Pembelajaran 2.1

Setelah mempelajari Modul 2 pembelajaran 2.1 ini, mahasiswa diharapkan dapat:
1. Menjelaskan pengertian pendidikan
2. Menjelaskan tujuan pendidikan

A. Pengertian dan Tujuan Pendidikan
1. Pengertian Pendidikan
Banyaknya definisi tentang pendidikan dari para ahli yang satu dengan ahli yang lain terkadang memberi definisi yang berbeda tentang pendidikan. Hal ini dipengaruhi oleh disiplin ilmu dan pengalaman masing-masing para ahli walaupun demikian semua definisi pendidikan terdapat titik temu satu dengan yang lain. Berikut ini diuraikan beberapa definisi tentang pendidikan antara lain:
Istilah pendidikan dalam bahasa Inggris “education”, berakar dari bahasa Latin “educare” yang dapat diartikan pembimbingan berkelanjutan (to lead forth). Keberadaan pendidikan dengan demikian berlangsung dari generasi ke generasi sepanjang eksistensi kehidupan manusia (Suparlan, 2007: 77). Pendidikan dalam arti luas, baik yang formal maupun yang informal, meliputi segala hal yang memperluas pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri dan dunia tempat mereka hidup. Pendidikan merupakan proses membimbing manusia dari kegelapan dan kebodohan menuju kecerahan pengetahuan (Dagun, 2006: 812).
Istilah pendidikan ditinjau dari segi makna, terbagi atas dua makna pendidikan yaitu makna dasar dan teknis. Makna dasar pendidikan merujuk pada suatu tindakan atau pengalaman yang memiliki pengaruh normatif pada pikiran, sifat, atau kemampuan fisik seorang individu. Oleh karena itu, pendidikan dikatakan bersifat mendasar karena mampu mempengaruhi dan membentuk pemikiran serta sikap seseorang, sesuai dengan materi dan tujuan pendidikan yang telah diperolehnya. Pendidikan dalam hal ini tidak pernah berakhir karena manusia belajar dari pengalaman yang diperoleh melalui kehidupannya.
W.J.S. Poerwadarminta, menjelaskan bahwa pendidikan berasal dari kata dasar didik dan diberi awalan men, menjadi mendidik yang berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran). Pendidikan sebagai kata benda ynag berarti proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usahanya mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Pendidikan yaitu pendewasaan diri melalui pengajaran dan latihan.
Menurut Lodge (1990) dalam bukunya yang berjudul ‘’Philosophy of education’’ perkataan pendidikan dalam arti luas dan sempit. Pengertian yang luas adalah semua pengalaman itu adalah pendidikan. Seorang anak mendidik orang tuanya seperti pula halnya seorang mendidik gurunya. Segala sesuatu yang kita katakan, pikirkan atau kerjakan tidak berebeda dengan apa yang dikatakan atau dilakukan sesuatu kepada kita, baik dari benda-benda hidup maupun mati. Dalam pengertian yang lebih luas ini pendidikan adalah kehidupan.
Pendidikan dalam arti luas mengandung bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung dalam suatu lembaga pendidikan yang disebut sekolah. Akan tetapi berlangsung dalam setiap ruang kehidupan manusia dan dalam sector pembangaunan. Pendidikan sebagai pengalaman belajar mempunyai bentuk, suasana, dan pola beragam. Pendidikan dapat berupa pengalaman belajar yang terentang dalam bentuk-bentuk yang terjadi dengan sendirinya dalam hidup yang kehadirannya tidak disengaja berlangsung dalam sendirinya dengan dialaminya secara misterius sampai dengan bentuk-bentuk disengaja direkayasa secara terprogram (Mudyardjo, 2002: 46). Jadi dapat dikatakan pendidikan dalam arti luas pada dasarnya mencakup seluruh peristiwa pendidikan mulai dari peristiwa yang dirancang secara terprogram hingga pendidikan berlangsung secara alami.
Dalam arti yang lebih sempit bahwa pendidikan dibatasi dengan fungsi tertentu. Di dalam masyarakat yang terdiri dari adat istiadat (tradisi) dengan latar belakang sosialnya, pandangan hidup masyarakat pada generasi berikutnya. Pendidikan ini identic dengan sekolah. Sekolah adalah lembaga pendidikan yang terekayasa secara terprogram dan sistematis dengan segala aturan yang kaku. Dalam arti sempit pendidikan tidaklah berlangsung seumur hidup tetapi berlangsung dalam jangka waktu yang terbatas. Masa pendidikan adalah masa sekolah dan keseluruhannya mencakup masa belajar mualai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Dalam arti sempit pendidikan tidak berlangsung dimanapun dalam lingkungan hidup tetapi ditempat tertentu yang telah ditentukan dan direkayasa untuk berlangsungnya pendidikan (Mudyardjo, 2002: 50). Seluruh tata cara belajar diatur secara ketat sehingga tidak memberikan peluang dan akses pada seluruh penduduk yang memerlukan layanan pendidikan.
Definisi pendidikan menurut undang- undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, mendefinisikan pendidikan sebagai berikut ‘’pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan pembeljaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara’’ .
Dari beberapa definisi diatas kami memfokuskan definisi pendidikan sebagai berikut . pendidikan merupakan suatu proses interaksi manusia dengan lingkungan yang berlangsung secara sadar dan terencana dalam rangka mengembangkan potensinya, baik jasmani maupun rohani yang menimbulkan perubahan positif dan kemajuan, baik kognitif, afektif maupun psikomotorik. Yang beralangsung secara terus menerus guna mencapai tujuan hidupnya. Berdasarkan rumusan tersebut pendidikan bisa dipahami sebagai proses dan hasil. Sebagai proses pendidikan merupakan serangkaian kegiatan interkasi manusia dengan ingkungannya yang dilakukan secara sengaja dan terus menerus. Sedang sebagai hasil pendidikan menunjuk pada hasil interaksi manusia dengan lingkungan berupa perubahan dan meningkatkan kognitif, afektif dan psikomotorik.

2. Tujuan Pendidikan
Proses pendidikan terjadi dengan proses yang beragam., masing-masing negara memiliki tujuan yang ingin dicapai. Perbedaan tujuan pendidikan diberbagai negar atau bangsa anata lain latar belakang social budaya, system politik yang berkembang dan potensi alam masing-masing Negara atau wilayah ini berarati tujuan pendidikan tidak seragam, tetapi sesuai dengan persoalan kebutuhan atau tuntutan dan cita-cita setiap Negara atau masyarakat yang bersangkutan. Tujuan pendidikan antar kelompok atau antar daerah, antar para ahli yang satu dengan yang lain dapat memiliki konsep pendidikan yang berbeda namun demikian ada unsur-unsur kesamaan.
a. Tujuan pendidikan akan menetukan kearah mana anak didik akan dibawa. Disamping itu pendidikan itu berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia (Moh.Ghufron, 2016: 28-29) bahwa tujuan pendidikan secara umum dapat dilihat sebagai berikut:
b. Tujuan pendidikan dalam UU No. 2 Tahun 1985 yaitu, mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya yaitu yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta memiliki tanggung jawab pada masyarakat dan bangsa.
c. Tujuan pendidikan nasional menurut Tap MPR No. II/MPR/1993 yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja professional, serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotic dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiaan social serta kesadaran pada sejararah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan serta berorientasi masa depan.
d. Tap MPR No. 4/MPR/1975 tujuan pendidikan adalah membangun dibidang pendidikan didasarkan atas falsafah Negara pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia pembangunan dan membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat mengembangkan kreatifitas dan tanggung jawab dapat menyuburkan sikap kritis dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur mencintai bangsannya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan UUD Tahun 1945.
Tujuan pendidikan menurut Danim (2001: 40) mengemukakan bahwa pendidikan memiliki beberapa tujuan sebagai berikut:
a. Mengoptimalkan potensi kognitif, afektif dan psikomotor yang dimilki oleh siswa.
b. Mewariskan nilai-nilai budaya dari generasi kegenerasi untuk menghindari sedapat mungkin anak-anak tercabut dari akar budaya dan kehidupan berbangsa dan bernegara
c. Mengembangkan daya adaptasi siswa untuk menghadapi situasi masa dpan yang terus berubah, baik intensitas maupun persayaratan yang diperlukan sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
d. Meningkatkan dan mengembangkan tanggung jawab moral siswa berupa kemmpuan untuk membedakan mana yang benar mana yang salah dengan keyakinan untuk menegakkannya
e. Mendorong dan membantu siswa mengembangkan sikap bertanggung jawab terghadap kehidupan pribadi dan sosialnya, serta memberikan kontribusi dalam aneka bentuk secara leluasa kepada masyarakat.
f. Mendorong dan membantu siswa memahami hubungan yang seimbang antara hokum dan kebebasan pribadi
Berdasarkan uraian diatas kami memiliki pandangan bahwa tujuan pendidikan secara umum adalah mengembangkan segala potensi bawaan manusia secara integral, simultan, dan berkelanjutan agar manusia mampu melaksanakan tugas dan kewajiban dalam kehidupan guna mencapai kebahagian dimasa sekarang dan masa yang akan datang.
Kesimpulan/Intisari
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan. Objek filsafat, objek itu dapat berwujud suatu barang atau dapat juga subjek itu sendiri contohnya si aku berfikir tentang diriku sendiri maka objeknya adalah subjek itu sendiri. Objek filsafat dapat dibedakan atas 2 hal:
1. Objek material adalah segala sesuatu atau realita, ada yang harus ada dan ada yang tidak harus ada
2. Objek formal adalah bersifat mengasaskan atau berprinsip dan oleh karena mengasas, maka filsafat itu mengkonstatis prinsip-prinsip kebenaran dan tidak kebenaran
Filsafat pendidikan dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Filsafat mempuyai objek lebih luas, sifatnya universal. Sedangkan filsafat pendidikan objeknya terbatas dalam dunia filsafat pendidikan saja
2. Filsafat hendak memberikan pengetahuan/pendiidkan atau pemahaman yang lebih mendalam dan menunjukkan sebab-sebab, tetapi yang tak begitu mendalam
3. Filsafat memberikan sintesis kepada filsafat pendidikan yang khusus, mempersatukan dan mengkoordinasikannya
4. Lapangan filsafat mungkin sama dengan lapangan filsafat pendidikan tetapi sudut pandangannya berlainan
Dalam menerapkan filsafat pendidikan, seoran guru sebagai pendidik mengharapkan dan mempunyai hak bahwa ahli-ahli filsafat pendidikan menunjukkan dirinya pada masalah pendiidkan pada umumnya serta bagaimna amasalah itu mengganggu pada penyekolahan yang menyangkut masalah perumusan tujuan, kurikulum, organisasi sekolah dan sebagainya. Para pendidik juga mengaharapkan dari ahli filsafat pendidikan suatu klasifikasi dari uraian lebih lanjut dari konsep, argumen dirinya literatur pendidikan terutama dalam kotroversi pendidikan sistem-sistem, pengajuan kopetensi minimal dan kesamaan kesepakatan pendidikan.

Last modified: Monday, 20 July 2020, 9:55 PM