Pembelajaran 6.2

Setelah mempelajari modul 6 dan pembelaran 6.2 ini, mahasiswa diharapkan dapat:
1. Memahami filsafat pendidikan rekonstruksionisme
2. Mehami filsafat pendidikan eksistensialisme
3. Pandangan Filsafat Eksistensialisme tentang Realitas, Pengetahuan, Nilai, dan Pendidikan

A. Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme
1. Pandangan Rekonstruksionisme
Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggris “reconstruct” yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks pendidikan, aliran ini adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahaun 1930, ingin membangun masyarakat yang pantas dan adil.
Aliran rekonstruksionisme dalam suatu prinsip sependapat dengan perenialisme. Tetapi aliran rekonstruksionisme tidak sependapat dengan cara yang ditempuh filsafat perenialisme. Rekonstruksionisme berusa membina suatu konsensus yang paling luas dan paling mungkin tentang tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia. Rekonstruksionalisme berusaha mencari kesempatan semua orang tentang tujuan utama yang dapat mengautur tata kehidupan manusia dalam suatu tata susunan baru seluruh lingkungannya. Dengan kata lain, rekonstruksionalisme ingin merombak tata susunan yang lama, dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang sama sekali baru, melalui lembaga dalam proses pendidikan.
Tujuan ini hanya mungkin diwujudkan melalui usaha kerja sama, kerja sama semua bangsa-bangsa, penganut aliran ini yakni bahwa telah tumbuh kesadaran dan konsensus seperti dimaksud diseluruh dunia. Mereka percaya bahwa telah ada hasrat yang sama dari bangsa-bangsa tentang cita-cita yang tersimpul dalam ide rekonstruksionisme.
Aliran ini yakin bahwa pendidikan tidak lain adalah tanggung jawab sosial. Hal ini mengingat eksistensi pendidikan dalam keseluruhan realistasnya diarahkan untuk pengembangand dan atau perubahan masyarakat. Rekonstruksionisme tidak saja berkonsentrasi tentang hal-hal yang berkenaan dengan hakikat manusia, tetapi juga terhadap teori belajar yang dikaitkkan dengn pembentukan kepribadian subjek didik yang berorientasi pada masa depan. Oleh karena itu pula, maka idealisnya terletak pada filsafat pendidikannya. Bahkan penetapann tujun dalam hal ini merupakan seuatu yang penting dalam aliran ini. Segala sesuatu yang diidamkan untuk masa depan suatu masyarakat mesti ditentukan secara jelas oleh pendidikan.
Para rekonstruksionisme menginginkan, bahwa pendidikan dpat memunculkan kesadaran para subjek didik untuk senantiasa memperhatikan persolan sosial, ekonomi dan politik dan menjelaskan kepada mereka bahwa memecahkan masalahh kesemua program itu hanya melalui keterampilan memecahkan problem. Tujuan alairan ini tidak lain adalah untuk membangun masyarakat baru, yakni suatu masyarakat global yang memiliki hubungan interdependensi.
Rekonstruksionisme percaya bahwa manusia memiliki potensi fleksibel dan kukuh baik dalam sikap maupun dalam tindakan. Adalah suatu hal yang paling berharga dalam kehidupan manusia itu, jika ia memiliki kesempatan yang cukup untuk mengembangkan potenssi naturalnya secara sempurna. Pendidikan dalam haal ini adalah jawaban atas keinginan potensial manusia itu.
Muhammad Iqbal menyebutkan, bahwa tujuan pendidikan adalah mampu membangun dunia bagi masyarakat dengan menggunakan kemampuan akal, indra dan intuisi. Oleh karena itu ketiga aspek ini mesti tertuang dalam kurikulum pendidikan itu. Pendidikan harus menjadikan subjek didiknya mampu menggunakan ilmu pengetahuan yang diperolehnya sebagai wahana bagi perelisasian nilai-nilai spiritual. Pendidikan mmenurutnya mesti mampu memandang situasi aktual dengan tidak melihat manusia secara sebahagian-bagian. Pendidikan baru harus mampu menjadikan ilmu-ilmu pengetahuan sebagai wahana bagi realisasi nilai- nilai spiritual. Untuk itu perlu adanya upaya integrasi intelektual dan cinta, sebab hidup bukanlah rutinitas, tetapi seni yang kreatif, konstruktif, dan inovatif.
John Dewey sebagai seorang tokoh awal pergerakan aliran ini mengatakan, bahwa pengembangan watak manusia ini selalu berinteraksi dengan kondisi-kondisi yang mengelilinginya dalam menghasilkan budaya. Oleh karena itu manusia selalu beradaptasi dengan lingkungan masyarakatnnya. Manusia adalah bagian terpenting dalam sebuah masyarakat, sehingga apapun yang ia lakukan selalu berkenaan dengan pembentukan kebudayaannya. Masalah perbedaan biologis dan perbedaan individu berfungsi dalam suatu bentuk sosial namun itu bukanlah sifat asli yang dapat memisahkan suatu bangsa, kelompok, dan kelas tertentu dari yang lainnya. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kebebasan adalah hak esensial manusia, namun dalam pengembangannya memerlukan hubungan sesuatu yang berada diluar dirinya dan disinilah manusia mesti menjadi bagian dalam suatu masyarakat. Mengingat manusia adalah bagian dalam suatu masyarakat, maka penndidikan secara efisien mesti mengacu pada kepentingan rekonstruksi masyarakat.
Rekonstruksi percaya bahwa pendidikan sebagai suatu lembaga msyarakat tentulah diarahkan pada upaya rekayasa sosial, sehingga segala aktivitasnya pun senantiasa merupakan solusi bagi berbagai problem kehidupan dalam masyarakat. Sekolah dalam hal ini menjadi agen perubahan sosial, politik dan ekonomi yangg primer. Oleh karena itu lembaga penddidikan mesti memiliki komitmen untuk menciptakan masyarakat baru yang sarat dengan nilai-nilai dasar budaya dan sosial ekonomi yang akan membentuk harmonisasi suatu masyarakat. Pendidikan dalam hal ini mesti diarahkan pada perubahan pola pikir masyarakat., sehingga tenknologi-teknologi yang begitu besar lebih dijadikan sebagai sumber kreativitas dari pada untuk menghancurkan.
John Dewey mengungkpkapkan, bahwa demokrasi akan memperoleh legitimasi, sebab ia bersentuhan langsung dengan standar dasar rasionalits. Dengan pola demokrasi, swmua orang mempunyai hak mengeluarkan endapat dan adu argumentasi. Oleh kareta itu, demokrasi merupakan suatu pola yang menjunjung tinggi hakikat humnitas.
Dalam bidang pendidikan, bukan berarti semua subjek didik dianggap mempunyai kapasitas yang sama dan intelaktual dan kreativitas, sehingga sekolah tidak mesti harus diorganisasikan secara secara politis seperti pada masyarakat demokrasi, sebab kenddatipun kodrat manusia bebas belajar dan mengembangkan diri, bukan berarti ia boleh berbuat apa saja tanpa dapat dibatasi dan diarahkan.
Muhammad Iqbal dalam hal ini tampaknya lebih menginginkan pendidikan yang sesuai dengan watak manusia yakni suatu pendidikan yang mengaksentuasikan aktivitasnya pada pemberikan pengetahuan kepada subjek didik melalui metode problem solving, suatu cara yang efektif untuk melatih verpikir kreatif, kritis, dan inovatif. Dengan cara ini merurutnya dapat membentuk cakrawala berpikir subjek didik sedemikian rupa sehingga menjadi manusia-manusia yang tanggap akan berbagai problematika kehidupannya dalam masyarakat.
Guru menurut aliran ini bertugas meyakini subjekk didiknya tentang urgensi rekonstruksi dalam memajukan kehidupan sosial kemasyarakatan dan membiasakan mereka untuk sensitif terhadap berbagi problema yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat serta mencairkan solusi yang diperlukan menuju perbaikan dan perubahan-perubahan. Untuk itu, seorang guru dituntut untuk memiliki keterampilan dalam membantu dan menyediakan kondisi kepada subjek didik agar subjek didiknya mampu dan keterampilan dalam memberikan solusi terhadap berbagai masalah sosial, ekonomi, dan politik yang tumbuh dalam masyarakat. Seorang guru mesti berani berbeda pandangan sebagai lambang dari suatu kreativitas dalam memberikan solusi terhadap persoalan persoalan yang dipikirkan.
Kinsley price dalam hal ini menggaris bawahi, bahwa hal-hal mendasar dalam aliran ini tercermin dalam pemilihan corak aktivitas pembelajaran sebagai berikut:
a) segala sesuatu yang bercorak otokrasi mesti dihindari, sehingga yang belajar terhindar dari unsur pemaksaan
b) guru mesti dapat meyakinkan subjek didiknya akan kemampuannya dalam memecahkan masalah, sehingga masalah yang ada dalam subject matters dapat di atasi
c) untuk menumbuhkembangkan keinginan belajar subjek didik, seorang guru mesti mampu mengenali setiap diri subjek didik secara individu.
d) seorang guru mesti dapat menciptakan kondisi kelas sedemikian rupa sehingga interaksi guru dengan subjek didik dan semua yang hadir dalam suatu ruangan kelas dapat berkomunikasi dengan baik, tanpa ada yang menunjukan sikap otoriter (Muhmidayeli, 2011:177-189).

2. Pendidik
Disini pendidik harus mampu membantu siswa untuk meyadari masalah-masalah yang ada disekitarnya dan mampu menstimulus mereke untuk tertarik memecahkan masalah tersebut. Guru juga harus terampil dalam membantu peserta didik untuk mampu menghadapi kontroversi dan perubahan-perubahan yang terjadi. Guru berusaha membantu siswa dalam menentukan minat dan kebutuhannya. Sesuai dengan minat masing-masing siswa baik individu maupun kelompok dalam pemecahan suatu masalah.
a. Peserta didik
Untuk menimbulkan jiwa sosial pada peserta didik, kita harus menanamkan pendidikan karakter dan moral sejak dini. Seperti sistem pendidikan di Jepang,disana anak SD sejak dini sudah diajarkan hidup mandiri dan saling melayani satu sama lain. Contohnya para murid disana setiap habis makan siang selalu bergantian mencuci peralatan makan temannya. Hal ini ini dimaksudkan agar mereka merasa tidak adanya kesenjangan sosial. Jadi meskipun dari anak seorang keluarga terpandang pun harus tetap mau mencuci peralatan makan temannya sehingga tidak adanya harus tinggi hati akibat status sosialnya.
b. Desain kurikulum
Aliran rekonstruksionalisme berkeyakinan bahwa tuga penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat akan menimba kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.
Kemudian aliran ini memiliki potensi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur. Diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Cita-cita demokrasi yang sungguh bukan hanya sekedar teori tetapi harus menjadi kenyataan, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme dan agama (kepercayaan). Tujuan program pendidikan setiap tahun berubah. Misalnya dalam pendidikan ekonomi –politik, pada tahun pertama tujuannya membangun kembali dunia ekonomi politik. Maka kegiatan yang dilakukan adalah;
1. Mengadakan survai secara kritis terhadap masyarakat
2. Mengadakan study tentang hubungan antara keadaan ekonomi lokal,nasional serta dunia
3. Mengadakan study tentang latar belakang historis dan kecenderungan –kecenderungan perkembangan ekonomi,hubungannya dengan ekonomi lokal
4. Mengkaji praktek politik dalam hubungannya dengan faktor ekonomi
5. Memantapkan rencana perubahan praktek politik
6. Mengevaluasi semua rencana dengan kriteria apakah telah memenuhikepentingan sebagian besar orang.
c. Metode
Guru berusaha membantu siswa dalam menemukan minat dan kebutuhannya. Sesuai dengan minat masing-masing siswa, baik dalam kegiatan pleno atau kelompok berusaha memecahkan masaalah sosial yang dihadapi dengan kerja sama.
d. Evaluasi
Dalam kegiatan evaluasi para siswa juga dilibatakan, keterlibatan mereka terutama dalm memilih, menyusun dan menilai bahan yang akan diujikan.soal yang akan diujikan dinilai terlebih dahulu baik ketepatan maupun keluasan isinya, juga keampuhan menialai pencapaian tujuan –tujuan pembangunan masyarakat yang sifatnya kualitatif. Evaluasi tidak hanya menilai apa yang dikuasi siswa, tetapi juga menilai pengaruh keggiatan sekolah terhadap masyarakat.pengaruh tersebut terutama menyangkut perkembangan masyarakat dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat.

2. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Istilah eksistensialisme dikemukakan oleh ahli filsafat Jerman Martin Heidegger (1889-1976). Eksistensialisme adalah merupakan filsafat dan akar metodologinya berasal dari metoda fenomologi yang dikembangkan oleh Hussel (1859-1938). Munculnya eksistensialisme berawal dari ahli filsafat Kieggard dan Nietzche. Kiergaard Filsafat Jerman (1813-1855) filsafatnya untuk menjawab pertanyaan “Bagaimanakah aku menjadi seorang individu)”. Hal ini terjadi karena pada saat itu terjadi krisis eksistensial (manusia melupakan individualitasnya). Kiergaard menemukan jawaban untuk pertanyaan tersebut manusia (aku) bisa menjadi individu yang autentik jika memiliki gairah, keterlibatan, dan komitmen pribadi dalam kehidupan. Nitzsche (1844-1900) filsuf jerman tujuan filsafatnya adalah untuk menjawab pertanyaan “bagaimana caranya menjadi manusia unggul”. Jawabannya manusia bisa menjadi unggul jika mempunyai keberanian untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani
Eksistensialisme merupakan filsafat yang secara khusus mendeskripsikan eksistensi dan pengalaman manusia dengan metedologi fenomenologi, atau cara manusia berada. Eksistensialisme adalah suatu reaksi terhadap materialisme dan idealisme. Pendapat materialisme bahwa manusia adalah benda dunia, manusia itu adalah materi , manusia adalah sesuatu yang ada tanpa menjadi Subjek. Pandangan manusia menurut idealisme adalah manusia hanya sebagai subjek atau hanya sebagai suatu kesadaran. Eksistensialisme berkayakinan bahwa paparan manusia harus berpangkalkan eksistensi, sehingga aliran eksistensialisme penuh dengan lukisan-lukisan yang kongkrit.
Eksistensi oleh kaum eksistensialis disebut Eks bearti keluar, sintesi bearti berdiri. Jadi ektensi bearti berdiri sebagai diri sendiri. Gerakan eksistensialis dalam pendidikan berangkat dari aliran filsafat yang menamakan dirinya eksistensialisme, yang para tokohnya antara lain Kierkegaard (1813 – 1915), Nietzsche (1811–1900) dan Jean Paul Sartre. Inti ajaran ini adalah respek terhadap individu yang unik pada setiap orang. Eksistensi mendahului esensi. Kita lahir dan eksis lalu menentukan dengan bebas esensi kita masing-masing. Setiap individu menentukan untuk dirinya sendiri apa itu yang benar, salah, indah dan jelek. Tidak ada bentuk universal, setiap orang memiliki keinginan untuk bebas (free will) dan berkembang. Pendidikan seyogyanya menekankan refleksi yang mendalam terhadap komitmen dan pilihan sendiri.
Manusia adalah pencipta esensi dirinya. Dalam kelas guru berperan sebagai fasilitator untuk membiarkan siswa berkembang menjadi dirinya dengan membiarkan berbagai bentuk pajanan (exposure) dan jalan untuk dilalui. Karena perasaan tidak terlepas dari nalar, maka kaum eksistensialis menganjurkan pendidikan sebagai cara membentuk manusia secara utuh, bukan hanya sebagai pembangunan nalar. Sejalan dengan tujuan itu, kurikulum menjadi fleksibel dengan menyajikan sejumlah pilihan untuk dipilih siswa. Kelas mesti kaya dengan materi ajar yang memungkinkan siswa melakukan ekspresi diri, antara lain dalam bentuk karya sastra film, dan drama. Semua itu merupakan alat untuk memungkinkan siswa ‘berfilsafat’ ihwal makna dari pengalaman hidup, cinta dan kematian.
Eksistensialisme biasa dialamatkan sebagai salah satu reaksi dari sebagian terbesar reaksi terhadap peradaban manusia yang hampir punah akibat perang dunia kedua.[1] Dengan demikian Eksistensialisme pada hakikatnya adalah merupakan aliran filsafat yang bertujuan mengembalikan keberadaan umat manusia sesuai dengan keadaan hidup asasi yang dimiliki dan dihadapinya.
Eksistensialisme menjadi salah satu ciri pemikiran filsafat abad XX yang sangat mendambakan adanya ekonomi dan kebebasan manusia yang sangat besar untuk mengaktualisasikan dirinya. Dari perspektif eksistensialisme, pendidikan sejatinya adalah upaya pembebasan manusia dari belenggu-belenggu yang mengungkungnya sehingga terwjudlah eksistensi manusia kea rah yang lebih humanis dan beradab. Beberapa pemikiran Eksistensialisme dapat menjadi landasan semacam bahan renungan bagi para pendidik agar proses pendidikan yang dilakukan semakin mengarah pada keautentikan dan pembebasan manusia yang sesungguhnya. Di Indonesia pengaruh Eksistensialisme tampak sekali dalam pemikiran Driyarkarya tentang manusia dan pendidikan. Tetapi, beberapa pemikiran Eksistensialisme yang lain (Eksistensialisme ateistik) perlu dikritisi bila dilihat dalam konteks masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai religious.
Eksistensialisme merupakan filsafat yang bersifat antropologis karena memusatkan perhatian pada atonomi dan kebebasan manusia. Maka, ahli memandang Eksistensialisme sebagai salah satu bentuk dari humanism. Hal ini juga di akui oleh Jean Paul Sartre sang filsuf Eksistensialisme yang sangat terkenal. Eksistensialismeadalah salah satu pendatang baru dalam dunia filsafat. Eksistensialisme hampir sepenuhnya merupakan produk abad XX. Dalam banyak hal Eksistensialisme lebih dekat dengan sastra dan seni daripada filsafat formal. Tidak diragukan lagi bahwa Eksistensialisme memusatkan perhatiannya pada emosi manusia dari pada pikiran.
Eksistensialisme tidak harus dipandang sebagai sebuah aliran filsafat dalam arti yang sama sebagaimana tradisi filsafat sebelumnya. Eksistensialisme mempunyai ciri:
a. Penolakan untuk dimasukan dalam aliran filsafat tertentu
b. Tidak mengakui adekuasi system filsafat dan ajaran keyakinan (agama)
c. Sangat tidak puas dengan system filsafat tradisional yang bersifat dangkal, akademis dan jauh dari kehidupan
Individualism adalah pilar sentral dari Eksistensialisme. Kaum Eksistensialisme tidak mengakui sesuatu itu sebagai bagian dari tujuan alam raya ini. Hanya manusia yang individual yang mempunyai tujuan.
Eksistensialisme berakar pada karya Soren Kierkegaard (1813-1855) dan Friederich Nietzsche (1844-1900). Kedua orang ini bereaksi terhadap impersonalisme dan formalism dari ajaran Kristen dan filsafat spekulatif Hegel. Kierkegard mencoba merevitalisasi ajaran Kristen dari dalam dengan memberi tempat pada individu dan pean pilihan dan komitmen pribadi. Pada sisi lan, Nietzsche menolak kekristenan, menyatakan kematian tuhan dan memperkenalkan ajarannya tentang superman (manusia super).
Eksistensialisme telah berpengaruh khususnya sejak perang dunia II. Pencaharian kembali akan makna menjadi penting dalam dunia yang telah menderita depresi berkepanjangan dan diperparah dengan dunia perang dunia yang dampaknya ternyata sangat besar. Hal ini kemudian menjadi pemicu bagi kaum eksistensialisme memperbaharui pencaharian akan makna dan signifikan sebagai akibat dari adanya dampak system industry modern yang mendehumanisasikan manusia. Eksistensialisme merupakan penolakan yang luas terhadap masyarakat yang telah merampas individualism manusia. Juru bicara eksistensialisme yang berpengaruh pada abad XX termasuk adalah Karl Jaspers, Gabriel Marcel, Martin Heidegger, Jean Paul Sartre dan Albert Camus.
Sebagai pendatang baru di dunia filsafat, eksistensialisme memfokuskan utamannya pada masalah filsafat dan belum begitu eksplisit terhadap praktik-praktik pendidikan. Beberapa pengecualian ditemukan pada tokoh-tokoh seperti Martin Buber, Maxine Greene, George Kneller, dan Van cleve Morris. Eksistensialisme bukanlah filsafat yang sistematis, tetapi memberi semangat dan sikap yang dapat diterapkan dalam usaha pendidikan.
Secara relative, eksistensialisme tidak begitu dikenal dalam dunia pendidikan, tidak menampakan pengaruh yang besar pada sekolah. Sebaliknya penganut eksistensialisme kebingungan dengan apa yang akan mereka temukan melalui pembangunan pendidikan. Mereka menilai bahwa tidak ada yang disebut pendidikan, tetapi bentuk propaganda untuk memikat orang lain. Mereka juga menunjukan bahwa bagaimana pendidikan memunculkan bahaya yang nyata, sejak penyiapan murid sebagai konsumen atau menjadikan mereka penggerak mesin pada teknologi industry dan birokrasi modern. Malahan sebaliknya pendidikan tidak membantu membentuk kepribadian dan kreativitas, sehingga para eksistensialisme mengatakan sebagian besar sekolah melemahkan dan mengganggu atribut-atribut esensi kemanusiaan.
Mereka mengkritik kecendrungan masyarakat masa kini dan praktik pendidikan bahwa ada pembatasan realisasi diri karena ada tekanan sosio-ekonomi yang membuat persekolahan hanya pembelajaran peran tertentu. Sekolah menentukan peran untuk kesuksesan ekonomi seperti memperoleh pekerjaan dengan gaji yang tinggi dan menaiki tangga menuju ke kalangan ekonomi kelas atas; sekolah juga menentukan tujuan untuk menjadi warga Negara yang baik, juga yang menentukan apa yang menjadi kesuksesan sosial di masyarakat. Siswa diharapkan untuk belajar peran-peran ini dan berperan dengan baik pula. Dalam keadaan yang demikian kesempatan bagi pilihan untuk merealisasikan diri secara asli dan autentik menjadi hilang atau sangat berkurang. Keautentikan menjadi begitu beresiko Karen atidak dapat membawa pada kesuksesan sebagaimana didefinisiskan oleh orang lain. Di antara kecendrungan masa kini yang begitu menyebar cepat tetapi sangat sulit dipisahkan adalah mengikisnya kemungkinan keautentikan manusia karena adanya tirani dari yang rata-rata. Tirani dari aturan yang dictatorial dan otoriter, rejim dan institusi adalah bentuk nyata dari penindasan dan paksaan. Tirani dari rata-rata tampak seolah demokratis tapi dalam kenyataannya adalah gejala penyakit pikiran masa dan pilihan-pilihan nilainya. Dalam masyarkat yang berorientasi konsumsi, produk barang dan jasa dibuat dan dipasarkan untuk membentuk kelompok konsumen terbesar. Media masa seni dan hiburan juga dirancang sebagai agen pendidikan informal merefleksikan dan menciptakan selera popular. Dalam masyarakat seperti ini, penyimpangan dari yang rata-rata atau kebanaykan orang tidak akan diterima baik. Keunikan menjadi begitu mahal sehingga hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang istimewa, yaitu kaum elit, atau oleh orang-orang yang tidak popular disebut masyarakat marjinal (Gutek, 1988: 123-124).
Secara filososfi hal tersebut merupakan pemberontakan terhadap cara hidup individu dalam budaya popular. Harapan kaum eksistensialisme, individu menjadi pusat dari upaya pendidikan. Maka, sebagaimana dikatakan oleh Van Cleve Morris bahwa penganut eksistensialisme dalam pendidikan lebih focus untuk membantu secara individual dalam merealisasikan diri secara penuh melalui beberapa penyataan berikut.
a. Saya sebagai wakil dari kehendak, tidak sanggup menghindar dari kehendak hidup yang telah ada;
b. Saya sebagai wakil yang bebas, bebas mutlak dalam menentukan tujuan hidup;
c. Saya sebagai yang bertanggungjawab, pribadi yang terukur untuk memilih secara bebas yang tampak pada cara saya menjalani hidup
Tata cara para guru eksistensialisme tidak pernah terpusat pada pengalihan pengetahuan kognitif dan dengan berbagai pertanyaan. Ia akan lebih cenderung membantu siswa –siswa untuk mengembangkan kemungkinan-kemungkinan pertanyaan.
Guru akan focus pada keunikan individu di antara sesama siswa. Ia akan menunjukan tidak ada dua individu yang benar-benar sama di antara mereka yang sama satu sama lain, karena itu tidak ada kebutuhan yang sama dalam pendidikan. Penganut eksistensialisme akan mencari hubungan setiap murid sebagaimana yang disebutkan sebagai acuan hubungan Buber dalam I-Thou dan I-It. Hal itu berarti, ia akan memperlakukan siswa secara individual di masa ia dapat menidentifikasi dirinya secara personal.
Para guru eksistensialisme berusaha keras memperjelas pernyataan Rogers tentang fasilitator. Dalam aturan ini guru memperhatikan emosi dan hal-hal yang tidak masuk akal pada setiap individu, dan berupaya untuk memandu siswanya untuk lebih memahami diri mereka sendiri. Ia dan anak-anak muda yang bersamanya akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan tentang hidup, kematian, dan makna yang mereka tampilkan dalam berbagai pengalaman kemanusiaan dengan beberapa sudut pandang. Melalui berbagai pengalaman ini, guru-guru dan siswa akan belajar dan bertukar informasi tentang penemuan jati diri dan bagaimana realisasinya dalam kehidupan dunia antar-sesama dan sebagai individu. a. Pandangan Filsafat Eksistensialisme tentang Realitas, Pengetahuan, Nilai, dan Pendidikan
1. Realitas
Realitas adalah kenyataan hidup itu sendiri. Untuk menggambarkan realitas, kita harus menggambarkan apa yang ada dalam diri kita, bukan yang ada diluar kondisi manusia. Eksistensialisme merupakan filsafat yang memandang segala gejala berpangkal pada eksistensi. Eksistensi adalah cara manusia berada di dunia. Cara berada manusia berbeda dengan cara beradanya benda-benda materi. Keberadaan benda-benda materi berdasarkan ketidaksadaran akan dirinya sendiri, dan juga tidak terdapat komunikasi antara satu dengan lainnya. Tidak demikian halnya dengan beradanya manusia. Manusia berada bersama dengan manusia lainnya sama, yaitu sederajat.
Bagi eksistensialisme, benda-benda materi, alam fisik, dunia yang berada diluar manusia tidak akan bermakna atau tidak memiliki tujuan apa-apa kalau terpisah dari manusia. Jadi, dunia ini bermakna kaarena manusia. Eksistensialisme mengakui bahwa apa yang dihasilkan sains cukup asli, namun tidak memiliki makna kemanusiaan secara langsung.
2. Pengetahuan
Teori pengetahuan eksistensialisme banyak dipengaruhi oleh filsafat fenomenologi, suatu pandangan yang menggambarkan penampakan benda-benda dan peristiwa-peristiwa sebagaimana benda-benda tersebut menampakkan dirinya terhadap kesadaran manusia. Pengetahuan manusia tergantung pada pemahamannya tentang realitas dan tergantung pada interpretasi manusia terhadap realitas. Pelajaran di sekolah akan dijaidikan alat untuk merealisasikan diri, bukan merupakan suatu disiplin yang kaku dimana anak harus patuh dan tunduk pada isi pelajaran tersebut. Biarkanlah pribadi anak berkembang untuk menemukan kebenaran-kebenaran dalam kebenaran
3. Nilai
Pemahaman eksistensialisme pada nilai, menekankan kebebasan dalam tindakan. Kebebasan bukan tujuan atau suatu cita-cita dalam dirinya sendiri, melainkan merupakan suatu potensi untuk suatu tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun menentukan pilihan-pilihan diantara pilihan-pilihan yang terbaik adalah yang paling sukar. Berbuat akan menghasilkan akibat, dimana seseorang harus menerima akibat-akibat tersebut sebagai pilihannya. Kebebasan tidak pernah selesai, karena setiap akibat akan menghasilkan kebutuhan untuk pilihan berikutnya.
4. Implikasi Filsafat Eksistensialisme dalam Pendidikan
Menurut A. Chaedar alwashilah, di dalam kelas, guru berperan sebagai fasilitator untuk membiarkan siswa berkembang menjadi dirinya dengan memberikan berbagai bentuk jalan untuk dilalui. Karena perasaan tidak terlepas dari nalar, maka kaum eksistensilis menganjurkan pendidikan sebagai cara membentuk manusia secara utuh, bukan hanya sebagai pembengunan nalar. Sejalan dengan tujuan itu kuriklum menjadi fleksibel dengan menyajikan sejumlah pilihan untuk dipilih siswa. Dapat ditebak bahwa pelajaran-pelajaran humaniora akan mendapat penekanan relatif besar. Kelas mesti kaya dengan materi ajar yang memungkinkan siswa melakukan ekspresi diri, atara lain dalam bentuk karya sastra film, dan drama. Semua itu merupakan alat untuk memungkinkan siswa “berfilsafat” tentang makna dari pengalaman hidup, cinta, dan kematian. Pendidikan vokasional lebih sebagai cara mengajar siswa mengenal dirinya bukan untuk mendapatkan penghidupan. Dalam bidang seni, aliran ini mendorong kreatifitas dan imaginasi siswa bukan sekedar meniru dan membeo apa yang sudah ada. Siswa dilihat sebagai individu, dan belajar seyogianya disesuaikan dengan kecepatan siswa dan siswa mengarahkan belajar untuk kepentingan dirinya sendiri.
Uyoh Sadulloh dalam bukunya Filsafat Pendidikan, menjelaskan tentang implikasi filsafat eksistensialisme dalam pendidikan sebagai berikut:
1. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Setiap individu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dnegan pemenuhan dirinya, sehingga dalam menentukan kurikulum tidak ada kurikulum yang pasti dan ditentukan berlaku secar umum.
2. Proses Belajar-Mengajar
Menurut Kneller (1971), konsep belajar mengajar eksistensialisme dapat diapli. kasikan dari pandangan Martin Buber tentang “dialog”. Dialog merupakan percakapan antara pribadi dengan pribadi, dimana setiap pribadi merupakan subjek bagi yang lainnya. Menurut Buber kebanyakan proses pendidikan merupakan paksaan. Anak dipaksa menyerah kepada kehendak guru, atau pada pengetahuan yang tidak fpeksibel, dimna guru menjadi penguasanya.
Selanjutnya buber mengemukakan bahwa, guru hendaknya tidak boleh disamakan dengan seorang instruktur. Jika guru disamakan dengan instruktur maka ia hanya akan merupakan perantara yang sederhana antara materi pelajaran dan siswa. Seandainya ia hanya dianggap sebagai alat untuk mentransfer pengetahuan, dan siswa akan menjadi hasil dari transfer tersebut. Pengetahuan akan menguasai manusia, sehingga manusia akan menjadi alat dan produk dri pengetahuan tersebut.
Dalam proses belajar mengajar, pengetahuan tidak dilimpahkan melainkan ditawarkan. Untuk menjadikan hubungan antara guru dengan siswa sebagai suatu dialog, maka pengetahuan yang akan diberikan kepada siswa harus menjadi bagian dari pengalaman pribadi guru itu sendiri, sehingga guru akan berjumpa dengan siswa sebagai pertemuan antara pribadi dengan pribadi. Pengetahuan yang ditawarkan guru tidak merupakan suatu yang diberikan kepada siswa yang tidak dikuasainya, melainkan merupakan suatu aspek yang telah menjadi miliknya sendiri.
3. Peranan Guru
Menurut pemikiran eksistensialisme, kehidupan tidak bermakna apa-apa, dan alam semesta berlainan dengan situasi yang manusia temukan sendiri di dalamnya. Kendatipun demikian dengan kebebasan yang kita miliki, masing-masing dari kita harus commit sendiri pada penentuan makna bagi kehidupan kita. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Maxine Greene (Parkay, 1998), seorang filosof pendidikan terkenal yang karyanya didasarkan pada eksistensialisme “kita harus mengetahui kehidupan kita, menjelaskan situasi-situasi kita jika kita memahami dunia dari sudut pendirian bersama”. Urusan manusia yang paling berharga yang mungkin paling bermanfaat dalam mengangkat pencarian pribadi akan makna merupakan proses edukatif. Sekalipun begitu, para guru harus memberikan kebebasan kepada siswa memilih dan memberi mereka pengalaman-pengalaman yang akan membantu mereka menemukan makna dari kehidupan mereka. Pendekatan ini berlawanan dengan keyakinan banyak orang, tidak berarti bahwa para siswa boleh melakukan apa saja yang mereka suka.
Guru hendaknya memberi semangat kepada siswa untuk memikirkan dirinya dalam suatu dialog. Guru menyatakan tentang ide-ide yang dimiliki siswa, dan mengajukan ide-ide lain, kemudian membimbing siswa untuk memilih alternative-alternatif, sehingga siswa akan melihat bahwa kebenaran tidak terjadi pada manusia melainkan dipilih oleh manusia. Lebih dari itu, siswa harus menjadi factor dalam suatu drama belajar, bukan penonton. Siswa harus belajar keras seperti gurunya.
Guru harus mampu membimbing dan mengarahkan siswa dengan seksama sehingga siswa mampu berpikir relative dengan melalui pertanyaan-pertanyaan. Dalam arti, guru tidak mengarahkan dan tidak member instruksi. Guru hadir dalam kelas dengan wawasan yang luas agar betul-betul menghasilkan diskusi tentang mata pelajaran. Diskusi merupakan metode utama dalam pandangan eksistemsialisme. Siswa memiliki hak untuk menolak interpretasi guru tentang pelajaran. Sekolah merupakan suatu forum dimana para siswa mampu berdialog dengan teman-temannya, dan guru membantu menjelaskan kemajuan siswa dalam pemenuhan dirinya.

4. Desain Kurikulum Eksistensialisme
Kurikulum pada sekolah eksistensialisme sengat terbuka terhadap perubahan karena ada dinamika dalam konsep kebenaran, penerapan, dan perubahan-ubahannya. Melalui perspektif tersebut, siswa harus memilih mata pelajaran yang terbaik. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa mata pelajaran dan pendekatan kurikuler pada filsafat tradisional tidak diberi tempat.
Kaum eksistensialime membuat kesepakatan umum bahwa fundamen pendidikan tradisonal adalah reading, wraiting, aritmathics (three R’s), ilmu alam, dan pengetahuan sosial. Ini semua sebagai dasar atau fondasi usaha kreatif dan kemampuan manusia memahami dirinya sendiri. Namun mata pelajaran dasar ini seharusnya dijadikan dengan mengubungkannya secara lebih banyak lagi pada perkembangan efektif siswa. Mereka tidak menganjurkan pemisahan mata pelajaran dengan makna dan maksud individual sebagaimana yang terjadi dalam pendidika tradisional.
Ilmu humaniora juga tampak lebih luas dalam kurikulum eksistensialisme, karena mereka memberi banyak pemahaman dalam dilemma-dilema utama eksistensi manusia. Humaniora mengembangkan tema-tema di seputar penentuan pilihan manusia dalam hal seks, cinta, benci, kematian, penyakit, dan berbagai aspek kehidupan yang bermakna lainya. Mereka menyampaikan pandangan tentang manusia secara menyeluruh, baik dari perspektif positif maupun negative, dan oleh karena itu ilmu mampu menolong manusia memahami dirinya sendiri. Di luar ilmu dasar dan humaniora, kurikulum eksistensialime terbuka untuk lainnya. Beberapa mata pelajaran yang bermakna bagi individu disepakati untuk di ajarkan.
Bagi kaum eksistensialis, metodologi memiliki sejumlah kemungkinan yang tidak terbatas. Mereka menolak penyeragaman mata pelajaran, kurikulum dan pengajaran, dan menyampaikan bahwa itu semua sebagai pilihan-pilihan terbuka bagi siswa yang memiliki hasrat untuk belajar. Pilihan-pilihan ini tidak harus dibatasi pada sekolah tradisional, tetapi mungkin ditemukan pada berbagai tipe sekolah alternative, atau dalam praktek bisnis, pemerintahan, dan usaha-usaha perseorangan. Ivan Illich meletakan empat saran untuk variasi pendidikan dalam masyarakat tanpa sekolah yang dihargai oleh sebagaian besar kaum eksistensialis.
Kriteria metodologi kaum eksistensialis berpusat seputar konsep tanpa kekerasan dan metode-metode itu yang akan membantu siswa menemukan dan menjadi dirinya sendiri. Mungkin tipe ideal metodologi kaum eksistensialisme dapat dilihat sebagaimana pendekatan yang dilakukan oleh Carl Roders “kebebasan belajar” (1969) dab A.S Neills di Sumerhill; sebuah pendekatan radikal dalam pembelajaran anak (1960).
Kaum eksistensialisme secara umum tidak menaruh perhatian khusus terhadap kebijakan sosial pendidikan atau sekolah. Filsafat mereka bertumpu pada kebebasan individual daripada aspek-aspek sosial eksistensi manusia (Knigt, 1982:76-77).
Kesimpulan/Intisari
Aliran rekonstruksionisme dalam suatu prinsip sependapat dengan perenialisme. Tetapi aliran rekonstruksionisme tidak sependapat dengan cara yang ditempuh filsafat perenialisme. Rekonstruksionalisme berusaha mencari kesempatan semua orang tentang tujuan utama yang dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tata susunan baru seluruh lingkungannya. Dengan kata lain, rekonstruksionalisme ingin merombak tata susunan yang lama, dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang sama sekali baru, melalui lembaga dalam proses pendidikan. Aliran ini yakin bahwa pendidikan tidak lain adalah tanggung jawab sosial. Kemudian aliran ini memiliki potensi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur. Diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Cita-cita demokrasi yang sungguh bukan hanya sekedar teori tetapi harus menjadi kenyataan, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme dan agama (kepercayaan).
Aliran eksistensialisme merupakan filsafat yang bersifat antropologis karena memusatkan perhatian pada atonomi dan kebebasan manusia. Maka, ahli memandang Eksistensialisme sebagai salah satu bentuk dari humanism. Hal ini juga di akui oleh Jean Paul Sartre sang filsuf Eksistensialisme yang sangat terkenal. Eksistensialismeadalah salah satu pendatang baru dalam dunia filsafat. Eksistensialisme hampir sepenuhnya merupakan produk abad XX. Dalam banyak hal eksistensialisme lebih dekat dengan sastra dan seni dari pada filsafat formal. Tidak diragukan lagi bahwa eksistensialisme memusatkan perhatiannya pada emosi manusia dari pada pikiran.

Last modified: Tuesday, 21 July 2020, 1:42 PM