Pembelajaran 4.2

Setelah mempelajari modul 4 dan pembelajaran 4.2 ini, mahasiswa diharapkan dapat:

  1. Memahami aliran filsafat
  2. Memahami pendidikan

A. Aliran Filsafat Pendidikan

1. Aliran-aliran Filsafat

Dalam filsafat dikenal beberapa aliran, antara lain aliran: rasionalisme,naturalisme, idealisme, realisme, dan pragmatisme

a. Aliran Rasionalisme

Aliran ini berpendapat bahwa semua pengetahuan bersumber pada pikiran atau rasio. Tokohnya antara lain Rene Descartes (1959-1650). Ahli filsafat yang mengatakan pengetahuan yang benar bersumber dari rasio, karena rasio adalah realitas sesungguhnya. Hal ini yang termuat dalam bukunya yang terkenal adalah Discourse on method yang memberi petunjuk mencari kebenaran antara lain memuat:

1. Arahan atau petunjuk untuk berpikir sebagai berikut:

a) Jangan mengakui sesuatu sebagai benar sebelum jelas buktinya. Kita harus meragu­ragukan sesuatu, kecuali kalau sesuatu tersebut tidak mungkin diragukan. Cara berpikir seperti ini disebutkan dengan metode keragu-raguan universal.

b) Bagilah setiap permasalahan menjadi beberapa bagian yang mungkin c) Susunlah satu pemikiran mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks d) Buatlah perincian (anumerasi) yang lengkap dan tinjaulah sekompherensif mungkin sehingga tidak ada hal penting yang terlewatkan

2. Intuisi dan Dedukasi

Rene Descartes berpendapat bahwa hanya ada satu cabang ilmu yang memberikan kepastian, matematika. Selama ini filsafat membicarakan masalah-masalah besar dalam hidup manusia, tetapi kesimpulan yang diraih masih meragukan. Maka, untuk mencapai kepastian filsafat dapat menggunakan metode matematika, sebagai berikut:

  1. Mulai dari ide bawaan yang universal dan bersifat intuitif yang disebut aksioma (self evident truths), bukan yang berasal dari pengalaman, melainkan ide yang sudah ada dalam pikiran walaupun belum disadari oleh subjek
  2. Implikasi dari kebenaran aksioma adalah ilmu matematika yang menggunakan metode penalaran dedukatif.
  3. Kriteria bagi kebenaran adalah pertama-tama ide yang dikemukan terlihat jelas sekali bedanya (clear and distrinct) sehingga tidak mungkin untuk diragukan lagi.
  4. Cogito ergo sum adalah titik tolak dalam pemikiran descartes untuk membuktikan adanya kepastian kebenaran mengenai eksistensi diri subjek yang berpikir.
  5. Berpikir yang bertitik tolak dari keberadaan diri ini akan sampai pada pembuktian adanya Tuhan.

3Argumen Descartes untuk membuktikan keberadaan Tuhan

Argumen descartes untuk membuktikan adanya Tuhan disebutnya sebagai argumen ontologis. Argumen ini dimulai dengan titik tolak pemikiran bahwa saya mempunyai ide tentang sesuatu yang sempurna. Ide tersebut jelas sekali sehingga tidak dapat diragukan lagi. Ide tentang yang sempurna itu ialah ide tentang Tuhan. Didalam ide kesempunrnaan itu termasuk kekuasaan yang sempurna, kebaikan sempurna, pengetahuan yang sempurna, dan lain-lain yang sempurna sifatnya. (Mohamad Lamsuri: 2014: 104-106).

b. Aliran Naturalisme

Aliran Naturalisme adalah mazhab filsafat paling tua dalam sejah pemikiran di Eropa. Tampaknya aliran ini dirintis oleh Thales dan kawan-kawan. Thales termasuk tokoh yang berani berpikir rasional, melepaskan diri dari takhyul. Dari pengamatan dunia di awal abad keenam sekitar perairan dan pentingnya air bagi kehidupan beliau berkesimpulan bahwa hakekat segala sesuatu tidak tersembunyi melainkan melekat pada dunia kenyataan, yaitu pastilah air. Aliran ini dipelopori oleh Leukipos dan Demokritos (awal abad ke-5/ sezaman dengan Socrates) yang berkesimpulan bahwa kenyataan alam semesta terbuat dari dua unsur, yaitu ruang kosong dan atom-atom yang bergerak. Keduanya bersama Epikurus (hidup 11/2 abad kemudian) dan Lukretius (pada abad ke-1 SM) dipandang sebagai perintis dan ahli-ahli filsafat alam (natural philosophy) di zaman Yunani kuno. Aliran ini menjadi pudar pengaruhnya selama masa kejayaan Plato dan Aristoteles disusul semaraknya pengaruh agama Nasrani dan dunia Islam yang lebih kondusif terhadap pemikiran Aristoteles. (Sampai sekarang juga tak cukup akurat kita dalam berpikir untuk menerangkan terbitnya kesadaran idealis, moralitas dan nilai-nilai spritual atas dasar zat (materi) yang bergerak Jadi pandangan filsafat materialisme kurang memadai untuk melandasi pendidikan sekalipun dalam bentuk ”behaviorisme” cukup relevan untuk menerangkan gejala proses belajar/perubahan perilaku).

c. Aliran Idealisme

Dalam banyak hal aliran filsafat Idealisme diturunkan dari filsafat rasionalisme yang berawal di zaman Yunani klasik dan berlanjut ke Eropa di abad Pertengahan. Para filosof Yunani sebelum dan sesudah Aristoteles cenderung sepakat dan berkeyakinan bahwa ”Kebenaran dan pengetahuan tidak semata-mata tergantung pada pengindraan umum melalui pancaindra, namun diperoleh dalam pengalaman melalui berpikir”, khususnya berpikir deduktif seperti diungkapkan Aristoteles dalam naskah Organon. Aliran idealisme berkeyakinan secara rasional bahwa alam semesta dihasilkan dari karya suatu instansi kecerdasan (intelligence) dan bersifat selaras dengan hakekat manusia. Instansi tersebut sering dipersonifikasi sebagai ide-ide, roh, inteligensi dan alam semesta”. Karena itu tujuan pendidikan haruslah perkembangan wujud kepribadian yang mencapai kehidupan sebaik-baiknya melalui penguasaan disiplin diri yang patut diteladani dalam upaya mewujudkan potensi-potensi dirinya yang luhur (paradigmatic self) dan tidak sekedar realisasi semua potensinya.

d. Aliran Realisme

Filsafat realisme sebagai aliran modern di Eropa (khususnya di Inggris sesudah tahun 1600 M) merupakan reaksi terhadap filsafat idealisme dan rasionalisme yang meluas sejak zaman Yunani klasik. Menurut realisme, alam semesta tidak bersifat abstrak dan psikhis. Sebaliknya realisme berasumsi bahwa alam semesta itu terdiri dari substansi materiil dan bahwa objek-objek serta peristiwa-peristiwa merupakan hal-hal yang bersifat sejati, tidak kebetulan. Ini adalah ajaran tentang prinsip kemerdekaan tentang manusia dan kenyataan yaitu bahwa pengetahuan manusia adalah pengetahuan tentang dunia nyata yang ada di luar sana yaitu alam semesta yang ada sebelum eksistensi manusia dan dunia nyata itu berlangsung terus sekalipun manusia sudah mati. Ketika manusia dapat menggunakan fantasi dan berpikir tentang segala segala sesuatu, namun pikirannya harus berkorespondensi terhadap realitas agar pengetahuan itu tidak bersifat khayal (antara lain dijelaskan Francis Bacon, 1561-1626, dalam Novum Organum).

Dalam bidang pendidikan aliran realisme terfokus pada tujuan pendidikan untuk membina kemampuan manusia melakukan interrelasi yang konstruktif dalam hubungan manusia sebagai warga masyarakat dan melakukan penyesuaian diri dengan mengelola tanpa terlalu mengekpoitasi alam. Pendidikan harus dilakukan dengan cara-cara membantu siswa dan anak untuk memahami dan menerima hukum-hukum alam dan kehidupan apa adanya karena hukum-hukum  itu menekan manusia sebagai hukum alam

e. Aliran Pragmatisme

Pragmatisme adalah aliran yang menjadi besar pengaruhnya khususnya di USA dengan ahli-ahlinya berasal dari sana dan pada abad ke-20 sampai menyaingi idealisme dan realisme. Sesungguhnya landasan berpikir pragmatik dirintis sejak zaman pra-Socrates di Yunani oleh Herakleitos, dan Protagoras (sejaman dengan Socrates). Kebiasaan rata-rata warga USA yang kurang bersimpati pada teori yang murni membawa tokoh realisme abad ke-19 seperti Charles Peirce dan William James cenderung menyelidiki terjadinya proses pengetahuan dan bagaimana hubungan antara teori dan praktek (tindakan/action).

Menurut pragmatisme manusia mampu mencapai bentuk ide (pikiran) yang jelas dan efektif khususnya apabila akibat-akibat dari penggunaan statu ide itu langsung dialami ketika terdapat desempatan untuk mencobakan baik tidaknya ide itu di dalam praktek keseharian. Justru uji kebenaran dari suatu ide terletak pada kegunaan langsung dalam pratek (The truth is in the making) dan tidak pada teori secara spekulatif. John Dewey di awal abad 20 berhasil merumuskan proses berpikir secara praktis (berciri reflektif) dengan mengidentifikasi lima tahapannya, sampai menghasilkan karya klasiknya Democracy and Education (1916) dan mempromosikan aliran pragmatismo sebagai filsafat hidup yang tidak intelektualistik sifatnya. Dengan menjadikan pragmatisme sebagai filsafat hidup, tujuan pendidikan ialah agar terwujud pertumbuhan dan perkembangan pada semua orang, khususnya dengan jalan belajar melalui pengalaman keseharian memecahkan masalah.

Dalam bidang pendidikan, aliran pragmatisme terfokus pada penerapan metode berpikir reflektif secara mendasar ke dalam kurikulum dan metode mengajar. Seorang guru dari mazhab pragmatik akan menyajikan bahan ajar pelajaran sejarah khususnya sebagai rekaman ragam pengalaman manusia dalam mengukur dan mempertimbangkan pengetahuan dan nilai berdasarkan pemahaman tentang kenyataan yang aktual (bukan kenyataan sejati yang tak terjangkau akal.

1Aliran-aliran Pendidikan

Beberapa aliran pendidikan yang telah dikemukakan oleh para ahli tentang perkembangan manusia dan hasil-hasil pendidikan yaitu sebagai berikut:

  1. Aliran Empirisme, memandangbahwa hasil pendidikan dan perkembangan itu tergantung pada pengalaman-pengalaman yang diperoleh anak didik selama hidupnya. Pengalaman itu diperolehnya diluar dirinya berdasarkan perangsang yang terserdia baginya. Tokoh dalam aliran ini adalah John Locke (1632-1704), seorang filosof berkembangsaan Inggris yang berpendapat bahwa anak yang lahir di dunia ini dianggap sebagai sehelai kertas kosong atau sebagai meja berlapis lilin (tabularasa) yang belum ada tulisan di atasnya.
  2. Aliran Nativisme, yang memandang bahwa bayi lahir dengan pembawaan baik dan pembawaan buruk. Dalam hubungannya dengan pendidikan dan perkembangan manusia, ia berpendapat bahwa hasil akhir pendidikan dan perkembangan itu ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperolehnya sejak lahir. Aliran ini berpendapat bahwa pendidikan tidak dapat menghasilkan tujuan yang diharapkan berhubungan dengan perkembangan anak didik. Tokoh aliran ini adalah Schopenhauer (1788-1869) filosof yang berkembangsaan Jerman. Aliaran Nativisme ini merupakan aliran Pesimisme dalam pendidikan. Karena, berhasil tidaknya perkembangan anak pada tingkat rendahnya dan jenis pembawaan yang dimiliki oleh anak didik yang bersangkutan.
  3. Aliran Naturalisme; dikemukakan oleh filosof Perancis J.J. Rousseau (1712-1778). Ia berpendapat bahwa semua anak yang baru lahir mempunyai pembawaan yang baik, tidak seorang anak pun lahir dengan pembawaan buruk. Aliran ini bersifat negatvisme, di mana pendidik wajib membiarkan pertumbuhan anak didik secara alamiah.
  4. Aliran Konvergensi; dikemukakan oleh seorang pakar pendidikan Jerman bernama William Stern (1871-1939). Ia berpendapat bahwa anak dilahirkan dengan pembawaan baik maupun buruk. Menurutnya, hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan, seakan-akan seperti dua garis yang menuju satu titik pertemuan. Teori konvergansi ini berpandangan bahwa : (1) pendidikan mungkin diberikan; (2) yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan itu sendiri; dan (3) pendidikan diartikan sebagia pertolongan yang diberikan pada lingkungan anak didik untuk mengembangkan pembawaan yang baik dan mencegah berkembangnya pembawaan yang buruk.

Dari keempat aliran/teori perkembangan manusia dan teori pendidikan tersebutf, bagaimana pandangan kita mengenai hal ini, khususnya bila dihubungakan dengan peranan pendidikan dan pembawaan yang telah dimiliki oleh anak sejak lahir.

Interaksi antara pembawaan dan lingkungan tersebut akan mencapai hasil yang diharapkan apabila anak sendirilah yang berperan dan berpartisipasi secara aktif dalam mencurahkan segala pengalaman yang diperolehnya. Dengan demikian, maka pendidikan sebagai suatu sistem yaitu antara pendidik, peserta didik, lingkungan pendidikan, tujuan pendidikan, isi atau kurikulum pendidikan, alat pendidikan haruslah saling melengkapi dalam upaya mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Salah satu komponen yang tidak berfungsi maka akan mempengaruhi komponen yang lainnya. Oleh sebab itu, pendidikan harus dipandangan sebagai satu sistem yang mempunyai hubungan erat antara satu dengan yang lain dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang dikehendaki.

 2Aliran Filsafat Pendidikan

Dalam filsafat pendidikan dikenal beberapa aliran antara lain: progresivisme, esensialisme, perenealisme, dan rekonstruksionisme

1. Aliran Progresivisme

Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita kehidupan, agar manusia bisa survive menghadapi semua tantangan hidup. Dinamakan instrumentalisme, karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan inteligensi manusia sebagai alat untuk hidup, untuk kesejahteraan dan untuk mengembangkan kepribadian manusia. Dinamakan eksperimentalisme, karena aliran ini menyadari dan mempraktikkan asas eksperimentalisme, karena aliran ini menyadari dan mempraktikkan asas eksperimen untuk menguji kebenaran suatu teori. Dan dinamakan environmentalisme, karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian (Muhammad Noor Syam, 1988:228-229).

Dalam pandangan pragmatisme, suatu keterangan itu benar kalau sesuai dengan realitas, atau suatu keterangan akan dikatakan benar atau sesuai dengan kenyataan (Rosydin, 2004:18). Aliran progresivisme memiliki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan meliputi: ilmu hayat, bahwa manusia mengetahui semua masalah kehidupan; antropologi, bahwa manusia mempunyai pengalaman, pencipta budaya, dengan demikian dapat mencari hal baru; psikologi, bahwa manusia akan berpikir tentang dirinya sendiri, lingkungan, pengalaman, sifat-sifat alam, dapat menguasai dan mengatur alam. Adapun tokoh-tokoh aliran progresivisme ini, antara lain, adalah William James, John Dewey, Hans Vaihinger, Ferdinant Schiller, dan Georges Santayana.

2. Aliran Esensialisme

Aliran ini merupakan aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan sejak peradapan umat manusia. Aliran ini muncul pada zaman Renaisance yang ciri-cirinya berbeda dengan progrestivisme. Aliran ini lebih fleksibel dan terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu, dan memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas ( Zuhairini, 1991: 21). Nilai-nilai yang dapat memenuhi adalah yang berasal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif selama empat abad kebelakang sejak zaman renaisance sebagai pangkal timbulnya pandangan-pandangan esensialisme awal. Tokoh dalam aliran ini adalah William C.Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L.Kandell.

Esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia, yang muncul pada zaman renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresifisme. Perbedaannya yang utama adalah memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, dimana serta terbuka untuk perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan denga doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunya tata yang jelas. Idealisme dan realisme sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.

3. Aliran Perenialisme

Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktik bagi kebudayaan dan pendidikan zaman sekarang (Muhammad Noor Syam, 1988:296). Dari pendapat ini, diketahui bahwa perenialisme merupakan hasil pemikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap tegas dan lurus. Karena itulah, perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat, khususnya filsafat pendidikan.

Pendiri utama dari aliran filsafat ini adalah Aristoteles, kemudian didukung dan dilanjutkan oleh St. Thomas Aquinas yang menjadi pembaru utama di abad ke-13 (Ali, 1993:154). Aristoteles dan Thomas Aquinas meletakkan dasar bagi filsafat ini, hingga pada pokoknya ajaran filsafat ini tidak berubah semenjak abad pertengahan. Kendati banyak bermunculan dan berjatuhan rival-rival aliran filsafat ini, namun dia tetap berlanjut dari generasi ke generasi, dari tahun ke tahun, bahkan ratusan tahun, dan tetap tumbuh dan berkembang.

Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunana konsep filsfat dan pendidikan zaman sekarang. Ini bukanlah berarti nostalgia, melainkan karena kepercayaan-kepercayaan masa lalu itu berguna bagi abad sekarang. Oleh karena itu, asas-asas filsafat perenialisme bersumber pada dua filsafat kebudayaan, yaitu perenialisme-teologis yang ada dibawah supremasi gereja katholik, khususnya menurut ajaran dan interpretasi Thomas Aquinas, dan perenialisme-sekular yang berpegang pada ide dan cita filosofis Plato dan Artoteles.

4. Aliran Rekonstruksionisme

Dalam filsafat pendidikan rekonstruksinome adalah sebuah aliran yang berupaya merubah tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Rekonstruksionisme sebagai aliran pendidikan sejak awal sejarahnya tahun 1920 sebuah karya John Dewey yang berjudul reconstruction in philosophy yang degerakan secara nyata oleh George Counts dan Harold Rugg di tahun 1930, ingin membangun masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.

Aliran rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu berawal dari kritis kebudayaan modern. Menurut mohammad Noor Syam (1985:340), kedua aliran tersebut memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran , kebinguangan, dan kesimpangsiuran.

5. Aliran Eksistensialisme

Istilah eksistensialisme dikemukakan oleh ahli filsafat Jerman Martin Heidegger (1889-1976). Eksistensialisme adalah merupakan filsafat dan akar metodologinya berasal dari metoda fenomologi yang dikembangkan oleh Hussel (1859-1938). Munculnya eksistensialisme berawal dari ahli filsafat Kieggard dan Nietzche. Kiergaard Filsafat Jerman (1813-1855) filsafatnya untuk menjawab pertanyaan “Bagaimanakah aku menjadi seorang individu)”. Hal ini terjadi karena pada saat itu terjadi krisis eksistensial (manusia melupakan individualitasnya). Kiergaard menemukan jawaban untuk pertanyaan tersebut manusia (aku) bisa menjadi individu yang autentik jika memiliki gairah, keterlibatan, dan komitmen pribadi dalam kehidupan. Nitzsche (1844-1900) filsuf jerman tujuan filsafatnya adalah untuk menjawab pertanyaan “bagaimana caranya menjadi manusia unggul”. Jawabannya manusia bisa menjadi unggul jika mempunyai keberanian untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani

Eksistensialisme merupakan filsafat yang secara khusus mendeskripsikan eksistensi dan pengalaman manusia dengan metedologi fenomenologi, atau cara manusia berada. Eksistensialisme adalah suatu reaksi terhadap materialisme dan idealisme. Pendapat materialisme bahwa manusia adalah benda dunia, manusia itu adalah materi , manusia adalah sesuatu yang ada tanpa menjadi Subjek. Pandangan manusia menurut idealisme adalah manusia hanya sebagai subjek atau hanya sebagai suatu kesadaran. Eksistensialisme berkayakinan bahwa paparan manusia harus berpangkalkan eksistensi, sehingga aliran eksistensialisme penuh dengan lukisan-lukisan yang kongkrit.

Kesimpulan/Intisari

Aliran rasionalisme adalah aliran yang berpendapat bahwa semua pengetahuan bersumber pada pikiran atau rasio. Ahli filsafat yang mengatakan pengetahuan yang benar bersumber dari rasio, karena rasio adalah realitas sesungguhnya. Aliran naturalisme adalah Aliran ini dipelopori oleh Leukipos dan Demokritos (awal abad ke-5/ sezaman dengan Socrates) yang berkesimpulan bahwa kenyataan alam semesta terbuat dari dua unsur, yaitu ruang kosong dan atom-atom yang bergerak. Aliran idealisme adalah aliran berkeyakinan secara rasional bahwa alam semesta dihasilkan dari karya suatu instansi kecerdasan (intelligence) dan bersifat selaras dengan hakekat manusia. Instansi tersebut sering dipersonifikasi sebagai ide-ide, roh, inteligensi dan alam semesta. Aliran Realisme adalah aliran modern eropa. Menurut realisme, alam semesta tidak bersifat abstrak dan psikhis. Sebaliknya realisme berasumsi bahwa alam semesta itu terdiri dari substansi materiil dan bahwa objek-objek serta peristiwa-peristiwa merupakan hal-hal yang bersifat sejati, tidak kebetulan. Aliran pragmatisme adalah aliran yang menjadi besar pengaruhnya khususnya di USA dengan ahli-ahlinya berasal dari sana dan pada abad ke-20 sampai menyaingi idealisme dan realisme. Dengan menjadikan pragmatisme sebagai filsafat hidup, tujuan pendidikan ialah agar terwujud pertumbuhan dan perkembangan pada semua orang, khususnya dengan jalan belajar melalui pengalaman keseharian memecahkan masalah.

Aliran-aliran pendidikan yaitu aliran empirisme, aliran nativisme, aliran naturalisme, aliran konvergensi. Sedangkan aliran filsafat pendidikan adalah aliran progrevisme, aliran esensialisme, aliran perenialisme, aliran rekonstruksionisme, aliran esksistensialisme.

Last modified: Tuesday, 21 July 2020, 12:21 PM