Pembelajaran 3.1

Setelah mempelajari modul 3 pembelajaran 3.1 ini, mahasiswa diharapkan dapat:

  1. Menjelaskan pentingnya pendidikan
  2. Menjelaskan Illmu pendidikan sebagai teori
  3. Menjelaskan pendidikan dalam ruang lingkup mikro dan makro
  4. Menjelaskan pendidikan teoretis dan praktis
  5. Mengetahui pendekatan-pendekatan dalam teori pendidikan

1. Pentingnya Pendidikan
a. Manusia Memerlukan Bantuan
Manusia tidak saja hidup sebagai individu yang mempunyai kebebasan dan hak-haknya sebagai individu, namun manusia hidup pula dalam ikatan kerja sama dengan sesama manusia yang disebut kehidupan bermasyarakat. Masyarakat sebagai kolektifitas mengalami pendidikan. Manusia tidak dapat seluruhnya bergantung pada insting semata, banyak segi kehidupan yang perlu diperjuangkan dan dikuasai dengan belajar dan berusaha.
Pendidikan tidak saja berusaha melimpahkan segala milik kebudayaan dari generasi sepanjang masa kepada generasi muda, melainkan juga berusaha agar generasi yang akan datang dapat mengembangkan dan meningkatkan kebudayaan ke taraf yang lebih tinggi. Pendidikan berfungsi untuk meningkatkan mutu kehidupan manusia, baik secara individu, maupun sebagai kelompok dalam bermasyarakat.
b. Pendidikan dalam Praktek
Pendidikan dalam pelaksanannya berbentuk pergaulan dan anak didik, namun tentu suatu pergaulan yang tertuju kepada tujuanpendidikan, yaitu manusia mandiri, memahai nilai, norma-norma susila dan sekaligus mampu berprilaku sesuai dengan norma-norma tersebut. Pendidikan fungsinya membimbing anak didik, dan bimbingan anak itu akan didik kearah yang sesuai dengan tujuan yang ditentukan, yaitu untuk mencapai kedewasaan.
Menurut Jan Lighthart pendidikan itu didasari oleh kasih sayang yang merupakan sumber bagi dua syarat yang lain, yaitu kesabaran dan kebijaksanaan. Kebijaksanaan artinya lebih luas dari keilmuan. Pendidikan dapat pula diartikan pengembangan individu-individu atau kelompok-kelompok kehidupan atau masyarakat besar atau kecil. Upaya pendidikan bukan saja terdiri atas sikap perbuatan dan seluruh kepribadian pendidik, melainkan juga alat-alat pendidikan yang dengan sengaja dimanfaatkan oleh pendidik, seperti buku-buku pelajaran, alat-alat permainan, lingkungan fisik yang diadakan oleh pendidik, seperti perumahan yang memadai, ruang bermain, tempat rekreasi, hewan peliharaan , dan film.

2. Ilmu Pendidikan Sebagai Teori
a. Pentingnya Teori Pendidikan
Perbuatan mendidik bukan perbuatan sembarangan, melainkan perbuatan yang harus betul-betul disadarinya, dalam rangka membimbing anak kepada suatu tujuan yang akan dituju. Pendidikan sebagai suatu kegiatan manusia dapat kita amati sebagai suatu praktik dalam kehidupannya, misalnya kegiatan dalam ekonomi, kegiatan dalam hukum, agama, dan sebagainya. Disamping itu pendidikan secara akademik secara pengalaman yang bersumber dari pengalaman-pengalaman maupun renungan pendidikannya yang mencoba melihat makna pendidikan dalam suatu lingkup yang lebih luas, yang pertama disebut praktik pendidikan, sedangkan yang kedua disebut teori pendidikan.
Antara teori dan praktek pendidikan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, memilikin hubungan yang komplementer atau saling melengkapi. Seperti misalnya pelaksanaan-pelaksanaan pendidikan dalam keluarga, pendidikan di sekolah, pendidikan di masyarakat, dapat dijadikan sumber dalam menyusun teori pendidikan. Dalam praktik memang ada orang yang tidak mengetahui atau mempelajari suatu teori pendidikan, namun ia berhasil membimbing anak-anaknya.
J.H Gunning dari Belanda pernah mengemukakan bahwa “Teori tanpa praktik merupkan perbuatan yang amat istimewa (genius), sebaliknya praktik tanpa teori bagi orang gila dan penjahat” Akan tetapi menurut Gunning bagi kebanyakan pendidik perlu panduan yang cocok dari keduanya antara teori dan praktek, sebab kalau tidak dibekali teori pendidikan, jangan sampai terjerumus, dimana perbuatan pendidik tersebut seperti perbuatan yang tidak terencana dan tidak tentu arah tujuannya.
Ilmu pendidikan sebagai teori perlu kita pelajari karena praktik mendidik tanpa di dasari oleh teori tentang pendidikan, akan membawa kita kepada kemungkinan berbuat kesalahan. Ilmu pendidikan pendidikan termasuk salah satu cabang ilmu pengetahuan yang sifatnya praktis. Karena pada dasarnya ilmu kependidikan mempelajari dasar-dasar, prinsip-prinsip serta tujuan tentang kegiatan mendidik. Setiap ilmu pada hakikatnya adadah teori,tapi ada teori tentang perbuatan manusia (jadi ilmu yang sifatnya praktis), dan teori yang tidak ditunjukan kepada perbuatan manusia seper biologi, kimia, fisika, matematieka, dan sebagainya.
Ilmu pendidikan sebagai teori perlu dipelajari, karena akan memberi beberapa manfaat:
1. Dapat dijadikan sebagai pedoman untuk mengetahui arah serta tujuan yang akan dicapai
2. Untuk menghindaari atau sekurang-kurangnya mengurangi kesalahan-kesalahan dalam praktek, karena dengan memahami teori pendidikan, seseorang akan mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan, walaupun teori tersebut bukan suatu resep yang jitu.
3. Dapat dijadikan sebagai tolak ukur, sampai dimana seseorang telah berhasil melaksanakan tugas dalam pendidikan.

b. Pendidikan dalam Ruang Lingkup Mikro dan Makro
Dengan adanya individu dan kelompok yang berbeda-beda diharapkan akan mendorong terjadinya perubahan masyarakat dengan kebudayaannya secara progresif. Pendidikan dalam ruang lingkup mikro artinya mengkaji pendidikan yang dilaksanakan dalam skala kecil. Pada tingkat dan skala mikro pendidikan merupakan gejala sosial yang mengandalkan interaksi manusia sebagai sesama (subyek) yang masing-masing bernilai setara. Pengolahan proses dalam ruang lingkup mikro merupakan aplikasi kebijakan-kebijakan pendidikan yang berlangsung dalam lingkungan sekolah ataupun kelas, sanggar-sanggar belajar dan satuan-satuan pendidikan lainnya dalam masyarakat.
Tidak ada perbedaan hakiki dalam nilai orang perorang karena interaksi antar pribadi (interpersonal) itu merupakan perluasan dari interaksi internal dari seseorang dengan dirinya sebagai orang lain, atau antara saya sebagai orang ke satu (yaitu aku) dan saya sebagai orang kedua atau ketiga (yaitu daku atau-ku; harap bandingkan dengan pandangan orang Inggris antara I dan me).
Pendidikan dalam ruang lingkup makro, kita mengkaji pendidikan yang dilaksanakan dalam skala besar. Pada skala makro pendidikan berlangsung dalam ruang lingkup yang besar seperti dalam masyarakat antar desa, antar sekolah, antar kecamatan, antar kota, masyarakat antar suku dan masyarakat antar bangsa. Dalam skala makro masyarakat melaksanakan pendidikan bagi regenerasi sosial yaitu pelimpahan harta budaya dan pelestarian nilai-nilai luhur dari suatu generasi kepada generasi muda dalam kehidupan masyarakat. Pengolahan proses dalam ruang lingkup makro berupa kebijakan-kebijakan pemerintah yang lazimnya dituangkan dalam bentuk UU pendidikan, Peraturan Pemerintah, SK Menteri, SK Dirjen serta dokumen-dokumen pemerintah tentang pendidikan tingkat nasional yang lain.
Diharapkan dengan adanya pendidikan dalam arti luas dan skala makro maka perubahan sosial dan kestabilan masyarakat berlangsung dengan baik dan bersama-sama. Pada skala makro ini pendidikan sebagai gejala sosial sering terwujud dalam bentuk komunikasi terutama komunikasi dua arah. Dilihat dari sisi makro, pendidikan meliputi kesamaan arah dalam pikiran dan perasaan yang berakhir dengan tercapainya kemandirian oleh peserta didik. Maka pendidikan dalam skala makro cenderung dinilai bersifat konservatif dan tradisional karena sering terbatas pada penyampaian bahan ajar kepada peserta didik dan bisa kehilangan ciri interaksi yang afektif.
Pengelompokan kajian pendidikan secara makro dan mikro tersebut dapat dilihat dari dua segi, yaitu :
a. Manusia sebagai individu, dan sebagai anggota masyarakat
Sebagaimana kita ketahui manusia sebagai makhluk individu ia hidup bersama-sama di dalam masyarakat, hidup bersama dengan orang banyak di luar dirinya, antara individu dan masyarakat bagi seorang manusia tidak dapat dipisahkan satu sama lain, Havigurts mengatakan bahwa manusia tidak akan menjadi manusia kalu ia tidak hidup bersama dengan dan dalam masyarakat. Dalam kegiatan pendidikan individu dan masyarakat keduanya saling membutuhkan.
1) Pendidikan individu
Pendidikan yang harus ada pada individu meliputi pembinaan jasmani rohani, yakni: (pertumbuhan fisik) keterampilan motorik, perkembangan bahasa, latihan berfikir/ mental, pembinaan kehidupan sosial.
2) Pendidikan kelompok
Pendidikan yang dilaksanakan dalam kelompok, misalnya pendidikan di sekolah atau pendidikan formal, pendidikan pramuka, pendidikan taman kanak-kanak dan sebagainya dalam bentuk makro.
b. Tanggung jawab Pendidikan
1) Tanggung jawab keluarga
Pendidikan mikro sebagai upaya pendidikan untuk mendewasakan anak, sepenuhnya merupakan tanggung jawab keluarga. Sejak anak mulai di masukan ke dalam pendidikan taman kanak-kanak sampai dengan ia lulus sekolah. Kesemuanya adalah tanggung jawab ibu dan ayahnya, yang bertanggung jawab baik secara moral, spiritual, dan fisik materialuntuk mendewasakan anak.
2) Tanggung jawab bersama
Jawab pendidikan dalam arti luas merupakan tanggung jawab bersama semua pihak, yaitu keluarga, masyarakat, dan pemerintah, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (pasal 7 sampai dengan pasal 11)

C. Dimensi Pendidikan Teoretis dan Praktis
Pendidikan dalam arti luas berlangsung dimana-mana, dari generasi kegenerasi. Generasi tua dan komunitas orang dewasa mengalihkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan, dan keterampilannya, atau melimpahkan kebudayaan kepada generasi muda sebagai upaya terbaik melalui para pendidik, orang tua dan kelompok masyarakat secara sadar maupun tak sadar melakukan pendidikan bagi peningkatan kesejahteraan tanpa mesti belajar teori secara khusus. Terdapat dualism focus pendidikan meliputi, (i) aspek perkembangan progresif dari peserta didik sebagai individu, dan (ii) aspek transmisi social-budaya secara selektif yang semula sering amat menonjol. Oleh karena itu pendidikan meliputusegi teoritis dan sekaligus praktis, sehingga memunculkan aspek dualitas dalam pendidikan. Kedua aspek tersebut menekankan pada segi praktis dengan sebuah pertanyaan dasar yaitu bagaiman harus bertindak, memperlakukan peserta didik dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan. Perbuatan praktis dan normative berlandasan pola piker dan penghayatan praktis perbuatan (praxis) pendidikan termasuk system nilai pendidikan. Pengembangan segi teoritik ilmu pendidikan umumnya dimaksudkan untuk menyusun eksplanasi (penjelasan) dengan cara mendeskripsikan ataupun memahami gejala empirik dan latar belakangnya sebagai objek formal-materi ilmu-ilmu (kealaman dan social). Oleh karena itu, mulai tahun 1945-1950, para pendiri Negara ini membina pengganti system persekolahan colonial yang aristokratis, selektif, dikotomis, tak berkeadilan dengan sitem pendidikan yang mandiri atas dasar dua prinsip/atas (yang masih baru) yaiti (1) filsafat Negara pancasila, dan (2) kebudayaan kebangsaan.
Perbuatan pendidik merupakan perangkat kegiatan yang dilakukan pendidik sebagai pihak pertama dalam relasi sarat makna dan nilai dengan peserta didik demi pemanusiaan (humanisasi) atas manusia muda (homonisasi). Pendidik bukan sembarang orang (dewasa) karena mereka harus memiliki kelebihan (lebih dewasa) ketimbang peserta didik yang di didik. Oleh karena itu, pendidik dan peserta didik berada dalam kebersamaan sebagai sesame subjek yang saling mengaspresiasi, bukan sebagai subjek dan objek dimana pihak pertama dengan memperalat pihak lain. Pada dasarnya perbuatan mendidik berarti seperangkat tindakan melindungi terdidik, karena dia tidak (kurang) berdaya, dengan mengaspresiasi ‘pribadi’ dan potensi peserta didik yang masih muda untuk belajar mandiri melalui fasilitasi interaksinya dengan sumber-sumber belajar.
Terdapat dua hubungan timbal balik yang kuat dalam fenomena pendidikan, pertama, hubungan antara perbuatan pendidik dan ilmu pendidikan praktis secara klasik. Kedua, hubungan antara filsafat pendidikan dan ilmu pendidikan (teoritis-praktis) yang seakan diabaikan oleh dunia pendidikan di Indonesia. Secara akademik terdapat hubungan penting antara kenyataan dilapangan dengan pengembangan ilmu pendidikan teoretik, bahkan factor keyakinan efektif harus menyertai tindakan pendidikan dan pihak pengelolah pendidikan, khususnya sekolah. Harusnya pihak pengelolah memberi kebebasan kepada pendidik dan guru dari tuntutan eksternal untuk menjadi perpanjangan tangan dari birokrasi. Konsep ini juga menolak pendirian yang berpandangan bahwa tujuan umum pendidikan ditentukan oleh tujuan akhir dan tujuan hidup manusia sebelum meninggal, sehingga tujuan sejati (nasional) terletak nasional harus memberikan corak pendidikan sebagai proses transmisi atau pelimpahan budaya nasional. Pendidikan tidak boleh lepas kendali dari sifat dualitas proses edukatif bagi terwujudnya misi religious kewarganegaraan pendidikan dasar bagi pembentukan warga Negara yang sebaik-baiknya, yaitu aspek trasmisi social-budaya yang benilai dan aspek perkembangan potensi manusia sebagai makhluk social yang tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, tujuan dan evaluasi pendidikan yang sebatas pencapaian tujuan instutisional, tujuan kurikuler, atau tujuan loka/instruksional jangka pendek dan menengah bukanlah evalusi yang mendidik.
Penjelasan di atas, memberi gambaran bahwa pendidikan merupakan fenomena fundamental atau asasi dalam kehidupan manusia. Pendidikan juga sebagai gejala universal. Keuniversalan pendidikan ini mengharuskan adanya sebuah pemikiran teoritis tentang pendidikan, yang biasa disebut theorities of education (teori-teori pendidikan).teori pendidikan memiliki aspek ilmiah dan aspek perspektif (nomatif). Keberadaan teori pendidikan pada hakikatnya melahirkan ilmu pendidikan yang kemudian tumbuh menjadi ilmu yang berdiri sendiri. Ilmu pendidikan mengkaji hakikat persoalan, bentuk-bentuk, dan syarat dari pendidikan (Dwi Siswoyo,dkk,2007:31-33).
Sejalan dengan pandangan diatas, Suparlan (2007:92) menyatakan bahwa:
Filsafat adalah induk semua bidang studi dan disiplin ilmu pengetahuan, dengan sudut pandang yang bersifat komprehensif berupa ‘hakikat’. Artinya filsafat memandang setiap objek dari segi hakikatnya. Sedangkan pendidikan adalah suatu bidang studi sekaligus disiplin ilmu pengetahuan yang persoalan khasnya adalah ‘’menumbuhkembangkan manusia menjadi semakin dewasa dan matang (maturity human potens)’’. Jadi filsafat pendidikan mempunyai persoalan sentral berupa hakikat pematangan potensi manusia.
Tradisi filsafat dalah selau berpikir selektif dari tingkat metafisis, teoritis, sampai pada tingkat praktis. Tingkat metafisis disebut ontology, tingkat teoritis disebut epistemology, dan tingkat praktis disebut aspek etika.
Berdasarkan pandangan ini, maka terlihat hubungan erat antara filsafat dengan pendidikan sebagai disiplin ilmu pengetahuan. Selain itu, terdapat pula struktur berpikir tentang pendidikan yang gambling, yakni terdiri atas tiga tingkat; mulai tingkat matafisis, tingkat teoritis, dan tingkat praktis.

D. Pendekatan-Pendekatan dalam Teori Pendidikan
Berdasarkan uraian tersebut diatas dalam mempelajari mempelajari pendidikan sebagai suatu teori yang berisikan konsep-konsep ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan (Uyoh sadulloh 2015: 5-12). Terdiri dari beberapa pendekatan sains, pendekatan filosofis, pendekatan religi, dan pendekatan multidisiplin.
1. Pendekatan Sains
Pendekatan sains terhadap pendidikan, yaitu suatu pengkajian dengan menggunakan sains untuk mempelajari, menelaah, dan memecahkan masalah-masalah pendidikan. Teori pendidikan dengan pendekatan sains disebut sains pendidikan (science of educatin). Cara kehja yang dipergunakan sebagaimana prinsip-prinsip dan metode kerja sains. Henderson (1959) mengemukakan bahwa sains pendidikan pada dasarnya ingin menyumbang pengetahuan yang diperoleh melalui eksperimen, analisis, pengukuran, perhitungan, klasifikasi, dan perbandingan.
Sains pendidikan menghasilkan ilmu pendidikan sebagai terapan dari sains dasarnya. Misalnya Sosiologi Pendidikan, merupakan terapan dari sosiologi untuk menelaah masalah-masalah pendidikan; psikologi pendidikan, merupakanterapan dari psikologi untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan. Pendekatan sains ingin menelaah masalah-masalah pendidikan secara ilmiah (scientific) dan mempelajari proses-proses psikologis, sosiologis, soaiokultural, dan ekologis, karena akan mempengaruhi dan menentukan pendidikan
Karakteristik pendekatan sains
Karakteristik pendekatan sains dapat dilihat dari tiga segi, yaitu objek pengkajian, tujuan pengkajian, dan metode kerja pengkajian. Objek pekerja dalam sains pendidikan sangat terbatas, karena objeknya merupakan salah satu aspek dari pendidikan. Dengan objek terbatas itulah, sains pendidikan mencoba menganalisis objeknya menjadi unsur-unsur yang lenih kecil. Misalnya sosiologi pendidikan, sebagai salah satu bagian dari sains pendidikan, objek penyelidikannya terbatas pada factor-faktor social dalam pendidikan (proses social dalam pendidikan dan pengawasan social dalam pendidikan).
Tujuan pengkajian sains adalah untuk menggambarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam pendidikan. Mendeskripsikan dan menggambarkan apa yang terjadi dalam peristiwa pendidikan. Karakteristik seperti ini disebut deskriptif atau deskriftif analitis,yaitu mengambarkan secara rinci tentang unsur-unsur dari aspek pendidikan, yang menjadi objek penyelidikannya.
Metode kerja pengkajian sains dalam pendidikan ialah dengan menggunakan metode sains (yang lebih dikenal dengan metode ilmiah) yaitu dengan cara induktif. Teori penidikan dengan metode induktif berasal dari fakta-fakta khusus, fakta empiris pendidikan, dianalisis dan diverifikasi, kemudian ditarik suatu kesimpulan/ generalisasi sebagai suatu teori pendidikan. Mereka yang menggunakan cara kerja induktif, melihat teori pendidikan sebagai sains, dimana hasilnya disebut sains pendidikan.
Metode sains merupakan prosedur kerja yang terencana dan cermat, melalui pengalaman, dengan menggunakan kerangka pemikiran tertentu. Dengan demikian sains pendidikkan menggunakan kajian empiris logis, yaitu suatu pengkajian yang bersumber data yang empiris yang diperoleh dengan melakukan penelitian yang cermat dan menggunakan berbagai metode/cara yang logis menurut aturan-aturan tertentu.
2. Pendekatan filosofis
Pendekatan filososfis terhadap pendidikan adalah suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pengetahuan atau teori pendidikan yang dihasilkan dengan pendekatan filosofis disebut filsafat pendidikan. Menurut Henderson (1959), filsafat pendidikan adalah filsafat yang diterapkan /diaplikasikan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan.
Tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan pandangan hidup individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan. Pendidikan tidak dapat dipenuhi sebelumnya tanpa memahami tujuan akhirnya, sehingga hanya tujuanlah yang dapat ditentukan terlebih dahulu dalam pendidikan. Tujuan pendidikan tersebut perlu dipahami dalam kerangka hubungannya dengan tujuan hidup tersebut, baik yang berkaitan dengan tujuan hidup individu maupun kelompok. Si terdidik maupun pendidik secara pribadi memiliki tujuan dan pandangan hidup sendiri, dan sebagai masyarakat atau warga Negara memiliki tujuan hidup bersama.
Karateristik pendekatan filosofis
Karakteristik pendekatan filosofis, seperti halnya pendekatan sains, dapat dilihat dari objek penkajian, tujuan pengkajian, dan metode kerja pengkajian. Objek pengkajian pendidikan dengan menggunakan pendekatan filososfi, adalah semua aspek pendidikan tidak terbatas pada salah satu aspek saja. Seluruh aspek pendidikan seperti tujuan pendidikan, isi pendidikan, metode pendidikan, pendidik, anak didik, keluarga, masyakarakt merupakan kajian yang komprehensif dari pengkajian filosofi. Pengkajian seperti ini disebut pengkajian synopsis, yaitu pengkajian yang bersifat merangkum atau mencakup semua aspek pendidikan.
Tujuan akhir suatu pengkajian filosofi dalam pendidikan adalah merumuskan apa dan bagaiman seharusnya tentang pendidkan. Kajian filosofi berusaha merumuskan apa yang dimaksud dengan pendidikan, bagaiman seharusnya tujuan pendidikan, bagaimana seharusnya kurikulum dirumuskan/disusun. Pengkajian seperti itu disebut pengkajian normative, karena berkaitan dengan norma-norma, nilai-nilai yang berlaku dalam ehidupan manusia, sehingga pengkajian tersebut harus sampai pada suatu rumusan, apa yang seharusnya terjadi dalam pendidikan yang berlangsung dalam kehidupan.
Metode pengkajian filosofi sadalah melalui kajian rasional yang mendalam tentang pendidikan dengan menggunakan semua pengalaman manusia dan kemanusiaan seseorang dapat diterapkan dalam menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan.
3. Pendekatan Religi
Pendekatan religi terhadap pendidikan, berarti bahwa suatu ajaran religi dijadikan sumber inspirasi untuk menyusun teori atau konsep. Konsep pendidikan yang dapat dijadikan landasan untuk melaksanakan pendidikan. Ajaran religi yang berisikan kepercayaandan nilai-nilai dalam kehidupan, dapat dijadikan sumber dalam menetukan tujuan pendidikan, materi pendidikan, metode, bahkan sampai pada jenis-jenis pendidikan.
Metode yang dipergunakan dalam menyusun teori/konsep pendidikan adalah tesis dedukatif. Dikatakan tesis, karena bertolak dari dalil-dalil atau aksioma-aksioma agama yang tidak dapat kita tolak kebenarannya. Dikatakan deduktif, karena teori pendidikan disusun dan prinsip-prinsip yang berlaku umum, diterapkan untuk memikirkan masalah-masalah khusus. Ajaran agama yang berlaku umum dijadikan sebagai pangkal untuk memikirkan prinsip-prinsip pendidikan yang khusus.
4. Pendekatan Multidisiplin
Untuk menghasilkan suatu konsep yang komprehensif dan menyeluruh dalam mempelajari pendidikan tidak bisa hanya dengan menggunakan salah satu pendekatan atau disiplin saja. Misalnya kita hanya menggunakan psikologi,sosiologi, filsafat, atau hanya dengan pendekatan religi. Pendidikan yang memiliki lapangan yang sangat luas, menyangkut semua pengalaman dan pemikiran manusia tentang pendidikan tidak mungkin kalau hanya dilihat dari salah satu aspek, atau dari salah satu kajian saja.
Jadi, pendekatan yang perlu kita lakukan adalah pendekatan yang menyeluruh (pendekatan holistic), pendekatan multidisiplin yang terpadu. Pendekatan filosofi, pendekatan sains, pendekatan religi, dan mungkin pendekatan seni, kita pergunakan secara terpadu tidak berdiri masing-masing secara terpisah. Antara pendekatan yang satu dengan pendekatan yang lainnya harus memiliki hubungan komplementer, saling melengkapi satu dengan yang lainnya.
Kesimpulan/Intisari
Manusia tidak dapat seluruhnya bergantung pada insting semata, banyak segi kehidupan yang perlu diperjuangkan dan dikuasai dengan belajar dan berusaha. Pendidikan itu didasari oleh kasih sayang yang merupakan sumber bagi dua syarat yang lain, yaitu kesabaran dan kebijaksanaan. Kebijaksanaan artinya lebih luas dari keilmuan.
Ilmu pendidikan sebagai teori perlu kita pelajari karena praktik mendidik tanpa di dasari oleh teori tentang pendidikan, akan membawa kita kepada kemungkinan berbuat kesalahan. Ilmu pendidikan pendidikan termasuk salah satu cabang ilmu pengetahuan yang sifatnya praktis. Pendidikan dalam ruang lingkup mikro artinya mengkaji pendidikan yang dilaksanakan dalam skala kecil. Pada tingkat dan skala mikro pendidikan merupakan gejala sosial yang mengandalkan interaksi manusia sebagai sesama (subyek) yang masing-masing bernilai setara. Pengolahan proses dalam ruang lingkup mikro merupakan aplikasi kebijakan-kebijakan pendidikan yang berlangsung dalam lingkungan sekolah ataupun kelas, sanggar-sanggar belajar dan satuan-satuan pendidikan lainnya dalam masyarakat. Pada skala makro pendidikan berlangsung dalam ruang lingkup yang besar seperti dalam masyarakat antar desa, antar sekolah, antar kecamatan, antar kota, masyarakat antar suku dan masyarakat antar bangsa. Dalam skala makro masyarakat melaksanakan pendidikan bagi regenerasi sosial yaitu pelimpahan harta budaya dan pelestarian nilai-nilai luhur dari suatu generasi kepada generasi muda dalam kehidupan masyarakat.

Last modified: Saturday, 25 July 2020, 6:00 PM