Pembelajaran 5.1

Setelah mempelajari modul 5 dan pembejalaran 5.1, mahasiswa diharapkan dapat:
1. Menjelaskan filsafat pendidikan progresivisme
2. Memahami prinsip-prinsip pendidikan

1. Filsafat Pendidikan Progresivisme
Aliran Progresivisme, progress (maju) adalah sebuah fahan filsafat yang lahir dan sangat berpengaruh dalam abad ke-20. Aliran filsafat ini kelahiran Amerika dan pengaruhnya terasa di seluruh dunia yang mendorong usaha pembaharuan di dalam lapangan pendidikan. Aliran ini bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.
Pada dasarnya aliran ini memandang bahwa pendidikan adalah sebagai wadah untuk menjadikan anak didik yang memiliki kualitas dan terus maju (progress) sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru. Melalui pandangannya “the liberal road culture”, maksudnya ialah pandangan hidup yang mempunyai sifat-sifat fleksibel, curious, toleran dan open-minded, serta menolak segala otoritarisme dan absolutism seperti yang terdapat dalam agama, politik, etika dan epistimologi. Dan pandangannya tentang menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah dari manusia yang diwarisi sejak lahir, sehingga manusia merupakan makhluk biologis yang utuh dan menghormati harkat dan martabat manusia sebagai pelaku/subjek di dalam hidupnya. Dengan pandangan=pandangannya tersebut, aliran progresivisme memiliki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, yang memliputi: ilmu hayat (manusia untuk mengetahui semua masalah kehidupan), antropoli (manusia mempunyai pengalaman, pencipta budaya, dengan demikian, dapat mencari hal baru), psikologi (manusia akan berpikir tentang dirinya sendiri, lingkungan dan pengalaman-pengalamannya, dan dapat mengusai serta mengatur sifat-sifat alam).
Aliran ini menyadari dan mempraktekan asas progresivisme dalam semua realita kehidupan. Agar manusia dapat bisa selamat menghadapi semua tantangan hidup. Dinamakan ‘intrumentalisme’ , karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup, untuk kesejahteraan dan untuk mengembangkan kepribadian manusia. Dinamakan ‘’eksperimentalisme’’, untuk menguji kebenaran suatu teori. Dinamakan “enviromentalisme’’, karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian.
Aliran progresivisme memiliki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan meliputi ilmu hayat, antropologi, dan juga psikologi. Adapun tokoh-tokoh aliran progresivisme ini, antara lain adalah
William James, John Dewey, Hans Vaihinger, Ferdinant Schiller, dan George Santayana. Wiliam James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organic. Harus mempunyai fungsi biologis dan nilai berkelajutan hidup. Dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Disini, James berusaha membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis yang meneparkannya di atas dari ilmu perilaku.
John Dewey, ide filsafatnya yang utama berkisar dalam problema pendidikan yang konkret, baik teori maupun praktek. Reputasi internasionalnya terletak dalam sumbangan pemikirannya terhadap filsafat pendidikan progresivisme Amerika. Menurut John filsafat progresivisme bermuara pada aliran filsafat pragmatism yang diperkenalkan oleh William James dan John dewey, yang menitik beratkan pada segi manfaat bagi hidup praktis. Filsafat progresivisme dipengaruhi oleh ide-ide dasar filsafat pragmatism yang telah memberikan konsep dasar atas yang utama, bahwa agar manusia bisa selamat menghadapi semua tantangan hisup, manusia harus pragmatis memandang kehidupan.
Pandangan progresivisme tantang realitas, seperti halnya pandangan John Dewey dalam buku Uyoh Sadulloh (2015: 145) bahwa perubahan dan ketidaktetapan merupakan esensi dari realitas. Menurut progresivisme, pendidikan selalu dalam proses pengembangan, penekanannya adalah perkembangan individu, masyarakat, dan kebudayaan. Pendidikan harus siap memperbaharui metode, kebijaksanaannya, berhubungan dengan perkembangan sains danteknologi, serta perubahan lingkungan.
Uuntuk memperoleh pengetahuan yang benar, kaum progresif sepakat dengan pandangan Dewey, yaitu menekankan pengalaman indera, belajar sambil bekerja, dan mengembangkan intelegensi, sehingga anak dapat menemukan dan memecahkan masalah yang dihadapi.
Kualitas atau hasil dari pendidikan, tidak ditentukan dengan menentukan atau menetapkan suatu ukuran yang berlaku secaa mulak dan abadi. Norma atau nilai kebenaran yang abad tidak dapat dijadikan ukuran untuk menentukan berhasil tidaknnya usaha pendidikan. Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu rekonstruksi pengalaman yang berlaku secara terus menerus.

a. Perhatian Terhadap Anak
Proses belajar terpusat kepada anak, namun hal ini tidak berarti bahwa anak-anak akan diizinkan untuk mengikuti semua keinginannya, karena ia belum cukup matang unuk menentukan tujuan yang memadai. Anak memang banyak berbuat dalam menentukan proses belajar, namun ia bukan penentu akhir. Siswa membutukan bimbingan dan arahan dari guru dalam melaksanaka aktivitas.
Pangalaman anak adalah rekonstruksi yang terus menerus dari keinginan dan kepentingan pribadi. Mereka aktif bergerak untuk mendapatkan isi mata pelajaran yang logis. Guru mempengaruhi pertumbuhan siswa, tidak dengan menjejalkan informasi ke dalam kepadaanak melainkan dengan pengawasan dengan lingkungan dimana pendidikan berlangsung. Pertumbuhan diartikan sebagai peningkatan intelegensi dalam pengelolaan hidup dan adaptasi yang intelegan (cerdas) terhadap lingkungan.

b. Tujuan Pendidikan
Sekolah merupakan masyarakat demkrastis dalam ukuran kecil, dimana siswa akan belajar dan prektek keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi dengan pengalamannya, siswa akan mampu mengahadapi perubahan dunia karena realitas berubah terus menerus kaum progresif tidak memusatkan perhatiannya terhadap body of knowledge yang pasti, sama seperti halnya dengan pandangan perenialisme dan esensialisme kaum progresif menekankan “bagaimana berfikir” bukan “apa yang dipikirkan”.
Tujuan pendidikan adalah memberikan keterampilan dan alat-alat yang bermanfaat untuk berinteraksi denga lingkunganyang berada dalam proses perubahan secara terus menerus. Yang dimaksud dengan alat-alat adalah keterampilan pemecahan masalah (problem solfing) dalam memecahkan masalah. Proses belajar terpusatkan pada perilaku dan sangat berevolusi kooperatif dan disiplin diri dimana kebudayaan sangat dan sangat dibutukan dan sangat berfungsi dalam masyarakat.
Berkaitan dengan tujuan pendidikan, maka aliran progresivisme lebih menekankan pada memberikan pengalaman empiris kepada peserta didik, sehingga terbentuk pribadi yang selalu belajar dan berbuat (Muhmidayeli, 2012:156). Maksudnya pendidikan dimaksudkan untuk memberikan banyak pengalaman kepada peserta didik dalam upaya pemecahan masalah yang dihadapi di lingkungan sehari-hari. Dalam hal ini, pengalaman yang dipelajari harus bersifat riil atau sesuai dengan kehidupan nyata. Oleh karenanya, seorang pendidik harus dapat melatih anak didiknya untuk mampu memecahkan problem-problem yang ada dalam kehidupan.
Sejalan dengan itu, tujuan pendidikan progresivisme harus mampu memberikan keterampilan dan alat-alat yang bermanfaat untuk berinteraksi dengan lingkungan yang berbeda dalam proses perubahan secara terus menerus.Yang dimakssud dengan alat-alat adalah keterampilan pemecahan masalah (problem solving) yang dapat digunakan oleh individu untuk menentukan, menganalisis, dan memecahkan masalah.Pendidikan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan memecahkan berbagai masalah baru dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial, atau dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar yang berada dalam proses perubahan.
Menurut Barnadib, sebagaimana dikutip Jalaluddin dan Abdullah Idi (2011:89) progresivisme menghendaki pendidikan yang progres. Dalam hal ini, tujuan pendidikan hendaklah diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus-menerus. Pendidikan bukan hanya menyampaikan pengetahuan kepada anak didik, melainkan yang terpenting melatih kemampuan berpikir secara ilmiah.
Dalam konteks pendidikan di Indonesia, maka tujuan pendidikan menurut progresivisme ini sangat senada dengan tujuan pendidikan nasional yang ada di Indonesia. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Jadi berdasarkan pengertian ini, maka aliran progresivisme sangat sejalan dengan tujuan pendidikan yang ada di Indonesia.
Pandangan mengenai belajar, filsafat progressivisme mempunyai konsep bahwa anak didik mempuyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang merupakan suatu kelebihan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain. Kelebihan anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan dengan sifat kreatif dan dinamis, anak didik mempunyai bekal untuk menghadapi dan memecahkan problema-problemanya.
John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi (Suwarno, 1992: 62-63). Artinya disini sebagai proses pertumbuhan dan proses dimana anak didik dapat mengambil kejadian-kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. Maka dari itu dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan, sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah saja.
Jadi sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannyan berintegrasi dengan lingkungan sekitar. Filsafat progressivisme menghendaki isi pendidikan dengan bentuk belajar "sekolah sambil berbuat" atau laerning by doing (Zuhairini, 1991: 24).
Tegasnya, akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. Perlu diketahui bahwa sekolah bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge (pemindahan pengetahuan) akan tetapi sekolah juga berfungsi sebagai transfer of value atau pemindahan nilai-nilai, sehingga anak menjadi trampil dan berintelektual baik secara fisik maupun psikis.
John Locke (1632-1704) mengemukakan, bahwa sekolah hendaknya ditujukan untuk kepentingan pendidikan anak. Sekolah dan pengajaran hendaknya disesuaikan dengan kepentingan anak (Suparlan, 1984: 48). Kemudian Jean Jacques Rosseau (1712-1778), menyatakan anak harus dididik sesuai dengan alamnya; jangan dipandang dari sudut orang dewasa. Anak bukan miniatur orang dewasa, tetapi anak adalah anak dengan dunianya sendiri, yaitu berlainan sekali dengan alam orang dewasa (Ahmadi, 1992: 34-35).
Beranjak dari ketiga pendapat di atas, berarti sekolah sebagai wiyata mandala (lingkungan pendidikan) sebagai wadah pembinaan dan pendidikan anak-anak didik dalam rangka menumbuh kembangkan segenap potensi-potensi baik itu bakat, minat dan kemampuan-kemampuan lain agar berkembang kearah maksimal. Guru sebagai pendidik bertanggung jawab akan tugas pendidikannya.

c. Pandangan tentang Belajar
Kaum progresif menolak pandangan bahwa belajar secara esensisal merupakan penerimaan pengetahuan sebagai suatu substansi abstrak yang diisikan ke dalam jiwa anak. Pengetahuan menurut pandangan progresif merupakan alat untuk mengatur pengalaman,untuk menangani situasi baru secara terus menerus, dimana perubahan itu merupakan tantangan dihadapan manusia.
Manusia harus dapat berbuat dengan pengetahuan. Oleh karena itu pengetahuan harus bersumber pada pengalaman. Menurut Dewey kita harus mempelajari apa saja dari sains eksperimental. Penelusuran pengetahuan abstrak harus di artikan ke dalam pengalaman pendidikan yang aktif. Apabila siswa menghasilkan suatu apresiasi yang nyata yang berkaitan dengan ide-ide politik dan social, kelas (sekolah) itu sendiri harus menjadi eksperimen kehidupan dalam demokrasi social. Pengalaman dan eksperimen merupakan kata-kata kunci dalam kegiatan belajar.
Dewey tidak menolak isi kurikulum tradisonal sebaliknya kurikulum tersebut perlu dipelihara dan dikuasai selanjutnya Dewey mengatakan bahwa yang perlu di ingat adalah materi pelajaran atau isi pelajaran selalu berubah terus menerus sesuai dengan perubahan yang berlaku dalam lingkungannya oleh karena itu, pendidikan tidak hanya dibatasi pada sekedar pengumpulan informasi dari guru atau dari teks boks saja. Belajar bukan penerimaan dan penerapan terhadap pengetahuan terdahulu yang telah ada, melainkan suatu rekontruksi yang terus menerus sesuai dengan penemuan-penemuan baru. Oleh karena itu, pemecahan masalah (dengan metode ilmiah) harus dilihat bukan hanya dengan sekedar penyelidikan pengetahuan fungsional, melinkan sebagai suatu kaitan yang secara terus menerus dengan subject matter.

d. Kurikulum dan Peranan Guru
Dewey menyatakan bahwa "the good school is cocerned with every kind of learning that helps student, young and old, to grow" (2: 124). "sekolah yang baik ialah yang memperhatikan dengan sunguh-sungguh semua jenis belajar (dan bahannya) yang membantu murisd, pemuda dan orang dewasa, untuk berkembang."
Sikap progresivisme, yang memandang segala sesuatu berasaskan fleksibilitas, dinamika dan sifat-sifat lain yang sejenis, tercermin dalam pandangannya mengenai kurikulum sebagai pengalaman yang edukatif, bersifat eksperimental dan adanya rencana dan susunan yang teratur. Landasan pikiran ini akan diuraikan serba singkat. Yang dimaksud dengan pengalaman yang edukatif adalah peng alaman apa saja yang serasi tujuan menurut prinsip-prinsip yang digariskan dalam pendidikan, yang setiap proses belajar yang ada membantu pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Oleh karena tiada standar yang universal, maka terhadap kurikulum haruslah terbuka kemungkinan akan adanya peninjauan dan penyempurnaan. Fleksibilitas ini dapat membuka kemungkinan bagi pendidikan untuk memperhatikan tiap anak didik dengan sifat-sifat dan kebutuhannya masing-masing. Selain ini semuanya diharapkan dapat sesuai dengan keadaan dan kebutuhan setempat.
Oleh karena sifat kurikulum yang tidak beku dan dapat direvisi ini, maka jenis yang memadai adalah kurikulum yang "berpusat pada pengalaman". Selain jenis ini, menurut progresivisme, yang dapat dipandang maju adalah tipe yang disebut "Core Curriculum", ialah sejumlah pengalaman belajar di sekitar kebutuhan umum.
Core curriculum maupun kurikulum yang bersendikan peng alaman perlu disusun dengan teratur dan terencana. Kualifikasi semacam ini diperlukan agar pendidikan dapat mempunyai proses sesuai dengan tujuan, tidak mudah terkait pada hal-hal yang insidental dan tidak penting. Maka, jelaslah bahwa lingkungan dan penga laman yang diperlukan dan yang dapat menunjang pendidikan ialah yang dapat diciptakan dan ditujukan ke arah yang telah ditentukan. Kurikulum yang memenuhi tuntutan ini di antaranya adalah yang di susun atas dasar teori dan metode proyek, yang telah diciptakan oleh William Heard Kilpatrick.
Kurikulum disusun sekitar pengalaman siswa baik pengalaman pribadi maupun pengalaman social. Sains social sering dijadikan pusat pembelajaran yang digunakan dengan pengalaman-pengalaman siswa, dan dalam pemecahan masalah serta dalam kegiatan proyek. Pemecahan masalah akan mengakibatkan kemampuan berkomunikasi, proses matematis dan penelitan ilmiah oleh kerena itu, kurikulum seharusnya menggunakan pendekatan interdisipliner. Buku merupakan alat dalam proses belajar, bukan sumber pengetahuan. Metode yang dipergunakan addalah metode ilmiah dalam inkuiri dan metode problem solfing.
Peran guru adalah membimbing siswa-siswi dalam kegiatan pemecahan masalah, dalam kegiatan proyek mungkin akan banyak guru yang kurang senang terhadap peran ini karena didasarkan atas sesuatu anggapan bahwa siswa mampu berpikir dan mengadakan penjelajahan terhadap kebutuhan dan minat sendiri.
Guru harus menolong siswa dalam menentukan dan memilih masalah-masalah yang bermakna menemukan sumber-sumber data yang relevan menafsirkan dan menilai akurasi data, serta merumuskan kesimpulan. Guru harus mampu menganalisis, terutama pada saat apakah memerlukan bantuan khusus dalam suatu kegiatan, sehingga ia dapatmeneruskan penelitiannya. Guru dituntut untuk sabar, fleksibel berfikit interdisipliner kreatif dan cerdas.

e. Prinsip-prinsip Pendidikan
Secara umum terdapat beberapa prinsip pendidikan: menurut pandangan progresivisme, yang penulis syarikan dari tulisan Kneller (1971).
1. Pendidikan adalah hidup itu sendiri, bukan persiapan untuk hidup, kehidupan yang baik adalah kehidupan intelegen, yaitu kehidupan yang mencakup interprestasi dan rekonstruksi pengalaman. Anak akan memasuki situasi belajar yang disesuaikan dengan usianya yang beroientasi pada pengalaman. Tidak ada tujuan umum dan akhir pendidikan. Pendidikan adalah pertumbuhan berikutnya.
2. Pendidikan harus berhubungan secara langsung dengan minat anak, minat individu, yang dijadikan sebagai dasar motivasi belajar. Sekolah menjadi “(Child centered)’’dimana proses belajar ditentukan pertama oleh anak. Secara kodrati anak suka belajar apa saja yang berhubungan dengan minatnya atau untuk memecahkan masalah begitu pula pada dasarnya anak akan menolak apa yang dipaksakan padanya.
Anak akan belajar dan mau belajar karena merasa perlu tidak karena terpaksa oleh orang lain. Anak akan mampu melihat relevansi dari apa yang dipelajari terhadap kehidupannya bahkan juga terhadap konsepsi kehidupan oleh orang dewasa.
3. Belajar melalui pemecahan masalah akan menjai presenden terhadap pemberian subjek matter jadi belajar harus dapat memecahkan masalah yang penting dan bermanfaat bagi kehidupan anak. Dalam memecahkan suatu masalah, anak dibawa berpikir melewati beberapa tahapan yang disebut metode berpikir ilmiah sebagai berikut:
a. Anak menghadapi keraguan, merasakan adanya masalah;
b. Menganalisis masalah tersebut dan menduga atau menyusun hipotesis-hipotesi yang mungkin;
c. Mengumpulkan data yang akan membatasi dan memperjelas masalah;
d. Memilih dan menganalisis hipotesis;
e. Mencoba menguji dan membuktikan.

4. Peranan guru tidak langsung melainkan memberikan petunjuk kepada siswa. Kebutuhan dan minat siswa akan menenetukan apa yang mereka pelajari. Anak harus di izinkan untuk merencakan pengembangan diri mereka sendiri, dan guru harus membimbing kegiatan belajar;
5. Sekolah harus memberikan semangat bekerja sama bukan mengembangkan pesaingan. Manusia pada dasarnya social dan keputusan yang paling besar pada manusia karena ia berkomunikasi dengan yang lain. Progresivisme berpandangan bahwa kasih sayang dari persodaraan lebih berharga bagi pendidikan dari pada persaingan usaha pribadi. Karena itu, pendidikan adalah rekontriksi manusia dalam kehidupan social. Persaingan tidak ditolak namun persaingan tersebut harus mampu mendorong pertumbuhan pribadi
6. Kehidupan yang demokratis merupakan kondisi yangdi perlukan bagi pertumbuhan.demokrasi, pertumbuhan, dan pendidikan yang saling berhubungan. Untuk mengajar demokras, sekolah sendiri harus demokratis. Sekolah harus meningkatatkan “student government“, diskusi bebas tentang suatu masalah, partisipasi penuh dalam semua pengalaman pendidikan. namun, sekolah tidak mengidoptrinasi siswa-siswa dengan tata social yang baru.
Meskipun pragmatisme-progressivisme sebagai aliran pikiran baru muncul dengan jelas pada pertengahan abad ke 19, akan tetapi garis perkembangannya dapat ditarik jauh ke belakang sampai pada zaman Yunani purba. Misalnya Heraclitus (± 544 - ± 484), Socrates (469 - 399), Protagoras (480 - 410), dan Aristoteles mengemukakan pendapat yang dapat dianggap sebagai unsur-unsur yang ikut menyebabkan terjadinya sikap jiwa yang disebut prag matisme-progressivisme. Heraclitus mengemukakan, bahwa sifat yang terutama dari realita ialah perubahan. Tidak ada sesuatu yang tetap di dunia ini, semuanya berubah-ubah, kecuali asas per ubahan itu sendiri. Socrates berusaha mempersatukan epistemologi dengan axiologi. la mengajarkan bahwa pengetahuan adalah kunci untuk kebajikan. Yang baik dapat dipelajari dengan kekuatan intelek, dan pengetahuan yang baik menjadi pedoman bagi manusia untuk melakukan kebajikan (perbuatan yang baik). la percaya bahwa manusia sanggup melakukan yang baik.
Dalam asas modern - sejak abad ke-16 - Francis Bacon, John Locke, Rousseau, Kant dan Hegel dapat disebut sebagai penyumbang-penyumbang pikiran dalam proses terjadinya aliran pragmatisme-progressivisme. Francis Bacon memberikan sumbang an dengan usahanya untuk memperbaiki dan memperhalus motode experimentil (metode ilmiah dalam pengetahuan alam). Locke dengan ajarannya kebebasan politik. Rousseau dengan keyakinannya bahwa kebaikan berada di dalam manusia melulu karena kodrat yang baik dari para manusia. Menurut Rousseau manusia lahir sebagai makhluk yang baik. Kant memuliakan manusia, menjunjung tinggi akan kepribadian manusia, memberi martabat manusia suatu kedudukan yang tinggi. Hegel mengajarkan, bahwa alam dan masyarakat bersifat dinamis, selamanya berada dalam keadaan gerak, dalam proses perubahan dm penyesuaian yang tak ada hentinya.
Dalam abad ke 19 dan ke 20 ini tokoh-tokoh pragmatisme terutama terdapat di Amerika Serikat. Tkinas Paine dan Thomas Jefferson memberikan sumbangan pada pragmatisme karena kepercayaan mereka akan demokrasi dan penolakan terhadap sikap yang dogmatis, terutama dalam agama. Charles S. Peirce mengemuka kan teori tentang pikiran dan hal berpikir: pikiran itu hanya berguna atau berarti bagi manusia apabila pikiran itu "bekerja", yaitu memberikan pengalaman (hasil) baginya. Fungsi berpikir tidak lain dari pada membiasakan manusia untuk berbuat. Perasa an dan gerak jasmaniah (perbuatan) adalah manifestasi-manifestasi yang khas dari aktivitas manusia dan kedua hal itu tak dapat di pisahkan dari kegiatan intelek (berpikir)

Kesimpulan/Intisari
Aliran Progresivisme, progress (maju) adalah sebuah fahan filsafat yang lahir dan sangat berpengaruh dalam abad ke-20. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Aliran progresivisme memiliki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan meliputi ilmu hayat, antropologi, dan juga psikologi. Adapun tokoh-tokoh aliran progresivisme ini, antara lain adalah William James, John Dewey, Hans Vaihinger, Ferdinant Schiller, dan George Santayana. Wiliam James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik.
Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu rekonstruksi pengalaman yang berlaku secara terus menerus. 1) Perhatian terhadap anak, 2) tujuan pendidikan, 3) pandangan tentang belajar, 4) kurikulum dan peranan guru. Pendidikan harus berhubungan secara langsung dengan minat anak, minat individu, yang dijadikan sebagai dasar motivasi belajar.

Last modified: Tuesday, 21 July 2020, 12:26 PM