yang menibulkan jumlah yang sebanyak-banyaknya kenikmatan atau kebahagiaan dalam dunia (ini disebut asas kegunaan. Principle of utility). Aliran ini dikembangkan oleh Bentham dan Mill bersaudara. Namun akhir-akhir ini khususnya di Inggris aliran ini berkembang, dan memberikan pandangan bahwa tindakan yang baik adalah tindakan yang benar-benar (mungkin) menghasilkan sebanyak-banyaknya kebiakan intrinsik baik secara langsung maupun tidak langsung.
d) Deontologis : aliran ini menyatakan kebaikan dan keburukan dan seterusnya diuraikan tidak dari manfaat atau hasilnya yang dapat dinilai tentang semata-mata dari taat atau berlakunya pada peraturan .
4. Estetika
Estetika adalah cabang ilmu filsafat yang membahas tentang keindahan. Estetika membicarakan tentang definisi, susunan, dan peranan keindahan terutama dalam seni (kattsoff, 1986 :81). Kata “estetika” berasal dari bahasa Yunani “aesthetikaos”, yang artinya bertalian dengan pencerapan (penginderaan). Masalah-masalah istetika antara lain, apakah fungsi keindahan dalam hidup kita apakah hidup itu? apakah hubungan antara yang indah dengan yang baik dan lain sebagainya.
Selain itu pada perkembangan berikutnya filsafat berkembang sesuai dengan perkembangan peradaban manusia, ilmu pengetahuan dan teknologinya. Maka muncullah cabang-cabang filsafat yang beru seringkali diistilahkan dengan filsafat khusus yang antara lain sebagai berikut:
1) Filsafat Hukum
Yaitu membahas tentang hakikat hukum
2) Falsafat Bahasa
Yaitu membahas tentang hakikat bahasa
3) Filsafat Sosial
Yaitu membahas tentang hakikat hubungan (interaksi manusia dalam masyarakat).
4) Filsafat Ilmu
Yaitu membahas tentang hakikat ilmu pengetahuan
5) Filsafat Politik
Yaitu membahas tentang hakikat tentang masyarakat dan negara dengan segala aspeknya
6) Filsafat Kebudayaan
Yaitu membahas tentang hakikat kebudayaan
7) Filsafat Pendidikan
Yaitu membahas tentang hakikat hubungan manusia dengan pendidikan, dan masih banyak lagi cabang filsafat khusus yang lainnya.

5. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan
Dalam memahami pengertian filsafat dan perbedaannya dengan ilmu pengetahuan yang lainnya, kattsoff melukiskannya dengan kalimat yang sederhana, bahwa Filsafat “bukanlah membuat roti”. Analog ini sebenarnya memberikan gambara pengertian kepada kita bahwa sebenarnya ilmu filsafat adalah bukan suatu ilmu praktis, bukan ilmu terapan seperti ilmu membuat mesin pesawat terbang, sepeda motor, dan lain sebagainya. Selain itu dalam kehidupan ilmiah banyak terjadi kesalah pengertian tentang ilmu pengetahuan yaitu yang disamakan dengan pengertian sains. Hal ini kiranya kurang tepat sebab kalau demikian halnya maka berarti ilmu-ilmu yang lainnya seperti ilmu sosial, ilmu bahasa, ilmu ekonomi, ilmu sasta dan lainnya apakah bukan merupakan ilmu.
Terdapat berbagai macam istilah yang diutarakan oleh para ilmuan namun lazimnya dalam memberikan pengertian tentang ilmu pengetahuan adalah sesuai dengan bidangnya sendiri-sendiri. Dengan demikian semua ilmu pengetahuan memiliki ciri–ciri yang umum yaitu memiliki : pertama obyek, kedua metode, ketiga sistematis dan keempat kriteria kebenaran. Dengan demikian perlu dibedakan penertian filsafat dan ilmu filsafat. Hal ini analog dengan pegertian sastra dan ilmu sastra.
Namun demikian terdapat suatu perbedaan yang prinsipal diantara ilmu filsafat dengan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Ilmu filsafat bersifat refleksi yaitu membahas dan mempertanyakan obyek termasuk filsafat (ilmu filsafat itu sendiri), adapun ilmu-ilmu yang lainnya membahas obyek ilmu tersebut namun tidak pernah mempertanyakan dirinya sendiri, bahkan dalam perkembangan semua prinsip ilmu termasuk prinsip metodis adalah lewat filsafat. Maka terdapat perbedaan yang khas yaitu ilmu filsafat bersifat refleksi adapun ilmu pengetahuan lainnya tidak bersifat refleksi.
Selain itu masih terdapat berbagai macam perbedaan dan persamaan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal ini antara lain dapat dirinci sebagai berikut:
Persamaan:
a. Baik ilmu meupun filsafat keduanya merupakan pengetahuan manusia
b. Baik ilmu maupun filsafat keduanya berpangkal pada akal manusia untuk mencari kebenaran.
c. Filsafat sebagai satu ilmu dengan ilmu pengetahuan keduanya memiliki syarat-syarat ilmiah.
d. Baik ilmu maupun filsafat keduanya merupakan suatu sistem pengetahuan manusia yang bersifat rasional.
Perbedaan:
a. Filsafat merupakan induk pengetahuan. Maka pertumbuhan dan perkembangan ilmu sangat ditentukan oleh filsafat, prinsip metodenya, aksioma maupun dalil-dalil yang diturunkan pada ilmu dikembangkan oleh filsafat ; adapun ilmu tidak membahas tentang prinsip metode serta dalalnya sendiri.
b. Filsafat bersifat refleksi yaitu mempertanyakan dan membahas tentang obyek termasuk filsafat itu sendiri, adapun ilmu pengetahuan tidak bersifat refleksi.
c. Filsafat membahas segala sesuatu cara menyeluruhdan universal sedangkan ilmu hanya membahas pada gejala-gejala yang sangat khusus dan dari sudut pembahasan yang khusus pula.
d. Filsafat bersifat spekulatif, artinya mengajukan dugaan-dugaan yang rasional yang melampaui batas-batas fakta. Spekulasi dilakukan dengan cara penyatupaduan dari semua pengetahuan, pemikiran dan pengalaman manusia menjadi satu pandangan yang komprehensif. Adapun ilmu pengetahuan hanya mejelaskan fakta, mendeskripsikan fakta dengan segala hubungannya.
e. Ilmu hanya menjelaskan fakta terutama fakta empiris, sedangkan filsafat memahami, menginterpretasikan dan menafsirkan fakta secara rasional.
f. Filsafat membahas obyek secara menyeluruh baik meliputi gejala empiris maupun non empiris, adapun ilmu hanya menerangkan gejala-gejala empiris saja dan bersifat khusus.
Selain persamaan dan perbedaan tersebut ilmu pengetahuan filsafat terdapat saling hubungan yang tidak mungkin dapat dipisahkan yaitu filsafat merupakan induk ilmu pengetahuan. Hal ini berarti segala prinsip-prinsip yang dimiliki oleh ilmu pengetahuan sangat ditentukan oleh filsafat. Konsekuensinya setiap perkembangan ilmu pengetahuan yang menyangkut masalah metode-metode, aksioma, dalil, obyek ilmu dan semua landasan epistomologisnya sangat diten-tukan oleh filsafat. Jadi ilmu pengetahuan tidak mungkin dapat berkembang tanpa melewati proses filosofis yaitu filsafat ilmu pengetahuan.

Kesimpulan/Intisari
Filasafat adalah pemikiran secara radikal, sistematis, dan universal untuk mencapai hakikat kebenaran segala sesuatu yang ada. Orang yang telah mempelajari filsafat apabila telah mampu berpikir serius, akan mudah menjadi warga Negara yang baik. Manfaat filsafat yang terpenting adalah kemampuannya untuk memperluas bidang-bidang keinsafan kita, untuk menjadi lebih hidup, lebih bergaya, lebih kritis, dan lebih cerdas.
Objek material mecakup apa saja baik hal-hal yang kongkret misalnya manusia, alam, benda, binatang dan sebagainya, bersifat abstrak misalnya ide-ide, nilai-nilai moral pandangan hidup dan sebagainya.
Cabang-cabang filsafat yaitu metafisika, metodologi, logika, etika, dan estetika. Filsafat dan ilmu pengetahuan adalalah Filsafat itu erat hubungannya dengan pengetahuan biasa, tetapi mengatasinya karena dilakukan dengan cara ilmiah dan mempertanggungjawabkan jawaban-jawaban yang diberikannya.
Filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempunyai sifat-sifat ilmu pengetahuan tapi. Akan tetapi jelaslah bahwa filsafat tidak termasuk ruangan ilmu pengetahuan yang khusus. Filsafat boleh dikatakan suatu ilmu pengetahuan, tetapi obyeknya tidak terbatas, jadi mengatasi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya merupakan bentuk ilmu pengetahuan yang tersendiri, tingkatan pengetahuan tersendiri.

Last modified: Monday, 20 July 2020, 9:29 PM