Pembelajaran 5.2

1. Filsafat Pendidikan Essensialisme
Essensialisme berasal dari kata essensial yang berarti sifat-sifat dasar atau dari kata asesnsi (pokok). Essensialisme mempunyai pandangan bahwa pendidikan sebagai pemelihara kebudayaan. Aliran ini ingin kembali kepada kebudayaan lama, warisan sejarah yang telah membuktikan kebaikan-kebaikan bagi kehidupan manusia. Aliran ini berpedoman pada peradaban sejak zaman Renaissance. Pada zaman Renaissance telah berkembang dengan megahnya usaha-usaha untuk menghidupkan kembali ilmu pengetahuan dan kesenian serta kebudayan purbakala, terutama dizaman Yunani dan Romawi. Dalam zaman Renaissance muncul tahap-tahap pertama dari pemikiran essensialis yang berkembang selanjutnya sepanjang perkembangan zaman Renaissance itu sendiri, yang mempunyai ciri-ciri utama yang berbeda dengan aliran progresifisme. Perbedaannya yang utama adalah memberikan dasar berpijak kepada pendidikan yang penuh fleksibel, dimana serba terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu.
Essensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak kepada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai tertinggi yang tata dan jelas. Paham filsafat idialisme Plato dan faham idialisme Aristoteles adalah dua aliran pikiran yang membetuk konsep-konsep berpikir golongan isensialisme. Jadi pandangan filsafat essensialisme meramu dan menampung dua aliran filsafat itu (tetapi tidak lebur jadi satu dan tidak melepaskan sifat yang utama pada masing-masing), yang kemudian mereka terapkan pula dalam bidang pendidikan.
Essesnsialisme didasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah keduniawian, serba ilmiah dan materialistik. Selain itu juga diwarnai oleh pandangan-pandangan dari paham penganut idialisme yang bersifat spiritual dan realisme yang titik berat tujuannya adalah mengenai alam dan dunia fisik. Adapun beberapa tokoh utama yang berperan dalam penyebaran essensialisme, yaitu:
• Desiderius Erasmus (akhir abad 15)
• Johan Amos Comenius (1592 – 1670)
• John Locke (1632 – 1704)
• Johan Heinrich Pestalozzi (1746 – 1827)
• Johan Friedrich Frobel (1782 – 1852)
• Johan Friedrich Herbert (1776 – 1841)
• William T. Harris (1835-1909)
Berbicara tentang perubahan, esensialisme berependapat bahwa perubahan merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat diubah dalam kehidupan social. Mereka mengakui evolusi manusia dalam sejarah, namun evolusi itu harus terjadi sebagai hasil desakan masyarakat secara terus- menerus. Perubahan terjadi sebagai kemampuan intelegensi manusia yang mampu mengenal kebutuhan untuk mengadakan cara-cara bertindak, organisasi, dan fungsi sosial.

a. Konsep Pendidikan
1. Gerakan Back to Basic
Gerakan back to basic yang dimulai dipertengahan tahun 1970-an adalah dorongan skala besar yang mutakhir untuk menerapkan program-program sesnsialis di sekolah-sekolah. Yang terpenting lainnya, yang dikemukakan kaum esensialis, bahwa sekolah-sekolah harus melatih/ mendidik siswa untuk berkomunikasi dengan jelas dan logis. Keterampilan-keterampilan inti dalam kurikulum haruslah berupa membaca, menulis, berbicara, dan berhitung, serta sekolah memiliki tanggungjawab untuk memperhatikan apakah semua siswa menguasai keterampilan- keterampilan tersebut.
Ahli pendidikan esensialis tidak memandang anak sebagai orang yang jahat, dan tidak pula memandang anak sebagai orang yang secara alamiah baik. Anaka-anak tersebut taka akan menjadi anggota masyarakat yang berguna., kecuali kalau anak-anak secara aktif dan penuh semangat diajarkan secara disiplin, kerja keras, dan rasa hormat pada pihak berwenang/punya otoritas. Kemudian, para guru adalah membentuk para siswa, menangani isntiling-instiling alamiah dan nonproduktif mereka (seperti agresi, kepuasan indera tanpa nalar, dll.) di bawah pengawasan sampai pendidikan mereka selesai.
Menurut filsafat esensialisme, pendidikan sekolah harus bersifat praktis dam memberi anak-anak pengajaran yang logis yang mempersiapkan mereka untuk hidup, sekolah tidak boleh mencoba mempengaruhi atau menetapkan kebijakan kebijakan sosial. Walaupun mereka kritik-kritik terhadap esensialisme mendakwa bahwa orientasi yang terikat tradisi pada pendidikan sekolah akan mengindoktrinasi siswa dan mengesampingkan kemungkinan perunbahan. Kaum esensialis menjawab bahwa dengan tanpa suatu pendekatan esensialis, para siswa akan terindoktrinasi pada kurikulum humanistik dan/atau behavioral yang menjalankan perlawanan pada standar-standar kebutuhan yang diperlukan masyarakat untuk ditata.
Para pemikir esesnsialisme pada umumnya tidak memiliki kesatuan garis karena mereka berpandangan pada filsafata yang berbeda. Namun, diantara mereka ada kesepakatan tentang prinsip dasar filsafat esensilaisme yang berkaitan dengan pendidikan. Berikut ini penulis uraikan beberapa konsep dasar yang berkaitan dengan pendidikan.

2. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah untuk meneruskan warisan budaya dan warisan budaya melalui pengetahuan inti yang terakumulasi dan telah bertahandalam kurun waktu yang lama, serta merupakan suatu kehidupan yang telah teruji oleh waktu dana dikenal oleh semua orang. Pengetahuan tersebut bersama dengan skill,sikap, dan nilai-nilai yang memadai, akan mewujudkan elemen-elemen pendidikan yang esensial. Tugas siswa adalah menginternalisasikan atau menjadikan milik pribadi elemen-elemen tersebut.
Selain merupakan warisan budaya, tujuan pendidikan esensialisme adalah mempersiapkan manusia untuk hidup. Namun, hidup tersbut sangat kompleks dan luas, sehingga kebutuhan-kebutuhan untuk hidup tersebut berada di luar wewenang sekolah. Hal ini tidak berarti bahwa sekolah tidak dapat memberikan konstribusi untuk mempersiapkan hidup tersebut. Konstribusi sekolah terutama bagaimana merancang sasaran mata pelajaran sedemikian rupa, terutama tujuan pelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan, yang pada akhirnya memadai untuk mempersiapkan manusia hidup.

3. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar
Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Menurut idealisme, bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Pandangan Immanuel Kant, bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera merperlukan unsur apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu.
Bila orang berhadapan dengan benda-benda, tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunyai bentuk, ruang dan ikatan waktu. Bentuk, ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. Jadi, apriori yang terarah bukanlah budi kepada benda, lelapi benda-benda itu yang terarah kepada budi. Budi membentuk, mengatur dalam ruang dan waktu.
Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri.
Seorang filosuf dan ahli sosiologi yang bernama Roose L. Finney menerangkan tentang hakikat sosial dari hidup mental. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan rohani yang pasif, yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang telah tertentu yang diatur oleh alam. Berarti pula bahwa pendidikan itu adalah sosial. Jadi belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilai-nilai sosial angkatan baru yang timbul untuk ditambah dan dikurangi dan di teruskan kepada angkatan berikutnya. Dengan demikian pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas:
1. Determiuisme mutlak, menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya, jadi harus ada, yang bersama-sama membentuk dunia ini. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis.
2. Determinisme terbatas, memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka, namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan.

4. Desain Kurikulum
Pada tahun 1930 telah didirikan suatu organisasi “Essentialists Committee for Advancement Of Education”, dalam rangka mempertahankan paham essensialime, khususnya dari persaingan dengan aliran progresivisme. Dan pada tahun 1950-an, di Amerika didirikan sebuah organisasi yang disebut dengan dewan untuk pendidikan dasar (Council for basic education) yang merupakan jawaban terhadap apa yang dirasakan oleh sebagaian para ahli pendidikan, dengan adanya kecurangan-kecurangan yang terjadi berangsur-angsur dalam tubuh pendidikan Amerika, disebabkan timbulnya yang disebut “pendidikan progresiv”. Tujuan umum aliran progressivisme adalah membentuk pribadi bahagia dunia dan akhirat. Isi pendidikannya mencangkup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakan kehendak manusia.
Kurikulum yang digunakan di sekolah bagi essensialime merupakan semacam miniature dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan kegunaan. Maka dalam sejarah perkembangannya, kurikulum essensialisme merupakan bagian pola kurikulum, seperti pola idealism. Butler mengemukakan bahwa sejumlah anak untuk setiap angkatan baru haruslah dididik untuk mengetahui dan mengagumi kitab suci, sedangkan, Demih Kevich menghendaki agar kurikulum berisikan moralitas yang tinggi. Ataupun pola kurikulum realism, yang mengumpamakan kurikulum sebagai balok-balok yang disusun dengan teratur satu sama lain yaitu disusun dari paling sederhana sampai kepada yang komplek. Susunan ini dapat diutarakan ibarat sebagai susunan dari alam, yang sederhana merupakan fundamen atau dasar dari susunannya yang paling komplek. Jadi bila kurikulum atas dasar pikiran yang demikian akan bersifat harmonis. Dengan demikian, peranan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan bisa berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan kenyataan sosial yang ada di masyarakat.
Menurut Essensialime pendidikan harus didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak peradaban umat manusia, kebudayaan yang mereka wariskan kepada kita hingga sekarang telah teruji oleh segala zaman, kondisi dan sejarah. Kebudayaan yang demikian adalah esensi yang mampu pula mengemban hari kini dan masa depan umat manusia. Kebudayaan bersumber itu tersimpul dalam ajaran para filsof, ahli-ahli pengetahuan yang besar, yang jaran dan nilai-nilai ilm mereka bersifat menetap.
Menurut essensialime kebudayaan modern sekarang terdapat kesalahan, yaitu kecendrungannya, bahkan gejala-gejala penyimpangan dari jalan lurus yang yang telah ditanamkan kenudayaan warisan. Fenomena-fenomena sosial- kultur yang tidak kita inginkan sekarang, hanya dapat dibatasi dengan kembali secara sadar melalui pendidikan, yaitu kembali kejalan yang telah ditetapkan iti, dalam hal pendidikan oleh essensialime menyebutkan “Education as cultural conservation”.
Adapun para pemikir besar yang telah dianggap sebagai peletak dasar asas-asas filsafat aliran ini, terutama yang hidup pada zaman klasik; Plato, Aristoteles, Demakritos,. Plato sebagai bapak obyektive idealism dan juga sebagai peletak dasar teori modern dalam essensialim. Sedangkan Aristoteles dan Demokritus, keduanya bapak obyektive realism. Kedua ide itulah yang menjadi latar belakang thesis-thesis essensialime.

Kesimpulan/Intisari
Essensialisme berasal dari kata essensial yang berarti sifat-sifat dasar atau dari kata asesnsi (pokok). Essesnsialisme didasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah keduniawian, serba ilmiah dan materialistik. Selain itu juga diwarnai oleh pandangan-pandangan dari paham penganut idialisme yang bersifat spiritual dan realisme yang titik berat tujuannya adalah mengenai alam dan dunia fisik. Menurut filsafat esensialisme, pendidikan sekolah harus bersifat praktis dam memberi anak-anak pengajaran yang logis yang mempersiapkan mereka untuk hidup, sekolah tidak boleh mencoba mempengaruhi atau menetapkan kebijakan kebijakan sosial. Menurut Essensialime pendidikan harus didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak peradaban umat manusia, kebudayaan yang mereka wariskan kepada kita hingga sekarang telah teruji oleh segala zaman, kondisi dan sejarah.

Last modified: Tuesday, 21 July 2020, 12:47 PM