Pembelajaran 4.1

A. Landasan-Landasan Filsafat Pendidikan
1. Ontologis
Kata ontologi berdasarkatan perkataan Yunani, yaitu Ontos: being dan logos. Logic jadi ontology adalah the theory of being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan). Atau bisa juga ilmu yang ada. Secara istilah ontology adalah ilmu yang membahas hakikat yang ada yang merupakan realita baik berbentuk jasmani atau konkrit maupun rohani atau abstrak. Berasal dari bahasa Yunani: on/ontos= ada dan logos= ilmu. Jadi ontology adalah ilmu tentang yang ada. Secara ringkas membahas realitas atau suatu entitas dengan apa adanya.
Istilah ontology pertaman kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1936 M, untuk menamai hakikat yang ada bersifat metafisis. Dalam perkembangannya Christian Wolf (1679-1754) membagi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan khusus. Metafisika umum adalah istilah lain dari ontology. Dengan demikian, metafisika atau ontology adalah cabang filsafat yang membahas tentang prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedangkan metafisika khusus masih terbagi menjadi Kosmologi, Psikologi dan Teologi.
Ontology membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Dalam kaitan dengan ilmu, aspek ontologismempertahankan tentang objek yang ditelaah oleh ilmu. Secara ontologid ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia dan terbatas pada hal yang sesuai dengan akal manusia. Ontology membahas tentang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontology berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Dalam rumusan Lorens bagus; ontology adalah hakikat yang ada yang merupakan asumsi dasar bagi apa yang dimaksud sebagai kenyataan dan kebenaran. Ontology menurut Anton Bakker (1992) merupakan ilmu pengetahuan yang paling universal dan paling menyeluruh. Ontology adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat kebenaran segala sesuatu yang ada. Menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hokum sebab-akibat. Yaitu, ada manusia, ada alam, da nada causa prima dalam suatu hubungan menyeluruh, teratur dan tertib dalam keharmonisan. Jadi, dari aspek ontology, segala sesuatu yang ada ini berada dalam tatanan hubungan estetis yang diliputi dengan warna nilai keindahan.
Ontology merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkrit. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperi Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebnyakan orang belum membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu.
Filsafat pendidikan dijabarkan dari filsafat, artinya filsafat pendidikan tidak boleh bertentangan dengan filsafat. Secara ontologis, filsafat pendidikan berusaha mengkaji secara mendalam hakikat pendidikan dan semua unsur yang berhungan dengan pendidikan.
Menurut Made Pidarta dalam buku .H. Jalaluddin, ontology filsafat pendidikan mempertanyakan hal-hal berikut.
1. Apakah pendidikan itu?
2. Apa yang hendak dicapai?
3. Bagaimana cara terbaik merealisasikan tujuan- tujuan pendidikan?
4. Bagaimana sifat pendidikan itu?
5. Bagaimana perbedaan pendidikan teori dengan praktik?
6. Bagaimana hakikat kurikulum yang disajikan?
7. Siapa dan bagaimana para peserta didiknya?
8. Bagaimana system pengembangan bakat dan minat anak didik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memnerikan inspirasi terhadap upaya pengembangan pendidikan yang bertujuan membentuk manusia yang berbudi luhur, rasional, terampil dan mandiri. Manusia yang bertanggung jawab terhadap masa depan kehidupan diri, keluarga, masyarakat, dan Negara. Akan tetapi, jawaban terhadap semua pertanyaan ontologis biasanya memerlukan penelitian, analisis, dan deskripsi, dan penjabaran. Oleh karena itu, dari ontology filsafat pendidikan dilanjutkan oleh epistimologi filsafat pendidikan.
Pendekatan ontology atau metafisik menekankan pada hakikat keberadaan, dalam hal ini keberadaan pendidikan itu sendiri. Keberadaan pendidikan tidak terlepas dari keberadaan manusia. Oleh sebab itu, hakikat pendidikan berkenaan dengan hakikat manusia. Dalam pendekatan ini, keberadaan peserta didik dan pendidik tidak terlepas dari makna keberadaan manusia itu sendiri. Apakah manusia itu, dan apakah makna keberadaan manusia itu? Pertanyaan-pertanyaan metafisik tersebut juga merupakan pertanyaan-pertanyaan yang esensial dalam proses pendidikan.
Kedua jenis pendekatan mengenai hakikat pendidikan, baik pendekatan ontologis maupun pendekataan metafisik, mempunyai kebenaran masing-masing. Ilmu pendidikan sebagai ilmu, tentunya mempunyai objek, metodologi, serta analisis mengenai proses pendidikan. Sekalipun demikian, objek ilmu pendidikan atau subjek ilmu pendidikan adalah anak manusia sehingga tidak terlepas dari pertanyaan mengenai hakikat manusia. Memang, ada ahli filsafat yang meredusir hakikat manusia senagai manusia yang berpikir. Sekalipun demikian, pendekatan-pendekatan tersebut tidak menyajikan suatu pengertian yang utuh mengenai manusia dan mengenai hakikat pendidikan.
Pendekatan-pendekatan mengenai hakikat pendekatan-pendekatan pendidikan telah melahirkan berbagai jenis teori mengenai apakah sebenarnya pendidikan itu. Pendidikan bukan hanya suatu kata benda (noun), tetapi merupakan suatu proses atau kata kerja (verb).
Pengertian pendidikan merupakan suatu hasil (noun), dan suatu proses (verb) adalah sangat penting untuk mengerti hakikat pendidikan tersebut.
Tilaar (2008) menjelaskan berbagai pendekatan mengenai hakikat pendidikan dapat digolongkan atas dua kelompok besar, yaitu:
1. Pendekatan reduksionisme
2. Pendekatan holistic integrative
Literatur yang sangat banyak mengenai konsep dan teori pendidikan dewasa ini tentunya tidak mungkin untuk menelusuri berbagai teori pendidikan yang ada. Begitu pula, kedua pengelompokan tersebut bukanlah bersifat hitam putih, tetapi sekadar menekankan garis besar dari teori-teori tersebut.
Dengan pemahaman tersebut sudah tentu hakikat pendidikanatau ontology pendidikan berakar dari kebutuhan manusia terhadap proses pelatihan kemandirian berpikir, mandiri mengambil keputusan, mandiri dalam bekerja untuk mempertahankan kehidupannya, mandiri dalam mengamankan kehormatan dan harga dirinya, dan manusia yang mengerti tujuan hidup hari ini, dan yang akan datang.
2. Epistimologi Secara etimologi, epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan atau kebenaran dan logos berarti pikiran, kata atau teori. Dengan demikian epistimologi dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenahi pengetahuan. Epistimologi dapat juga diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar (teori of knowledges). Epistimologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Secara historis, istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J.F. Ferrier, untuk membedakan dua cabang filsafat, epistemologi dan ontologi. Sebagai sub sistem filsafat, epistemologi ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli, tetapi mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya, sehingga didapatkan pengertian yang berbeda-beda, buka saja pada redaksinya, melainkan juga pada substansi persoalannya.
Istilah epistimologi dipakai pertama kali oleh J. F. Feriere untuk membedakannya dengan cabang filsafat lain yaitu ontologi (metafisika umum). Filsafat pengetahuan (Epistimologi) merupakan salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan masalah hakikat pengetahuan. Epistomogi merupakan bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan asal mula pengetahuan, batas – batas, sifat sifat dan kesahihan pengetahuan. Objeck material epistimologi adalah pengetahuan . Objek formal epistemologi adalah hakekat pengetahuan. Aspek estimologi merupakan aspek yang membahas tentang pengetahuan filsafat. Aspek ini membahas bagaimana cara kita mencari pengetahuan dan seperti apa pengetahuan tersebut. Dalam aspek epistemologi ini terdapat beberapa logika, yaitu: analogi, silogisme, premis mayor, dan premis minor. Dalam epistimologi dikenal dengan 2 aliran, yaitu:

1. Rasionalisme: Pentingnya akal yang menentukan hasil/keputusan.

2. Empirisme: Realita kebenaran terletak pada benda kongrit yang dapat diindra karena ilmu atau pengalam impiris.

Hubungan epistemologi dengan pendidikan adalah untuk mengembangkan ilmu secara produktif dan bertanggung jawab serta memberikan suatu gambaran-gambaran umum mengenai kebenaran yang diajarkan dalam proses pendidikan. Substansi persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep, meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan. Lazimnya, pembahasan konsep apa pun, selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara teknis, guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung dalam konsep tersebut. Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas pembahasan konsep selanjutnya. Misalnya, seseorang tidak akan mampu menjelaskan persoalan-persoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami substansi belajar itu sendiri. Setelah memahami substansi belajar tersebut, dia baru bisa menjelaskan proses belajar, gaya belajar, teori belajar, prinsip-prinsip belajar, hambatan-hambatan belajar, cara mengetasi hambatan belajar dan sebagainya. Jadi, pemahaman terhadap substansi suatu konsep merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasan-pembahsan selanjutnya yang sedang dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi (pengertian).
Demikian pula, pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap substansinya, sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu. Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. Pengertian lain, menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan? apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, 1965, dalam Jujun S.Suriasumantri, 2005). Menurut Musa Asy’arie, epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. Sedangkan, P.Hardono Hadi menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengendaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan D.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengendaian-pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. Sedangkan hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan, sedangkan pengertian kedua tentang hakikat pengetahuan. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan. Kodrat berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan, sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan, sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya. Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran yang saling berlawanan, yaitu realisme dan idealisme. Selanjutnya, pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut, diungkapkan oleh Dagobert D.Runes. Dia menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber, struktur, metode-metode dan validitas pengetahuan. Sementara itu, Azyumardi Azra menambahkan, bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan”. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut, tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut, tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah dipahami. Epistimologi mempersoalkan kebenaran pengetahuan. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang telah memenuhi unsur-unsur epistimologi yang dinyatakan secara sistematis dan logis. Dalam spistimologi secara terperinci diperbincangkan mengenai dasar, batas, dan objek pengetahuan. Menurut Sutarjo. A. Wiramihardja, epistimologi dengan filsafat ilmu itu berbeda. Epistimologi mempersoalkan kebenaran pengetahuan, sedangkan filsafat ilmu secara khusus memperbincangkan ilmu atau keilmuan pengetahuan. Dalam epistimologi, dibicarakan tentang sumber pengetahuan dan sistematikannya. Selain itu, dibicarakan yang secara akurat pula digunakan untuk masalah-masalah yang bersangkutan dengan maksud menemukan kebenaran isi sebuah pernyataan. Isi pernyataan adalah sesuatu yang ingin diketahui. Oleh karena itu, epistimologi relevan dengan ilmu pengetahuan yang disebut juga dengan filsafat ilmu. Berkaitan dengan pemikiran di atas menurut Sutarjo. A. Wiramihardja (2006:33) terdapat empat jenis kebenaran yang secara umum telah dikenal oleh orang banyak, yaitu sebagai berikut.

1. Kebenaran religius, yaitu kebenaran yang memenuhi kriteria atau dibangun berdasarkan kaidah-kaidah agama atau keyakinan tertentu, yang disebut juga dengan absolut atau kebenaran mutlak yang tidak terbantahkan.

2. Kebenaran filosofis, yaitu kebenaran hasil perenungan dan pemikiran kontemplatif terhadap hakikat sesuatu, meskipun pemikiran intelektual tersebut bersifat subjektif dan relative, tetapi kontemplatif

3. Kebenaran estetis, yaitu kebenaran yang berdasarkan penilaian indah atau buruk, serta cita-cita rasa esetetis. Artinya, keindahan yang berdasarkan harmoni dalam pengertian luas yang menimbulkan rasa senang, tenang, dan nyaman

4. Kebenaran ilmiah, yaitu kebenaran yang ditandai oleh terpenuhnya syarat-syarat ilmiah, terutama menyangkut adanyateori yang menunjang dan sesuai dengan bukti.
Kebenenaran ilmiah ditunjang ditunjang oleh rasio dan kebenaran rasional berdasarkan teori yang menunjangnya kebenaran ilmiah divilidasi oleh bukti empiris, yaitu hasil pengukuran objektif lapangan. Kebenaran pengetahuan dapat pula dibagi menjadi dua macam, yaitu kebenaran mutlak atau absolut dan kebenaran relative atau nisbi. Kebenaran mutlak adalah kebenaran yang tidak berubah-ubah dan tidak dapat dipengaruhi oleh yang lain. Artnya, kebenaran yang sudah ada pada hakikat dirinya sendiri, misalnya kebenaran adanya Tuhan. Adapun kebenaran relative atau nisbi adalah kebenaran yang berubah-ubah, tidak tetap, dan dapat dipengaruhi oleh hal lain diluar hakikat dirinya. Misalnya, fungsi mata, dalam melihat sesuatu. Dengan penjelasan diatas dapat dipahami bahwa objek penyelidikan ilmu pengetahuan hanya berbatas pada sesuatu yang dapat diselidiki secara ilmiah. Jika tidak dapat diselidiki lagi, ilmu pengetahuan akan berhenti sampai disitu. Berbeda dengan penyelidikan filsafat, filsafat akan terus bekerja sampai masalah yang dikajiannya ditemukan hingga ke akar-akarnya. Bahkan, filsafat baru menampakan hasil kerjanya manakala ilmu pengetahuan telah berhenti penyelidikannya, yaitu ketika ilmu tidak mampu memberi jawaban atas masalah. Oleh karena itu, ciri khas filsafat tidak memiliki ilmu pengetahuan sebagaimana sebaliknnya bahwa ilmu pengetahuan memiliki khas yang tidak dimiliki oleh filsafat(. Sutarjo. A. Wiramihardja) Dalam epistimologi yang paling cocok perlu didiskusikan adalah pengetahuan, hal ini akan berkaitan dengan jenis pengetahuan dan bagaimana memperoleh pengetahuan tersebut. Uyoh Sadulloh (2015:32-36) a. Jenis-jenis pengetahuan Manusia berusaha mencari pengetahuan dan kebenaran yang dapat diperolehnya dengan melalui beberapa sumber. 1. Pengetahuan wahyu (revealed knowledge) Manusia memperoleh pengetahuan dan kebenaran atas dasar wahyu yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tuhan telah memberi pengetahuan dan kebenaran kepada manusia pilihannya, yang dapat dijadikan petunjuk bagi manusia dalam kehidupannya. Wahyu merupakan firman Tuhan. Kebenaran adalah mtlak dan abadi. Pengetahuan wahyu bersifat eksternal, artinya pengetahuan tersebut berasal dari luar manusia. 2. Pengetahuan intuitif (intuitive knowledge) Pengetahuan intuitif diperoleh manusia dari dalam dirinya sendiri, pada saat ia menghayati sesuatu. Pengetahuan intuitif muncul secara tiba-tiba dalam kesadaran manusia. Mengenai proses kerjannya. Manusia itu sendiri tidak menyadarinya. Pengetahuan ini sebagai hasil penghayatan pribadi, sehingga hasil ekspresi dari keunikan dan individualis seseorang, sehingga validitas pengetahuan ini bersifat pribadi. Pengetahuan intuitif disusun dan diterima dengan kekuatan visi iaginatif dalam pengetahuan pribadi seseorang. Kebenaran yang muncul tampak dalam karya seni merupakan bentuk pengetahuan intuitif, seperti karya penuls besar Shakespeare, Mohammad Igbal, Al Gazali, dan yang lainnya, yang berbicara tentang kebenaran nurani manusia, merupakan hasil kerja intuisi. Menurut kaum intisionis, dengan intuisi kita akan mengetahui dan menyadari diri kita sendiri, mengetahui karakter perasaan dan motif orang lain, kita mnegetahui dan memahami hakikat yang sebenarnnya tentang waktu dan gerak, dan aspek-aspek fundamental di alam jagat raya ini. 3. Pengetahuan rasional (rasional Knowledge) Pengetahuan rasional merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan latihan rasio/akal semata, tidak disertai dengan observasi terhadap peristiwa-peristiwa factual. Prinsip logika formal dan matematika mrni merupakan paradigma pengetahuan rasional, dimana kebenarannya dapat ditunjukan dengan pemikiran yang abstrak prinsip pengetahuan rasional dapat diterapkan pada pengalaman indera, tetapi tidak disimpulkan dari pengalaman abstrak. Rasionalisme adalah aliran dalam filsafat yang mengutamakan rasio untuk memperoleh pengetahuan dan kebenenaran. Rasionalisme berpandangan bahwa akal merupaka factor fundamental dalam pengetahuan. Akal manusia memiliki kemampuan untuk mengetahui kebenaran alam semesta,yang tidak mungkin dapat diketahui melalui observasi. Menurut rasionalisme, pengalaman tidak mungkin dapat menguji kebenaran hukum ‘’sebab-akibat’’, karena peristiwa yang tidak terhingga dalam kejadian alam ini tidak mungkin dapat di observasi. Rasionalisme memberikan kritik terhadap empirisme, bahwa: a. Metode empiris tidak memberikan kepastian, tetapi hanya semapai pada probabilitas yang tinggi b. Metode empiris, baik sains maupun dalam kehidupan sehari-hari biasanya bersifat sepotong-sepotong (peac meal) Menurut pengakuan kaum rasionalis, mereka mencari kepastian dan kesempurnaan yang sistematis. Penelitian mereka dalam matematika, khususnya geometri, mencoba tidak mempercayainnya pengalaman, melainkan hanya berdasarkan pada suatu penalaran. 4. Pengetahuan empiris (empirical knowledge) Pengetahuan empiris diperoleh atas bukti penginderaan, dengan penglihatan, pendengaran, dan sentuhan indera-indera lainnya, sehingga lita memiliki konsep dunia disekitar kita. Paradigm pengetahuan empiris adalah sains, dimana hipotesis-hipotesis sains di uji dengan observasi atau eksperimen. Aliran yang menjadikan empiri (pengalaman) sebagai sumber pengetahuan disebut empirisme. Epirisme merupakan aliran dalam filsafat yang membicarakan pengetahuan. Empirisme beranggapan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman, dengan jalan observasi, atau penginderaan. Pengalaman merupakan factor fundamental dalam pengetahuan , sehingga merupakan sumber dari pengetahun manusia. Apa yang kita ketahui berasal dari segala apayang kita dapatkan melalui alat indera. Pengalaman merupakan proses interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Pengalaman tidak hanya sekedar dunia fakta, melainkan termasuk pula dunia penelitian, dimana dalam pengertian ini termasuk dunia sains. Pengalaman bukanlah sesuatu yang bertentangan denan akal, melainkan melibatkan akal sebagai bagian integral dari pengalaman. Dalam sains modern, para ahli sains menaruh perhatian pada control observasi dan esperimen, tidak semata-mata pada persepsi indera secara umum dari pengalaman-pengalaman. 5. Pengetahuan otoritas (authoritative knowledge)
Kita menerima suatu pengetahuan itu benar bukan karena telah mengeceknya diluar dari kita, melainkan telah dijamin oleh otoritas (suatu sumber yang berwibawa, memiliki wewenang, berhak) di lapangan. Kita menerima pendapat orang lain, karena ia adalah seorang pakar dalam bidangnya. Misalnya kita menerima petuah agama dari seorang kiai, karena beliau merupakan orang yang sangat ahli dan menguasai sumber ajaran agama islam, tanpa harus kita mengecek dari sumber aslinya (Quran dan Sunnah). Kta sering menutamakan pandangan kita dengan menutip dari ensiklopedia atau hasil karya tulis para pakar yang terkenal. Pada zaman kerajaan, sabda raja merupakan petuah yang dianggap benar, tidak salah, karena raja merupakan manusia yang paling berkuasa. b. Teori pengetahuan Ada beberapa teori yang dapat dijadikan acuan untuk menentukan apakah pengetahuan itu benar atau salah, yaitu: 1) teori korespondensi; 2) teori koherensi; 3) teori pragmatism. 1. Teori korespondensi (correspondence theory) Menurut teori korespondensi, keberadaan merupakan persesuaian antara pernyataan dalam pikiran dengan situasi lingkungannya. Teori ini paling luas diakui oleh realis. Saya berpendapat bahwa pulau jawa merupakan pulau terpadat pendudukannya di Indonesia. Pendapat saya itu benar bukan karena bersesuaian dengan pendapat orang lain sebelumnya, atau karena diterima oleh banyak orang , melainkan karena bersesuaian dengan kenyataan yang sebenarnya. Ini merupakan ciri dari ilmuan yang selalu mengecek atau menontrol pikiran-pikirannya dengan data-data atau penemuan-penemuan. 2. Teori koherensi (coherence theory) Menurut teori koherensi, kebenaran bukan persesuaian antara pikiran dengan kenyataan, melaikan kesesuaian secara harmonis antara pendapat/ pikiran kita dengan pengetahuan kita yang telah dimiliki. Teori ini pada umumnya diakui oleh golongan idealis. Pengertian persesuaian dalam teori ini berarti terdapat konsistensi (ketetapan, sehingga teori ini disebut juga teori konsistensi) yang merupakan ciri logis hubungan antara pikiran-pikiran (ide-ide) yang telah kita miliki satu dengan yang lain. Kalau kita menerima pengetahuan baru, karena pengetahuan tersebut sesuai dengan perbuatan yang kita miliki,atau apabila kita melepaskan pendapat lama, kerena pendapat baru tersebut lebih bertautan secara harmonis dengan keseluruhan pengalaman dan pengetahuan kita. Bentuk yang paling sederhana dari teori koherensi adalah menurut adanya konsistensi formal dalam system. Misalnya dari rumus- rumus dalam matematika orang dapat membangun suatu system dalam geometri. System ini dapat diakui sebagai suatu system yang benar, jika yang menjadi dasar kebenaran dalam system adalah adanya konsistensi dengan hokum-hukum berpikir formal tertentu. Golongan idealis untuk memperluas system konsistensi ini dengan memasukan semua pengalaman yang bersifat konsisten dalam dirinya. Plato, Hegel, Brandley, dan Royce, memperluas prinsip-prinsip konsistensi ini dengan memasukan system jagat raya, sehingga setiap pikiran yang benar dan setiap bagian – bagian system kebenaran berkaitan dengan kenyataan secara keseluruhan dalam jagat raya dan memperoleh makna/arti dalam keseluruhan tersebut. Berdasarkan prinsip-prinsip ini, kebenaran merupakan system dalil-dalil yang kosisten secara timbal balik dan setiap dalil memperoleh kebenarannya dalam keseluruhan system. Beberapa kritik diberikan pada teori nin, diantaranya: pertama, kita tidak dapat membangun system keterpaduanyang salah. Teori ini tidak dapat membedakan antara kebenaran yang konsisten dengan kekeliruan yang konsisten. Para pengkritik menunjukan bahwa banyak system pada masa lampau secara logis konsisten, tetapi secara fakta ternyata kemudian salah. Contohnnya, pertentangan antara system geometris dengan system heliosentris telah menimbulkan korban ilmuan besar yaitu Galileo. Kedua, teori ini bersifat rasionalis dan intelegtualis, dan hanya mementingkan hubungan-hubungan logis antara dalil-dalil. Sebagai akibatnya, teori ini gagal melengkapi tes / pengujian yang memadai terhadap pikiran dan pengalaman sehari-hari. Teori hayna cocok untuk matematika murni. Teori ini tidak cocok untuk menguji kebenaran berdasarkan fakta. 3. Teori pragmatisme (pragmatism Theory) Menurut teori pragmatisme, kebenaran tidak bisa bersesuaian dengan kenyataan, sebab kita hanya bisa mengetahui dari pengalaman kta saja. Di lain phak menurut pragmatisme, teori koherensi adalah formal dan rasioanal. Pragmatism berpendirian bahwa mereka tidak mengetahui apapun (agnostic) tentang wujud, esensi, intelektualitas, rasionalitas. Oleh karena itu, pragmatism merupkan penganut epirisme yang fanatic untuk memberikan interprestasi terhadap pengalaman. Menurut pragmatisme, tidak ada kebenaran yang mutlak dan abadi. Kebenaran ini dibuat dalam proses penyesuaian manusia. Menurut pragmatisme, kebenaran suatu pernyataan di ukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak. Artinya, pernyataan itu dikatakan benar kalau memiliki kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Suatu teori, pendapat atau hipotesis dikatakan benar apabila menghasilkan jalan keluar dalam praktik, atau membuahkan hasil-hasil yang memuaskan. Menurut para pendukung pragmatisme, kebenaran suatu peryataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak. Artinya pernyataan itu dikatakan benar kalau memiliki kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Suatu teori, pendapat, atau hipotesis dikatakan benar apabila menghasilkan jalan keluar dalam praktik, atau membuahkan hasil-hasil yang memuaskan. Para pendukung pragmatism cenderung memberikan tekanan pada tiga pendekatan, yaitu: a. Bahwa sesuatu itu dikatakan benar apabila memuaskan atau memenuhi keinginan-keinginan atau tujuan-tujaun manusia. Kepercayaan akan kebenaran bukan hanya memberikan kepuasan bagi seluruh sifat dasar manusia, melainkan juga memberikan kepuasan selama jangka waktu tertentu. b. Bahwa sesuatu itu dikatakan apabila dapat dikaji kebenarannya secara eksperimen. Pengujian kebenaran ini selaras dengan semangat dan praktik sains modern, baik dalam laboraturium maupun dalam kehidupan sehari-hari. Begitu suatu kebenaran atau ketikdakbenaran muncul, maka kita hendaknya mencoba dan mengadakan pembuktiannya. c. Bahwa sesuatu itu benar apabila membantu dalam perjuangan hidup bagi manusia. Instrumentalisme Dewey menekankan fungsi bagi kehidupan dari ajaran serta ide-ide Untuk mencari kebenaran kaum pragmatis berpaling pada metode sains (ilmiah). Sebab metode ini dianggapnya, berfungsi dan berguna dalam menafsirkan gejala-gejala alam. Kriteria pragmatism banyak digunakan oleh ilmuan untuk menentukan kebenaran ilmiah dalam jangka waktu tertentu, karena seperti yang telah dikemukakan di atas, bagi pragmatism tidak ada kebenaran mutlak dan abadi. Iyoh Sadulloh (2015:30-36) 3. Aksiologi Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu: axiosyang berarti nilai. Sedangkan logos berarti teori/ ilmu. Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Jujun S.suriasumantri mengartikan aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilali merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, sosial dan agama. Sedangkan nilai itu sendiri adalah sesuatu yang berharga yang diidamkan oleh setiap insan. Dalam encyclopedia of philosophy dijelaskan bahwa aksiologi disamakan dengan value dan valuation. Ada tiga bentuk value dan valuation yaitu: a. Nilai sebagai kata benda abstrak. Dalam pengertian sempit, berupa sesuatu yang baik, menarik, dan bagus. Adapun dalam pengertian luas, berupa: kewajiban, kebenaran, dan kesucian. Dalam kaitan ini terkait dengan teori nilai atau aksiologi. Aksiologi merupakan bagian dari etika. Lewis menyebutkan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Sebagai instrument untuk menjadi baik atau sesuatu menjadi menarik, sebagai nilai inheren, atau kebaikan seperti estetika dari sebuah karya seni, sebagai nilai intrinsic atau menjadi baik dalam dirinya sendiri, sebagai nilai contributor atau nilai yang merupakan pengalaman yang memberikan kontribusi; b. Nilai sebagai kata benda konkret, contohnya ketika kita berkata sebuah nilai atau nilai-nilai, ia sering kali dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai, seperti nilainnya, nilai dia, dan system nilai. Kemudian dipakai untuk apa-apa yang tidak dianggap baik atau bernilai. c. Nilai juga digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, memberi nilai, dan di nilai. Menilai sama dengan evaluasi yang digunakan untuk menilai perbuatan. Dewey membedakan dua hal tentang menilai, ia bisa berarti menghargai dan mengevaluasi (Paul Edwards, (ed.) dalam Amsal Bakhtiar, 2004).
Menurut Notonegoro, nilai dibedakan menjadi tiga macam, yaitu nilai material, nilai vital, dan nilai kerohanian. a) Nilai material adalah segala sesuatu yangberguna bagi kehidupan jasmani manusia ataukebutuhan ragawi manusia. b) Nilai vital adalah segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatanatau aktivitas. c) Nilai kerohanian adalah segala sesuatu yangberguna bagi rohani manusia.Nilai kerohanian meliputi 1) nilai kebenaran yang bersumber pada akal(rasio, budi, cipta) manusia; 2) nilai keindahan atau nilai estetis yangbersumber pada unsur perasaan manusia; 3) nilai kebaikan atau nilai moral yangbersumber pada unsur kehendak (karsa)manusia; 4) nilai religius (agama) yang merupakan nilaikerohanian tertinggi dan mutlak yangbersumber pada kepercayaan atau keyakinanmanusia. (https://shelviadevi19.blogspot.co.id/2014/10/macam-macam-nilai-menurut-prof.html) Aksiologi yang dipahami sebagai teori nilai dalam perkembangannya melahirkan sebuah polemic tentang kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa disebut sebagai netralitas pengetahuan (value free). Sebaliknya, ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal dengan value bound. Sekarang mana yang lebih unggul antara netralitas pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan pada keterrikatan nilai. Bagi ilmuan penganut paham terikat nilai, perkembangan akan terjadi sebaliknya karena dibatasinya objek penelitian, cara, dan penggunaan oleh nilai. Terkait dengan pendekatan aksiologi dalam filsafat ilmu maupun dalam ilmu, maka muncullah dua penilaian yang sering digunakan yaitu etika dan estetika. Etika dalam cabang filsafat yang membahas secara kritis dan sistematis masalah-masalah moral. Etika merupakan salah satu cabang filsafat tertua. Setidaknya ia telah menjadi pembahasan menarik sejak masa Socrates. Di situ dipersoalkan mengenai masalah kebaikan, keutamaan dan keadilan (http:mswibowo.blogspot.com/2009/01/aksiologi-nilai-dan-etika.htm).
MODUL FILSAFAT/ 99
Mengenai hakikat niali, banyak teori yang dikemukakannya, diantaranya teori voluntarisme. Teori voluntarisme mengatakan nilai adalah adalah suatu pemuasan terhadap keinginan kemauan. Kaum hedonism menyatakan, bahwa hakikat nilai adalah ‘pleasure’ atau ke senangan. Menurut formalism nilai adalah kemauan yang bijaksana yang didasarkan pada akar rasional. Tipe nilai dapat dibedakan antara nilai intrinsic dan nilai instrumental. Nilai intrinsic merupakan nilai akhir yang menjadi tujuan, sedangkan nilai instrumental adalah sebagai alat untuk mencapai nilai intrinsic. Nilai instrintik adalah sesuatu yang memiliki harkat atau harga dalam dirinya, dan merupakan tujuan sendiri. Sebagai contoh, nilai keindahan yang dipancarakan oleh suatu lukisan adalah nilai intrinsic. Dimana pun dan kapan pun lukisan berada akan selalu indah. Salat lima waktu yang dilakukan oleh setiap muslim memiliki nilai intrinsic dan sekaligus memiliki nilai instrumental. Nilai intrinstiknya bahwa salat merupakan suatu pengabdian kepada Allah yang menjadi Rabb seluruh alam jagat raya. Nilai intrumentalnya adalah bahwa dengan melakukan salat yang ikhlas sebagai pengabdian kepada Allah, orang yang melaksanakan salat tersebut bisa mencegah perbuatan jahat dan perbuatan yang dilarang oleh Allah, yang paling gilirannya manusia akan mendapatkan kebahagian hidup didunia dan akhirat, yang merupakan nilai akhir dari kehidupan manusia. Menurut objektivisme, nilai itu berdiri sendiri, namun bergantung dan berhubungan dengan pengalaman manusia yang satu dengan yang lainnya. Menurut objektivisme logis, nilai itu suatu wuju, suatu kehidupan yang logis tidak terkait pada kehidupan yang dikenalnya, namun tidak memiliki status dan gerak didalam kenyataan. Menurut objektivisme metafisik nilai adalah suatu yang lengkap, objektif, dan merupakan bagian aktif dari realitas metafisik. a. Karakteristik Nilai Ada beberapa karakteristik yang berkaitan dengan teori nilai, yaitu: 1. Nilai objektif atau subjektif Nilai itu objektif jika ia tidak tergantung pada subjektif atau kesadaran yang menilai; sebaliknya nilai itu “subjektif” jika eksistensinya, maknannya, dan validitasnya
MODUL FILSAFAT/ 100
tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian, tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis ataupun fisik. Suatu nilai dikatakan subjektif apabila nilai ersebut memiliki kebenarannya tanpa memperhatikan pemilihan dan penilaian manusia.Nilai-nilai baik,benar, cantik, merupakan realitas alam, yang merupakan begian dari sifat-sifat yang dimiliki oleh benda atau tindakan tersebut. Benda-benda tersebut secara objektif bagus, tindakan tertentu secara inheren adalah baik. Suatu benda adalah indah, karena memang keindahan barang tersebut dimilikinya. Ilmu pengetahuan memiliki nilai objektif, karena tanpa dinilai oleh manusiapun, Ilmu pengetahuan secara inheren adalah baik, siapapun akan mengakui bahwa Ilmu pengetahuan adalah berharga. Nilai itu subjektif apabila nilai tersebut memiliki preferensi pribadi, dikatakan baik karena dinilai oleh seseorang, apapun baik atau berharga bukan karena dalam dirinya, melainkan karena manusia telah menilainya. Ilmu pengetahuan berharga sebagai hasil penilaian manusia, atau karena manusia menilainya berharga. 2. Nilai absolute atau Peubah Suatu nilai dikatakan absolute atau abadi, apabila nilai yang berlaku sekarang sudah berlaku sejak masa lampau dan akan berlaku . Misalnya nilai kasih sayang dan kemurahan hati adalah untuk semua manusia dimanapun dan kapanpun manusia hidup. Allah maha pengampun, maha pemberi rezeki, merupakan nilai absolute yang dimiliki-Nya. Karena siapapun, apakah ia muslim atau bukan muslim, dimanapun berada manusia akan menerimanya,. sama halnya dengan ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan sudah ada sejak masa lampau dan apabila suatu ilmu sudah terbentuk maka ilmu tersebut sampai kapanpun tidak akan pernah hilang misalnya ilmu matematika mulai dari awal terbentuk sampai sekarang ilmu tersebut tetap digunakan oleh siapapun. Jadi dapat ditarik kesimpulan didalam aksiologi ilmu pengetahuan yaitu teori nilai yang membahas atau menilai suatu ilmu pengetahuan menurut penilaian-penilaian yang sudah dijelaskan diatas. b. Tingkatan (hierarki) Nilai Terdapat beberapa pandangan yang berkaitan dengan hierarki nilai, yaitu:
Pertama, kaum idealis berpandangan secara pasti terhadap tingkatan nilai, dimana nilai spiritual lebih tinggi daripada nilai non spiritual (nilai material). Mereka menempatkan nilai religi pada tingkat yang tinggi, karena nilai religi membantu dalam menemukan tujuan akhir hidupnya, dan merupakan kesatuan dengan nilai spiritual. Kedua, kaum realis juga berpandangan behwa terdapat tingkatan nilai, dimana mereka menepatkan nilai rasional dan empiris pada tingkatan luas, sebab membantu manusia menemukan realitas objektif, hokum-hukum alam, dan aturan-aturan berpikir logis. Ketiga, kaum pragmatis menolak tingkatan nilai secara pasti. Menurut mereka, suatu aktivitas dikatakan baik seperti yang lainnya, apabila memuaskan kebutuhan yang penting, dan memiliki nilaiintrumental. Mereka sangat sensitive terhadap nilai-nilai yang menghargai masyarakat, tetapi mereka berjkeyakinan akan pentingnya pengujian nilai secara empiris dari pada merenungkannya secara rasional. Nilai-nilai partikuler (khusus) hanyalah merupakan alat (instrument) untuk mencapai nilai yang lebih baik. c. Jenis-jenis Nilai Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat, sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malah menimbulkan bencana. Dalam aksiologi ada dua penilaian yang umum digunakan yaitu: 1. Etika Etika adalah cabang filsafat yang membahas secara kritis dan sistematis masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada perilaku, norma dan adat istiadat manusia. Etika merupakan salah satu cabang filsafat tertua. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahui dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan. Istilah etika berasal dari kata ethos (Yunani) yang berarti adat kebiasaan. Dalam istilah lain etika disebut dengan moral (Yunani) yang berarti kebiasaan. Walaupun antara etika dan moral terdapat perbedaan, tetapi para ahli tidak membedakannya dengan tegas, bahkan secara praktis cenderung untuk memberi arti yang sama. Menurut Salam (2000: 6) mengemukakan bahwa etika itu mempelajari tentang pola tingkah laku manusia yang dinilai baik dan buruk. Menurut Sudarsono (2001:188) etika adalah ilmu yang membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami manusia. Nilai-nilai luhur dalam etika yang bersifat universal antar lain kejujuran, kebaikan, kebenaran, rasa malu, kesucian diri, kasih sayang, hemat dan sederhana. Walaupun etika mempelajari serta mempersoalkan prilaku manusia, namun berbeda dengan psikologi, antropologi dan sosiologi yang semuanya berhubungan dengan prilaku manusia. Menurut Salam (1997:) letak perbedaannya adalah pada masalah dan fungsinya. Pada psikologi, antropologi and sosiologi fungsinya menjelaskan kepada kita bagaimana manusia bertingkah laku dan mengapa mereka bertingkah laku demikian. Sedangkan pada masalahnya, memberikan kepada kita fakta-fakta dan hukum-hukum tentang masyarakat, tentang tingkah laku manusia sementara etika menilai . Sedangkan etika tidak berhubungan dengan deskripsi dan penjelasan tingkah laku manusia beserta latar belakangnya, melainkan untuk menilai perilaku tersebut. Etika juga tidak bermaksud mengganti ilmu tersebut, dalam usahanya untuk dapat melakukan tugasnya dengan lebih teliti, lebih tepat, dan lebih bijaksana. Dapat disimpulkan, karena etika menilai perbuatan manusia, maka lebih tepat jika dikatakan bahwa objek formal etika adalah norma-norma kesusilaan atau nilai-nilai kesusilaan manusia, sementara objek materialnya adalah tingkah laku dan perbuatan manusia yang dilakukan secara sadar, sehingga dapat dikatakan bahwa etika mempelajari tingkah laku manusia ditinjau dari segi baik dan tidak baik di dalam suatu kondisi normatif, yaitu suatu kondisi yang melibatkan norma-norma. 2. Estetika Estetika merupakan bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa didalam diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang tertata secara tertib dan harmonis dalam satu kesatuan hubungan yang utuh menyeluruh. Maksudnya adalah suatu objek yang indah bukan semata-mata bersifat selaras serta berpola baik melainkan harus juga mempunyai kepribadian. “Estetika adalah mempelajari pola cita rasa yang dinilai indah (estetis) dan jelek” (Salam, 2000). Sedangkan menurut Sadulloh (2003: 41) berpendapat bahwa estetika adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan kreasi seni dengan pengalaman-pengalaman kita yang berhubungan dengan seni. Salah satu pernyataan mengenai estetika dirumuskan oleh Bell dalam Pratiwi (2009:1) “Keindahan hanya dapat ditemukan oleh orang dalam dirinya sendiri telah memiliki pengalaman sehingga dapat mengenali wujud bermakna dalam satu benda atau karya seni tertentu dengan getaran atau rangsangan keindahan”. Persoalan mengenai dasar pengalaman estetis sendiri muncul sejak abad 18 setelah berkembangnya matematika semua pemikir cenderung mencari dasar-dasar yang kuat yang bersifat matematis untuk moral, politik hingga estetika. Pada abad pertengahan pengalamn keindahan dikaitkan dengan pengalaman religi yaitu kebesaran alam ciptaan Tuhan. Pada zaman modern pengalaman keindahan dikaitkan dengan tolak ukur lain seperti fungsi efisiensi yangmemberi kepuasan, berharga bagi dirinya snediri pada cirinya sendiri dan pada tahap kesadaran tertentu. Menurut Thomas Aquino “keindahan berkaitan dengan pengetahuan”. Sesuatu bersifat indah jika menyenangkan mata si pengamat namun disamping itu terdapat penekanan pada pengetahuan bahwa pengalaman keindahan akan bergantung pada pengalaman empirik dari pengamat. Pertimbangan estetika dari pengolahan rupa setidaknya dapat didekati melalui: 1) Pemahaman karya sebagai objek estetik 2) Pemahaman terhadap manusia sebagai subjek yang mengamati atau menciptakan karya estetik. 3) Dapat disimpulkan bahwa estetis atau keindahan adalah sesuatu yang dapat menyenangkan mata si pengamat dengan pertimbangan karya sebagai objek estetik dan subjek yang mengamati serta dengan tolak ukur fungsi efisiensi yang memberi kepuasan dan berharga untuk dirinya sendiri. Dengan demikian kesenangan tersebut mengarah kepada kebaikan. Bahwa pendidikan di luar pengembang potensi individu, pendidikan dapat dilihat dari sudut pandang social, pendidikan yang diartikan sebagai pewaris nilai-nilai kepada generasi muda agar tetap terpelihara dan terlestarikan. Sebab budaya dan peradapan bisa mati bila nilai-nilai, norma-norma dan berfungsi unsur lain yang dimilikinya berenti berfungsi. Tidak diwariskan lagi dari generasi kegenerasi dan tidak lagi di amalkan oleh penganut-penganutnya (Hasan Langgulun, 1988:60). Adapun tujuan pendidikan adalah untuk mencapai pertumbuhan kepribadian manusia yang menyeluruh secara seimbang melalio latihan jiwa, inteleg, diri manusia yang rasional, persaan dan indera. Oleh karena itu pendidikan harus mencapai pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya: spiritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah, bahasa, baik secara individu maupun kolektif dan mendorong semua aspek kea rah kebaikan dan mencapai kesemprnaan (Ali Ashraf: 107). Kesimpulan/Intisari Landasan-landasan filafat pendidikan adalah ontologis, epistimologi dan aksiologi. Secara istilah ontologi adalah ilmu yang membahas hakikat yang ada yang merupakan realita baik berbentuk jasmani atau konkrit maupun rohani atau abstrak. Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Epistimologi dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Epistimologi merupakan bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan asal mula pengetahuan, batas – batas, sifat sifat dan kesahihan pengetahuan. Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu: axiosyang berarti nilai. Sedangkan logos berarti teori/ ilmu. Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai.

Last modified: Monday, 20 July 2020, 10:53 PM