Pembelajaran 6.1

Setelah mempelajari modul 6 dan pembelajaran 6.1 ini, mahasiswa diharapkan dapat:
1. Memahami filsafat pendidikan perenialisme
2. Memahami hakikat pendidikan
3. Menjelaskan tujuan umum pendidikan

1. Filsafat Pendidikan Perenialisme
a. Pandangan Perennialisme
Parenialisme diambil dari kata perennial, yang artinya kekal atau abadi. Dari makna yang terkandung dalam kata itu, aliran perennialisme mengandung kepercayaan filsafat yang berpegang pada nilai- nilai dan norma-norma yang bersifat kekal abadi. Aliran filsafat ini termasuk pendukung yang kuat dari filsafat essensialime. Pendiri utama dari filsafat ini adalah Aristoteles yang kemudian di dukung dan dilanjutkan oleh Thomas Aquinas, sebagai reforme utama pada abad ke-13.
Dengan melihat kehidupan zaman modern telah menimbulkan banyak krisis, dibidang kehidupan umat manusia. Untuk mengatasi krisis ini, perennialisme memberikan jalan keluar berupa “ regressive road to culture”. Oleh sebab itu perennialisme memandang penting peranan pendidikan dalam proses mengembalikan ke adaan manusia zaman modern ini kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal, untuk supaya sikap yang membanggakan kesuksesan dan memulihkan kepercayaan pada nilai-nilai asasi masa silam
Asas-asas filsafat perennialisme bersumber pada dua filsafat kebudayaan, yaitu perennialisme theologis, yang ada dalam pengayoman supremasi gereja katolik, khususnya menurut ajaran dan intrepretasi Thomas Aquinas, dan perenialisme sekuler, yakni yang berpegang teguh pada ide dan cita filososfis Plato dan Aristoteles.
Pandangan-pandangan Thomas Aquinas sangat berpengaruh dalam lingkungan gereja katolik. Demikian pula dalam pandangan-pandangan aksiomatis lain seperti yang diutarakan oleh Plato dan Aristoteles. Selain itu juga semunya mendasari konsep filsafat pendidikan perennialisme.
Di bidang pendidikan perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokonnya seperti Plato, Aristoteles dan Thomas Aquinas. Dalam hal ini, pokok pikiran Plato tentang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai adalah menifestasi daripada hokum yang universal, yang abadi dan sempurna, yakni ideal. Sehingga ketertiban sosial hanya akan mungkin bila ide itu menjadi ukuran, asas normative alam tata pemerintahan. Maka tujuan utama pendidikan ialah membina pemimpin yang sadar dan mempraktekan asas-asas yang normative itu dalam semua aspek kehidupan.
Menurut Plato, manusia secara kodrati memiliki tiga potensi, yaitu nafsu, kemauan dan pikiran. Pendidikan hendaknya berorientasi pada ketiga potensi tersebut dan kepada masyarakat, agar supaya kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. Ide-ide Plato itu dikembangkan oleh Aristoteles dengan lebih mendekatkan pada dunia kenyataan. Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah kebahagiaan. Untuk mencapai pendidikan itu , maka aspek jasmani, emosi dan intelek harus dikembangkan secara seimbang.
Seperti halnya prinsip-prinsip Plato dan Aristoteles., tujuan pendidikan yang dikehendaki Thomas Aquinas adalah sebagai usaha untuk mewujudkan kapasitas yang adadalam individu agar menjadi aktivitas, aktif dan nyata. Dalam hal ini peranan guru adalah mengajar (memberi bantuan pada anak didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri anak didik)
Perennialisme dalam konteks pendidikan di bangun atas dasar suatu keyakinan ontologisnya, bahwa batang tubuh pengetahuan yang berlangsung dalam ruang dan waktu ini mestilah terbentuk melalui dasar-dasar pendidikan yang diterima manusia dalam kesejarahannya. Robert M. Hutchins, dalam buku Muhmidayeli (2011: 163) salah seorang tokoh perennial menyimpulkan, bahwa tugas pokok pendidikan adalah pengajaran. Pengajaran menunjukan pengetahuan sedangkan pengetahuan itu sendiri adalah kebenaran.
Kebenaran pada prinsip manusia adalah sama, oleh karena itu dimana pun dan kapanpun ia akan selalu sama.
Prinsip mendasar pendidikan bagi aliran perennial ini adalah membantu subjek-subjek didik menemukan dan menginternalisasikan kebenaran abadi, karena memang kebenarannya mengandung sifat universal dan tetap, kebenaran-kebenara seperti ini hanya dapa diperoleh subjek-subjek didik melalui latihan intelektual yang dapat menjadikan pikirannya teratur dan teristematisasi sedemikian rupa. Hal ini semakin penting terutama jika dikaitkan dengan persoalan pengembangan spiritual manusia.
Aliran ini meyakini bahwa pendidikan adalah transfer ilmu pengetahuan tantang kebenaran abadi. Pengetahuan adalah suatu kebenaran sedangkan kebenaran selamanya memiliki kesamaan. Oleh karena itu pula maka penyelenggaraan pendidikan pun dimana-mana mestilah sama. Pendidikan mestilah mencari pola agar subjek-subjek didik dapat menyesuaikan diri bukan pada dunia saja, tetapi hendaklah pada hakikat-hakikat kebenaran. Penyesuaian diri pada kebenaran merupakan tujuan belajar itu sendiri. Oleh karena itu, para perennialis memandang, bahwa tuntutan tertinggi dalam pemikiran subjek-subjek didik akan menjadi nyata melalui pelatihan-pelatihan intelektual. Cara mudah untuk mengajar subjek-subjek didik adalah dengan cara menumbuhkan keinginan untuk belajar. Realisasi diri sangat tergantung pada disiplin diri, sedangkan disiplin diri itu sendiri dapat diraih melalui disiplin eksternal. Berdasarkan pemikiran ini, maka perenialis sampai pada suatu kesimpulan, bahwa belajar adalah upaya keras untuk memperoleh sesuatu ilmu pengetahuan melalui disiplin tinggi dalam latihan pengembangan prinsip-prinsip rasional.
Sifat rasional manusia yang diyakini ini telah pula menjadikannya mesti meyakini kebebasan individu, sehingga kebebasan dan kemerdekaan merupakan asas yang mesti di hargai dalam penyelenggaraan pendidikan supaya subjek didik terbiasa berbuat atas kehendak dan kemampuan sendiri yang akan berujung pada penanaman rasa tanggung jawab.
Makna hakiki dari belajar, menurut aliran ini, adalah belajar untuk berpikir. Aliran ini meyakini bahwa dengan cara latihan berpikir, subjek didik akan memiliki senjata ampuh dalam menghadapi berbagai rintangan yang akan menurunkan martabat kemanusiaannya, seperti kebodohan, kebingungan, keragu-raguan dan ignoransi. Tugas seorang subjek didik menurut aliran ini adalah mempelajari berbagai berbagai karya dalam berbagai literatur filsafat, sejarah dan sains, sehingga dengan demikian ia berkenalan dengan berbagai prestasi di masa lalu menuju pembentukan pemikiran yang akan mengisi kehidupannya dalam membangun prestasi-prestasinya pula. Para subjek didik dalam hal ini mesti meraih subjek-subjek dasar tertentu yang akan mengajarkan kepadanya hal-hal yang permanen tentang dunia. Subjek-subjek dasar bahasa, sejarah, matematik, pengetahuan alam, filsafat dan seni merupakan hal penting yang sangat berguna bagi mereka dalam mengembangkan pemikirannya, sehingga dengan demikian mereka pun memiliki kemanapun rasional yang kukuh dalam menghadapi tantangan realitas kehidupannya.
Perenialisme membedakan belajar kepada kedua wilayah besar, yaitu wilayah pengajaran dan wilayah penemuan. Yang pertama belajar memerlukan bantuan guru. Guru dalam hal ini memberikan pengetahuan dan pencerahan kepada sbjek-subjek didik, baik dengan cara menunjukan maupun menafsirkan implikasi dari pengetahuan yang diberikan. Sedangkan yang kedua, tidak lagi membutuhkan guru karena subjek didik dalam pola ini diharapkan telah dapat belajar atas kemampuannya sendiri.
Mengingat tugas utama pendidikan dalam aliran perennialisme ini adalah mempersiapkan subjek didik ke arah kematangan rasionalisme dalam menghadapi berbagai problema dan kesulitan kehidupan, maka aliran ini pun tidak mengabaikan pengalaman tidak langsung ataupun langsung yang diperlukan subjek didik dalam mempelajari kebutuhan riilnya.
Aliran perenialisme meyakini, bahwa tugas sekolah tingkat dasar adalah pendidikan watak dengan mengaksentuasikan perhatian kepada kebajikan-kebajikan moral. Untuk kepentingan ini, perlu adanya upaya penamaan dan latihan yang memadai agar kebajikan moral itu bener-bener tertanam secara kuat. Pendidikan dasarnya belum dapat dijadikan moral itu benar-benar tertanam secara kuat. Pendidikan dasar belum dapat dijadikan sebagai dasar pemcaharuan sosial dalam arti yang sesungguhnya, sehingga eksistensinya tidak pula dapat disebut sebagai badan untuk mengadakan transformasi sosial.

b. Hakikat Pendidikan
Tentang pendidikan kaum perenialisme memandang education as cultur regression: pendidikan sebagai jalan kembali, atau proses mengembalikan keadaaan manusia sekarang seperti dal;am masa lampau yang dianggap sebagai kebudayaan ideal. Tugas pendidikan adalah memberikan pengetahuan tentang nilai-nilai kebenaran yang pasti, absolut, dan abadi yang terdapat dalam kebudayaan masa lampau yang dipandang sebagai kebudayaan ideal tersebut.sejalan dengan hal diats, penganut perenialisme percaya bahwa prinsip-prinsip pendidikan juga bersifat universal dan abadi.
Filsafat pendidikan perenialisme mempunyai empat prinsipdalam pembelajaran secara umum yang mesti dimiliki manusia, yaitu:
a. Kebenaran yang bersifat universaldan tidak tergantung pada tempat, waktu ,dan oramg.
b. Pendidikan yang baik melibatkan pencarian pemahaman atas kebenaran.
c. Kebenaran dapat ditemukan dalam karya-karya agung.
d. Pendidikan adalah kegiatan liberal utuk mengembangkan nalarbeberapa pandangan Tokoh perenialisme terhadap pendidikan.
a. Menurut plato pendidikan adalah yang ideal harus didasarkan didasarkan paham, atas nafsu, kemauan, dan akal.
b. Menurut Aritoteles pendidikan perkembangan budi merupakan titik pusat perhatian dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya.
c. Menurut Thomas Aquina pendidikan adalah menuntut kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif.

c. Tujuan Umum Pendidikan
Membantu anak menyingkap dan menanamkan kebenaran -kebenaran hakiki. Oleh karena itu kebenaran-kebenaran itu universal dan konstan, maka kebenaran-kebenaran itu hendaknya menjadi tujuan-tujuan pendidikan yang murni. Kebenaran-kebenaran hakiki dapat dicapai dengan sebaik-baiknya melalui:
1) Latihan intelektual secara cermat untuk melatih pikiran.
2) Latihan karakter sebagai cara mengembangkan manusia secara sepiritual.
Pendidikan menurut tokoh-tokoh aliran perenialisme berikut ini:
a) Menurut plato pendidikan adalah membina atau memimpin yang sadar akan asas normative dan melaksanakanya dalam aspek kehidupan.
b) Menurut Arithoteles pendidikan adalah membentuk kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral.
c) Menurut thomas Aquinas pendidikan adalah menuntun kemampauan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif.

d. Hakikat Guru
Tugas utama pendidikan adalah guru, dimana tugas pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran(pengetahuan) kepada anak didik . Faktor keberhasilan anak dalam akalnya adalah guru, berikut pandangan aliran perenialisme mengenai guru.
a) Guru mempunyai peran yang dominan dalam penyelengaraan kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas.
b) Guru hendaknya adalah orang yang menguasai cabang ilmu, yang bertugas membimbing diskusi yang akan memudahkan siswa dalam menyimpulkan kebenaran, yang tepat, tanpa cela, dan dipandang sebagai orang yang memiliki otoritas dalam suatu bidang pengetahuan dan kehlianya tidak diragukan.

e. Hakikat Murid
Murid dalam aliran perenialisme merupakan mahkluk yang di bimbing oleh prinsip-prinsip pertama, kebenaran-kebenaran abadi, pikiran mengangkat dunia biologis. Hakikat pendidikan upaya proses transformasi pengetahuan dan nilai pada subyek didik. Mencangkup totalitas aspek kemanusiaan , kesadaran, dan sikap dan tindakan kritis, terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya. Pendidikan bertujuan mencapai tujuan kepribadian manusia yang menyeluruh secara seimbang melalui latihan jiwa, intelek, diri manusia yang rasianaol, perasaan dan indera, karena itu pendidikan harus mencanggkup pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya.

f. Proses Belajar Mengajar
Tuntutan tertinggi dalam belajar menurut perenialisme, adalah latihan dan disiplin mental.
Teori dasar dalam belajar menurut perenialisme terutama:
a) Mental disiplin sebagai Teori Dasar
Menurut perenialisme latihan dan pembinaan berfikir adalah sa;ah satu kewajiban tertinggi dalam belajar, karena program pada umumnya dipusatkan kepada kemampuan berfikir.
b) Rasionalitasdan Asas Kemerdekaaan
Asas berfikir dan kemerdekaan harus menjadi tujuan utama pendidikan, otoritas berfikir harus disempurnakan sesempurna mungkin. Dan makna pendidikan hendaknya membantu manusia untuk dirinya sendiri yang membedakanya dari mahkluk yang lain. Fungsi belajar harus diabdiakn bagi tujuan itu, yaitu aktualisai diri manusia sebagai mahkluk rasional yang bersifat merdeka.
c) Learning to Reason( belajar untuk berfikir)
Bagaimana tugas berat ini dapat dilaksanakan yakni belajar supaya mampu berfikir, perenialisme tetap percaya dengan asas pembentukan kebiasaan dalam permulaan pendidikan anak. Kecakapan membaca, menulis, dan menghitung merupakan landasan dasar. Dan berdasarkan pentahapan itu, maka learning to reason menjadi tutjuan pokok pendidikan tinggi.
d) Belajar sebagai Persiapan Hidup
Belajar untuk mampu berfikir bukanlah semata-mata tujuan kebajikan moral dan kebajikan intelektual dalam rangka aktua;itas sebagai filosofis, belajar untuk berfikir pula guna untuk memenuhi fungsi practical philoshopy baik etika , sosial politik , ilmu dan seni.

g. Desain Kurikulum Perennialisme
Prinsip-prinsip pendidikan perennialisme tersebut, perkembangannya telah mempengaruhi sistem pendidikan modern, sperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar, menengah, perguruan tinggi dan pendidika orang dewasa. Perenialisme merupakan merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad ke 20. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpasyian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, inteletual, dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji.
Perenialisme memandnag bahwa pendidikan harus didasari nilai-nilai kutural masa lampau (regresive road the cultural) oleh karena kehidupanmodern saat sekarang banyak menimbulkan krisis dalam banyak bidang kehidupan. Masa lampau, terutama zaman abad pertengahan Eropa telah membuktikan keefektivan nilai-nilai yang diamalkan dalam kehidupan. Nilai tersebut ternyata cukup ideal, tangguh dan teruji keberhasilannya dalam kehidupan manusia.
Watak umum perenialisme tersimpul dalam makna istilah yang menjadi nama aliran ini. Istilah “perenial” berarti Everlasting” atau abadi. Kepercayaan filsafat perenialisme ialah nila-nilai. Norma-norma yang bersifat kekal abadi, bahkan keabadian, bahkan keabadian itu sendiri. Perenialisme mengambil analogi realita sosial budaya manusia, seperti realita sepohon bunga. Pohon bunga ini akan berguna musim demi musim, matang dan pergi secara tetap sepanjang tahun dan masa. Demikianlah pola perkembangan kebudayaan manusia, aba demi abad. Era demi era, bahkan untuk selama-lamanya akan tetap mengulangi apa yang pernah dialaminya. Untuk perlu kembali kepada asas kebudayaan silam yang abadi itu.

Kesimpulan/Intisari
Parenialisme diambil dari kata perennial, yang artinya kekal atau abadi. Pendiri utama dari filsafat ini adalah Aristoteles yang kemudian di dukung dan dilanjutkan oleh Thomas Aquinas, sebagai reforme utama pada abad ke-13. Asas-asas filsafat perennialisme bersumber pada dua filsafat kebudayaan, yaitu perennialisme theologis, yang ada dalam pengayoman supremasi gereja katolik, khususnya menurut ajaran dan intrepretasi Thomas Aquinas, dan perenialisme sekuler, yakni yang berpegang teguh pada ide dan cita filososfis Plato dan Aristoteles. Aliran ini meyakini bahwa pendidikan adalah transfer ilmu pengetahuan tantang kebenaran abadi. Pengetahuan adalah suatu kebenaran sedangkan kebenaran selamanya memiliki kesamaan.
Aliran perenialisme meyakini, bahwa tugas sekolah tingkat dasar adalah pendidikan watak dengan mengaksentuasikan perhatian kepada kebajikan-kebajikan moral. Untuk kepentingan ini, perlu adanya upaya penamaan dan latihan yang memadai agar kebajikan moral itu benar-benar tertanam secara kuat. Pendidikan dasarnya belum dapat dijadikan moral yang tertanam secara kuat. Pendidikan dasar belum dapat dijadikan sebagai dasar pembaharuan sosial dalam arti yang sesungguhnya, sehingga eksistensinya tidak dapat disebut sebagai badan untuk mengadakan transformasi sosial.

Last modified: Tuesday, 21 July 2020, 1:05 PM