Pembelajaran 7.1

A. Hakikat Manusia dan Sumber Kebudayaan dalam Pendidikan
Suparlan (2007:51) mengemukakan tentang hakikat manusia dan kebudayaan bahwa: Manusia, siapa dan apakah dia? Sejak manusia ada sampai saat ini, persoalan tersebut belum menjawab secara tuntas. Banyak hal secara persial yang bersangkutan dengan manusia sudah diketahui secara jelas dan pasti. Tetapi secara utuh menyeluruh, jauh lebih banyak persoalan yang belum dapat diketahui secara konkret, jelas dan pasti. Hal-hal yang fisis kuantitatif pada umumnya sudah jelas, tetapi hal-hal yang spiritual kualitatif masih tetap tertinggal sebagai “misteri”. Sejak beberapa abad terakhir, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kehidupan manusia cenderung memposisikan dan memerankan sebagai subjek. Dengan ilmu dan teknologi, manusia membangun perekonomian materi al kapitalistik secara eksploratif dan eksploitatif terhadap sumber daya alam sampai batas marginal, sehingga lingkungan alam semakin tidak berimbang lagi. Sementara itu, kehidupan sosial manusia terjebak ke dalam kekejaman system hokum rimba. Hal ini akhirnya mengakibatkan struktur sosial terbelah dalam dikatonomi antara “si kaya dan si miskin”. Hal ini berarti pengetahuan manusia belum terhubungkan secara kausalistik-fungsional dengan realitas konkret perilaku sehari-hari.
Hakikat manusia adalah apa yang menguasai secara menyeluruh. Manusia dipandang tidak hanya dari sudut serba-zat atau serba-zat atau serba-ruh dualism, tetapi dari segi aksistensi manusia di dunia ini. Oleh karena itu, filsafat secara umum berpandangan bahwa hakikat manusia itu berkaitan antara ruh dan badan. Terkait dengan itu, maka hakikat manusia harus diambil secara integral dari seluruh bagiannya; bagian esensial manusia, baik yang metafisis (animalistas dan rasionalitas) maupun fisik (badan dan jiwa). Manusia wajib menguasai hakikatnya yang kompleks dan mengendalikan bagin-bagian tersebut agar bekerja secara harmonis, karena manusia pada hakikatnya adalah hewan, maka ia harus hidup sepertihewan; ia wajib menjaga badanya dan memenuhi kebutuhannya. Namun sebagai hewan yang berakal budi, manusia harus hidup seperti makhluk yang berakal budi. Kemudian juga hakikat manusia harus diambil dari seluruh nisbahnya; tidak hanya keselarasan batin antara bagian-bagian dan kemampuan-kemampuan yang membuat manusia dekat dengan lingkungannya. (Jalaluddin dan Abdullah Idi, 2007:130-131).

B. Sumber Daya Manusia dalam Pendidikan
Keberadaan manusia di muka bumi merupakan sesuatu yang menarik, karena posisinya yang unik. Selain menjadi pokok permasalahan, manusia juga dapat melihat segala peristiwa dan masalah yang terjadi di dunia ini, yang pada akhirnya berhubungan dengan manusia. Oleh karena itu, dalam usaha mempelajari hakikat manusia diperlukan pemikiran filosofi, karena setiap manusia berpikir tentang dirinya sendiri. Meskipun tingkat pemikiran itu selalumempunyai perbedaan. Hal in didasarkan pada pemikiran bahwa selain sebagai subjek pendidikan, manusia juga merupakan objek pendidikan itu sendiri. Ringkasnya adalah kedudukan manusia paling menarik yaitu posisi manusia yang dapat menyelididki kedudukannya sendiri dalam lingkungan yang diselididkinya pula. Kadangkala hasil penyelidikan mengenai lingkunganya itu ternyata lebih memuaskan daripada penyelididkan tentang manusia itu sendiri. (Jalaluddin dan Abdullah Idi, 2007:131-132).
Penyelididkan terhadap hakikat manusia seperti bahasan diatas dapat ditelusuri lebih mendalam dengan melihat konsep sumber daya manusia itu sendiri. Manusia memang potensial sebagai sumber daya, tetapi aktualisasinya tidak mungkin dilepaskan dari eksistensinya sebagai pribadi seutuhnya. Kemampuan berbahasa, berhitung, bakatseni, dan berbagai potensi lainya tidak menjelma sebagai pribadi seutuhnya. Dalam upaya pendidikan, pandangan maupun perlakuan terhadap manusia jangan di ringkas atau sekadar meningkatkan kemampuan otak bahkan keterampilan otot saja. Pandangan tentang upaya pendidikan harus dihindarkan dari persepsi yang berakibat terjadinya reduksi dan detotalisasi terhadap manusia yang pada akhirnya berakibat pada terjadinya dehumanisasi dan objektifikasi manusia (Hassan, 2001:80). Lebih lanjut Hassan menyatakan bahwa konsep tentang sumberdaya manusia itu menunjuk pada manusia sebagai potensi yang siap untuk aktualisasinya. Manusia lebih dari sekedar himpunan potensinya. Pendidikan dalam arti luas juga merupakan upaya pengembangan sumber daya manusia, namun pendidikan lebih dari sekedar upaya pengembangan sumber daya anak atau peserta didik. Pendidikan mengandung tujuan yang lebih menyeluruh yaitu pengembangan yang terarah pada pendewasaan manusia sebagai pribadi seutuhnya yang mandiri dan siap menyesuaikan diri dalam kehidupan masyarakat, ini berarti bahwa kesiapan untuk adaptasi dan sosialisasi tidak kalah pentingnya. Keduanya berkaitan erat dengan pembentukan watak dan nurani yang selanjutnya medasari perilaku berakhlak dan berbudi. (Tokoh Indonesia.com, 2007). Itu sebabnya bila rumusan pembangunan ditujukan demi pengembangan Indonesia seutuhnya, dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Hal ini ditegaskan dalam pasal 4 UU No.2 Tahun 1989 tentang system pendidikan nasional bahwa “pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangasa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya.”dua rumusan tersebut menurut Fuad Hassan sangat tepat sasaran jangan sampai luntur dan menyisakan pandangn terhadap manusia terutama sebagai sumber daya belaka.
Pada sisi lain pendidikan merupakan upaya pengembangan sumber daya manusia, tapi pendidikan lebih dari sekedar upaya pengembangan sumber daya anak atau peserta didik. Pendidikan juga mengandung tujuan yang lebih menyeluruh, yaitu pengembangan terarah pada pendewasaan manusia sebagai pribadi seutuhnya mandiri dan siap menyesuaikan diri dalam kehidupan masyarakat. Hal ini berarti bahwa kesiapan adaptasi dan sosialisasi itu kalah pentingnya. Keduanya berkaitan erat dengan pembentukan watak dan nurani yang mendasari perilaku berakhlak dan berbudi. Maka jangan sampai tujuan pendidikan dikerahkan guna mengembangakan manusia terutama sebagai sumberdaya dan mengelahkan sebagai subjek dan keutuhan pribadi.
Kata sumber daya manusia makin gencar digunakan dalam berbagai konteks sering kali mengesankan persepsi bahwa manusia menyimpan sejumlah kemapuan. Jika manusia hanya dipandang sebagai sumber daya yang dapat dikembangkan untuk (diutamakan) demi perbaikan kinerja produktif dan industrial melulu. Pandangan demikian benar dari sudut pandang ekonomi pasar yang menekankan persaingan dengan sasaran merebut keuntungan sebesar-besarnya. Maka konsep sumber daya manusia sering diutarakan dalam konteks tersebut. Akan tetapi pengembangan sumber daya manusia merupakan bagian dari upaya pendidikan, walaupun secara keseluruhan pendidikan merupakan ikhtiar untuk membangun manusia sebagai eksistensi mandiri dalam perikehidupan berbudaya dan beradab. Humanism sebagai bagian dari sisi kemanusiaan manusia dapat menjelma melalui perkembangan kebudayaan dan peradaban. Hal ini sepenuhnya menjadi bagian dari aktualisasi manusia secara utuh yang mengacu kepada nilai-nilai dan perilaku, serta bersandar pada fungsi nurani. Memandang dan memperlakukan manusia sebagi sumber daya saja dapat berakibat reduksi terhadap manusia. Oleh karena itu, konsep pengembangan sumber daya manusia dalam pendidikan tidak dapat terlepas dari pemahaman sumber daya manusia harus bertolak dari keutuhan manusia sebagai pribadi yang mandiri dan bebas, sehingga tujuan pendidikan tidak hanya mneghasilkan manusia yang siap menjadi suku cadang bagi perbaikan kinerja produktif dan industrial belaka.
Dalam jangka panjang distorsi demikian dapat menghasilkan kekecewaan akibat perlakuan sebagai suku cadang yang bisa dijual belikan atau dipertukarkan. Kondisi itu akhirnya menimbulkan rasa ketidak pastian dan kecemasan tentang hari depan, teristimewa bagi mereka yang bersusah payah menjalani masa pendidikan lama. Hal ini kemudian terbukti membangkitkan reaksi eksensif dan eksentrik yang menggejala di berbagai masyarakat dunia maju. Berbagai reaksi ekstrim memiliki daya tarik yang kuat bagi kaum muda yang cukup terdidik, betapapun tidak rasional cirinya.
Manusia memiliki nurani, harga diri, dan moral yang merupakan cerminan dari kehidupan berbudaya dan beradab. Terampil dan jago tetapi tidak jujur, pintar, cerdas, lincah, berprestasi tinggi, tapi jadi penipu. Problematika ini ada dan selalu menjadi unsur-unsur lain yang perlu diperhatikan dalam pendidikan, maka akhlak dapat membentuk suara nurani yang baik. Akan tetapi, lingkungan seringkali memaksa untuk mencantumkan persyaratan pekerjaan, sehingga output pendidikan harus menyesuaikan dengan persyaratan itu. Oleh karena itu, hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan penghayatan spiritual dan penghayatan moral dalam setiap kegiatan pendidikan menjadi demikian penting. Mahir menggunakan computer, tetapi tidak mahir menggunakan otanya. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku. Menurut Suparlan (2007:52-53) bahwa:
Dari kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku tersebut muncullah upaya untuk mempertemukannya, yaitu melalui “pendidikan”. Sepanjang eksistensinya, manusia senantiasa berusaha mendidik dirinya dengan mencari dan menemukan keselarasan antara pengetahuan dengan perilakunya, meski sampai hari ini belum sepenuhnya berhasil. Di dalam konteks pendidikan manusia adalah makhkuk yang selalu mencoba memerankan diri sebagai objek untuk perbaikan perilakunya.
Demikianlah kehidupan cenderung terpusat pada kepentingan dimana manusia menjadi titik sentral. Dalam keadaan demikian manusia memosisikan dan memerankan diri di atas segala-galanya, dank arena itu memiliki keleluasan untuk memanfaatkan potensi alam termasuk dirinya sendiri dan sesamanya. Di bawah kekuasaan manusia, kehidupan ini berlangsung menjadi antroposentrik.
Pendidikan telah menjadi kepentingan manusia sejak lahir ke atas bumi ini. Banyak hal yang perlu dipelajari, khususnya masalah berisi paya untuk mempertahankan diri agar tetap survival. Dalam kaitan ini Fuad Hassan berpendapat bahwa jika pendidikan itu hanya di khususkan untuk membuat orang menjadi siap pakai itu berarti membuat orang tersebut di didik untuk ketergantungan. Hal ini bertentangan dengan undang-undang pendidikan itu bertujuan mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang mandiri bukan tergantung. Pendidikan tujuannya persis yang dirumuskan dalam undang-undang. Apapunkecendrungan supremasi ekonomi dan teknologi telah demikian kuat pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan. Lebih lanjut lagi disebutkan bahwa dalam konteks dinamika lingkungan internasional Fuad Hassan mempredisikan suasana kehidupan umat manusia nanti akan memasuki gelanggang internasional dengan etos ‘Darwinin’ yang membenarkan. Kalau demikian halnya, maka sungguh merupakan suatu ironi, betapa kemanusiaan mendambakan perdamaian dunia harus masuk arena ‘struggle for survival’ yang sengit dan penuh ketidak seimbangan. Dalam suasana itu yang kuat menjadi yang berkuasa dan yang kuasa menjadi yang benar, maka globalisasi menjadi perpanjangan bagi kepentingan mereka yang kuat dan kuasa, artinya yang kuat dan kuasa merasa berat untuk bersuara lantang ‘atas nama masyarakat internasional’, sekalipun tanpa mandate apapun; yang kuat dan kuasa cenderung menampilkan ‘inflated ego’; ke-aku-an yang mengembang, sehingga mereka cenderung menentukan nilai-nilai yang harus di unggunlkan dan berlaku bagi kemanusiaan saintero jagad, dan menindak siapa saja yang di anggap tidak mematuhinya. Mereka yang kuat dan kuasa pun cenderung tampil sekaligus; sebagai polisi dan pendeta bagi umat manusia. Apabila mereka berteriak tentang perdagangan bebas atau demokrasi, atau hak asasi manusia, dan lain-lain yang ukurannya menjadi orientasinya, maka diharapkannya seluruh dunia menggema sesuai teriakannya. Dalam pandangannya kemanusiaan adalah satu, tapi dilupakannya bahwa kemanusiaan terwujud dalam kehidupan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dalam keanekaan budaya masing-masing itu.
Globalisme mungkin merupakan kenyataan zaman baru yang menjadikan saling terjadinya hubungan antar bangsa melalui suatu jaringan system. Akan tetapi, terlalu naïf untuk beranggapan akan munculnya suatu kebudayaan global yang meniadakan keanekaan budaya bangsa-bangsa. Ancaman terhadap kelanjutan hidup suatu budaya selalu membangkitkan berbagai bentuk daya penangkal. Sungguh naïf unuk beranggapan bahwa globalisasi dapat saja berakhir dengan timbulnya satu kebudayaan yang baru, bahkan ada yang mengatakan bahwa kehidupan dalam era moderisme dan panca-moderisme ditandai kondisi ‘time-space compressio’, yang juga berlaku dalam pertemuan antar budaya. Akan tetapi, hal ini bukan pertanda dan penanda bangkitnya suatu budaya tunggal seremtak dengan bangkrutnya budaya umat manusia .
Globalisasi yang berlanjut terus dapat dengan mudah memunculkan globalisasi kebudayaan. Pendapat tersebut mendapat tanggapan dari Fuad Hassan. Globalisasi tergantung pada apa pengertian kita tentang kata globalisasi yang sekarang sedang dipakai manusia secara luas. Pemakaian kata itu (globalisasi) terkandang memantulkan kesembarangan dalam mengartikannya. Ketika musim penggunaan kata globalisasi tiba, maka banyak orang terkemuka menggunakannya, tanpa peduli dengan arti atau sangkut pautnya. Fuad Hassan tidak percaya dengan terjadinya “globalisasi budaya” dan munculnya satu budaya umat manusia satu budaya, hal ini bertentangan dengan kodrat manusia sebagai makhluk yang hidup dalam perumpunan bersuku dan berbangsa. Dia juga tidak percaya dengan akan tumbuhnya suatu “global culture” yang berakibatnya sirnahnya keanekaan budaya umat manusia. Globalisasi berbagai system dalam interaksi antar bangsa memang terjadi, namun ini tidak berarti punahnya budaya bangsa-bangsa. Ini tentu ancaman terhadap alienasi budaya yang dapat merangsang bangkitnya bentuk-bentuk reaksi -bahkan yang ekstrem- untuk “kembali pada jati diri sesuai dengan nilai budaya bangsa yang bersangkutan”. Sebab, kebudayaan adalah kerangka acuan perilaku masyarakat pendukungnya berupa nilai-nilai (kebenaran, keindahan, keadilan, kemanusian, kebajikan, dsb), sedangkan peradaban adalah penjabaran nilai-nilai tersebut (Fuad, 2001:143). Kebudayaan maupun peradaban dapat diwariskan secara utuh dan sinambung melalui pendidikan, apalagi setiap individu yang memiliki eksistensi pernah mengalami, sehingga pendidikan.
Setiap orang pernah memahami pendidikan sekurangnya dimasa kanak-kanak dan menjalankannya, minimal dilingkungan terbatas, seperti keluarga pendidikan berlangsung dimana mana dari generasi kegenerasi, yaitu generasi tua dan komunitas orang dewasa mengalihkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan dan keterampilannya atau melimpahkan isi “harta” budaya kepada generasi muda sebagai upaya terbaik melalui para pendidik orang tua dan kelompok masyarakat secara sadar dan tidak sadar melakukan pendidikan bagi peningkatan kesejahteraan tanpa mesti belajar teori secara khusus. Demikian terdapat dualism focus pendididkan, meliputi (i) aspek perkembangan progresif dari peserta didik sebagai individu, dan (ii) aspek transmisi sosio–budaya secara selektif yang semula sering amat menonjol (Waini rasyiden).
Tugas terpenting dari usaha untuk mempertahankan budaya manusia, khususnya Indonesia yakni , melalui pendidikan anak dengan sistematis. Berbicara tentang anak, Fuad Hassan (1995:8). Menyatakan bahwa : Anak adalah anak, dengan kodratnya serta dunianya yang khas. Anak tidak perlu dipaksa untuk mempercepat proses pendewasaannya. Tiap tahap perkembangan yang dilalui. Secara wajar jauh lebih baik bagipemebentukan watak dan kepribadian anak dibandingkan dengan pemaksaan, kemungkinan terjadinya pengalaman traumatis demi mempercepat tempo perkembangannya. Anak tidak perlu diperlakukan sebagai buah karbitan karena setiap tahap perkembangan anak menampilkan kepekaan tertentu yang patut diberi perhatian demi kepentingan aktualisasi dirinya sebagai anak.
Aktualisasi diri sebagai anak terlihat jelas melalui kegiatan bermain,, khususnya anak-anak yang berada di usia sangat muda. Kegiatan dikelompok bermain pada umumnya tidak menarik dan berlebihan, kerena pada usia sedemikian muda, anak- anak (balita) sudah dituntut untuk mengerjakan tugas yang bersifat akademis. Terdapat upaya “pemaksaan” anak untuk dilibatkan kedalam proses belajar. Kelompok bermain, seperti taman kanak-kanak mestinya tidak beralih fungsi menjadi atau menyerupai sekolah semata-mata, karena terbawa program itu tidak seharusnya berubah menjadi lembaga pendidikan yang melancarka kegiatan skolastik dan bersifat prestatif dengan akibat menyusutnya kesempatan anak melibatkan diri dalam kegiata bermain yang tidak bisa dinikmatinya sebagai suasana rekreatif.
Untuk tidak memunculkan kesalahan pendidikan terhadap anak-anak, maka langkah awal yang perlu dilakukan yaitu menyediakan tempat bermain, artinya melalui sebuah sekolah bagi anak-anak kecil. Terkhusus kepada mereka yang belum memasuki usia sekolah atau usia prasekolah. Bermain merupakan kebutuhan anak usia prasekolah yang utama. Hal ini dipastikan dapat membantu perkembangan mereka dimasa depan. Kegiatan bermain menurut jenisnya terbagi atas bermain aktif dan bermain pasif. Secara umum, bermain aktif banyak dilakukan pada masa kanak-kanak awal, sedangkan kegiatan bermain pasif lebih mendominansi kegaiatan pada akhir masa kanak-kanak, yaitu sekitar usia praremaja. Akan tetapi, tidak berarti bahwa kegiatan aktif akan menghilang dan digantikan oleh kegiatan bermain pasif. Kedua jenis kegiatan itu akan memberi kesenangan kebahagiaan pada anak dan dapat memenuhi kebutuhan anak untuk bermian adalah dunia kerja anak usia pra sekolah dan menjadi hak setiap anak untuk bermain, tanpa dibatasi usia. Melalui bermain, anak dapat memetik manfaat bagi perkembangan aspek fisik motoric, kecerdasan dan sosial emosional. Ketiga aspek ini saling menunjang satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Bila salah satu aspek tidak diberikan kesempatan untuk berkembang, akan terjadi ketimpangan. Kegiatan bermain aktif terdiri atas; (a) bermain bebas dan spontan, (b) bermain konstruktif, (c) bermain khayal/bermain peran, (d) mengumpulkan benda-benda, (e) melakukan penjelajahan, (f) permainan dan olahraga, (g) music dan (h) melamun. Kemudian , kegiatan bermain pasif terdiri atas lima macam, yaitu (a) membaca, (b) melihat komik, (c) menonton film (d) mendengarkan radio, (e) mendengarkan music. Dengan demikian, kegiatan bermain bagi anak mampu membagi rangsangan posistif untuk memunculkan kemungkinan perkembangan diri mereka. Apabila mereka dapat berkembang dengan baik, niscaya kebudayaan naisonal dapat bertahan denga baik dengan terpaan gelombang glonabalisasi di masa depan.
Perkembangan anak yang terus menerus dapat dengan mudah menciptakan sebuah harapan tentang masa depan lebik baik, masa depan merupakan suatu yang tidak semuanya predictable, tetapi kemungkinan muncul dan menjolaknya peristiwa-peristiwa kecil. Proses perubahan tersebut pasti menyentuh naisb nilai budaya tradisional yang terus bertahan dalam masa modern dan pasca modern dengan nilai-nilai baru. Kebudayaan berkembang sebagai serangkaian proses dan produk namun ada nilai yang tersisih, karena tidak mampu bertahan atas desakan nilai-nilai budaya yang bar uterus diperkenalkan oleh globalisasi. Kegagalan itu sangat tergantung dari sikap pendukung budaya yang bersangkutan, dengan dikenalnya nilai-nilai baru yang cenderung dipilih sebagai acuan perilaku; misalnya perilaku persaingan dikembangkan atas semangat kegotomg royomham dan budaya paternalism dipadukan dalam perwujudan demokrasi.

C. Sikap Manusia Menghadapi Globalisasi
Beberapa sikap yang dapat kita lakukan untuk menyikapi pengaruh dari globalisasi yaitu :
Sikap terhadap pengaruh positif globalisasi. Agar pengaruh globalisasi tidak merusak kehidupan masyarakat maka kita harus mengetahui misi positifnya, sehingga kita dapat memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa contoh sikap yang dapat kita lakukan adalah
a. Memanfaatkan keunggulan alat komunikasi dengan sebaik-baiknya sesuai dengan fungsi dan kebutuhan .
b. Memanfaatkan keunggulan alat teknologi komputer dan lain sebagainya demi kemajuan masa depan dan tidak menyalah gunakannya .
c. Dalam melihat acara televisi harus dapat memilih mana yang baik dan mendukung proses pembelajaran diri .
Secara etimologi, menurut kamus besar bahasa Indonesia “era” diartikan sejumlah tahun dalam jangka waktu antara beberapa peristiwa penting dalam sejarah atau masa. Sedangkan menurut kamus ilmiah popular era berarti zaman, masa atau kurun waktu. Sedangkan kata “globalisasi” berasal dari kata dasar global, yang artinya menyeluruh, seluruhnya, garis besar, secara utuh, dan kesejagatan. Jadi globalisasi dapat diartikan sebagai pengglobalan seluruh aspek kehidupan, perwujudan (perubahan) secara menyeluruh aspek kehidupan. Dan perubahan merupakan suatu proses actual yang tidak pernah hilang selama manusia hidup di muka bumi ini. Keharusan ini dimungkinkan karena manusia pada dasarnya adalah makhluk kreatif sebagai sunnatullah atas rasa, cipta, dan karsa yang diberikan maha pencipta kepadanya.
Era globalisasi dalam arti terminologi adalah sebuah perubahan sosial, berupa bertambahnya keterkaitan diantara masyarakat dan elemen-elemen yang terjadi akibat transkulturasi dan perkembangan teknologi dibidang transportasi dan komunikasi yang memfasilitasi pertukaran budaya dan ekonomi internasional. Globalisasi juga dimaknai dengan gerakan mendunia, yaitu suatu perkembangan pembentukan sistem dan nilai-nilai kehidupan yang bersifat global. Era globalisasi memberikan perubahan besar pada tatanan dunia secara menyeluruh dan perubahan itu dihadapi bersama sebagai suatu perubahan yang wajar. Sebab mau tidak mau, siap tidak siap perubahan itu akan terjadi. Era ini di tandai dengan proses kehidupan mendunia, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama dalam bidang tranformasi dan komunikasi serta terjadinya lintas budaya.
Istilah globalisasi menurut Akbar S. Ahmad dan Hasting Donnan yang memberikan batasan bahwa globalisasi pada prinsipnya mengacu pada perkembangan-perkembangan yang cepat didalam teknologi komunikasi, transformasi, informasi yang bisa membawa bagian-bagian dunia yang jauh ( menjadi hal-hal ) yang bisa dijangkau dengan mudah.
Menurut Anthony Giddens (2005 : 84) menyatakan bahwa globalisasi dapat diartikan sebagai intensifikasi relasi sosial sedua yang menghubungkan lokalitas yang saling berjauhan sedemikian rupa sehungga jumlah peristiwa sosial dibentuk oleh peristiwa yang terjadi pada jarak bermil- mil.Pandangan berbeda tentang globalisasi yang dikemukakan oleh Ulrich Beck, pemikir filsafat sosial Jerman bahwa dalam globalisasi ada tiga pengertian kunci yaitu: (Sindhunata, 2003)
a. Deteritorialisasi yang berarti batas – batas geografi ditiadakan atau tidak lagi berperan dan tidak lagi menentukan dalam perdagangan antarnegara.
b. Transnasionalisme ialah mentiadakan batas- batas geografis seperti blok-blok.
c. Mutilokal dan translokal, dimana globalisasi memberikan kesempatan bagi manusia di berbagai belahan dunia membuka horison hidupnya seluas dunia, tanpa kehilangan kelokalannya.
Globalisasi bersifat multimedia karena dapat dilihat dari berbagai aspek. Menurut Baharudin Darus menyatakan bahwa ada lima aspek globalisasi yaitu :
a. Globalisasi informasi dan komunikasi;
b.Globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas;
c. Globalisasi gaya hidup, pola konsumsi, budaya dan kesadaran;
d.Globalisasi media massa cetak dan elektronik;
e. Globalisasi polotik dan wawasan.
Menurut Thomas L. Friedman (2000), globalisasi adalah sebuah sistem yang netral yang dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif, bisa memperkuat atau melemahkan sendi-sendi kehidupan, menyeragamkan atau mempolarisasikan, juga mendemokratisasikan atau justru sebaliknya. Itu semua tergantung bagaimana kita meresponnya.
Kita tahu bahwa pendidikan adalah wadah untuk anak dalam menumbuh kembangkan potensi diri, soft skill, dan kognitif, pendidikan juga yang menjadi ujung tombak dalam perkembangan suatu bangsa, karena mampu mencetak generasi yang terdidik dan terlatih, serta memberantas buta aksara yang masih ada di antara sekian banyak penduduk Indonesia ini, dan saya yakin bahwa pendidikan akan selalu seiring dengan perkembangan zaman, dan bersifat kontemporer. Dalam UUD 1945 sudah dijelaskan bahwa pendidikan menginginkan karakter manusia yang berakhlak mulia, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, dan cerdas dalam kehidupannya.
Amanat UUD 1945 terssebut dijabarkan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat (1) menjabarkan substansi pendidikan sebagai usaha sadar dan trencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar anak didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Pendidikan di era globalisasi saat ini dengan semakin berkembangnya alat-alat tekhnologi yang semakin canggih, tekhnologi mutakhir telah lahir, gaya hidup mulai sedikit terkontaminasi, fashion sudah menjadi trend, dan yang lainnya, inilah yang kita hadapi, dan bukanlha soal yang besar atas hadirnya hal ini. Yang terpenting sikap kita dalam menjaga budaya luhur bangsa, tanpa menolak hal baru pada perkembangan zaman sebut saja akulturasi budaya.
Berbicara tentang globalisasi maka kita juga menoleh pada dunia pendidikan yang sudah semestinya mempersiapkan sistem yang bersinergi dengan perkembangan zaman, karena pendidikan menjadi alternative solutif untuk menyikapi dtangnya era kekinian, tinggal bagaimana nantinya sikap pemerintah merumuskan sitem yang sesuai.
Dewasa ini sering banyak kita jumpai penyimpangan yang dilakukan oleh pejabat Negara, pelajar atau mahasiswa, lalu siapa yang kita salahkan ? apakah pelaku penyimpangan itu? itu semua sudah terjadi, akan tetapi memikirkan bagaimana menemukan solusi alternative, untuk memberantas itu. Inikah yang kita banggakan dari bangsa kita ? tertawa kalau anda melihat bangsa yang kaya melimpah sumber daya alam, sedangkan manusianya tak bermoral, dan bukan globalisasi yang kita salahkan, karena hal yang sangat wajar jika manusia menciptakan hal yang baru, itu sudah menjadi kewajiban dari manusia untuk berinisiatif, dan sudah saatnya kita mengkaji bagaimana meminimalisir bahkan memberantas penyimpangan yang telah terjadi, solusi cerdas adalah pemerintah bagaimana merumuskan dengan baik sistem pendidikan yang tepat dalam menghadapi perkembangan zaman, karena kita tahu bahwa pendidikan lah yang menjadi poros penting dalam mencetak generasi intelektual yang bermoral dan berperan dala kemajuan bangsa Indonesia.
Dengan ini pendidikan karakter sangat diperlukan dalam mengawal moral anak bangsa, entah bagaimana mengaplikasikannya itu telah menjadi pekerjaan rumah bagi lembaga pendidikan masing-masing, tinggal bagaimana sosialisasi dari kemendikbud tentang sistem pendidikan yang terbaru, yakni tentang penerapan pendidikan pancasila, pelatihan guru, pembenahan pada sistem perkuliahan di fakultas pendidikan dan perumusan kurikulum yang telah didukung oleh pemerataan fasilitas pendidikan di seluruh Indonesia.
Dengan ini maka diharapkan terwujudnya pendidikan pendidikan yang siap menghadapi tantangan zaman, serta menghasilkan generasi muda yang cerdas dan bermoral. Pengaruh negatif globalisasi globalisasi dapat mempengaruhi tingkah laku kita dalam kehidupan sehari – hari .Untuk itu kita harus dapat menentukan sikap dalam menghadapi globalisasi , khususnya dari pengaruh negatif .
Beberapa contoh sikap untuk menghadapi pengaruh negatif dari globalisasi misalnya :
a. Memperkuat keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa .
b. Belajar tekun agar menjadi manusia yang berguna dan dapat membedakan perilaku yang benar dan salah .
c. Memperkuat rasa persatuan dan kesatuan bangsa .
d. Menggunakan produk dalam negeri .
e. Mempertimbangkan setiap perbuatan agar tidak merugikan diri sendiri dan oranglain .
f. Menggunakan waktu dengan kegiatan – kegiatan yang bermanfaat .
Bergaul dengan orang – oprang yang berakhlak baik dan tidak terpengaruh terhadap lingkungan dan pergaulan buruk.

Kesimpulan/Intisari
Hakikat manusia adalah apa yang menguasai secara menyeluruh. Manusia dipandang tidak hanya dari sudut serba zat atau atau serba ruh dualisme, tetapi dari segi eksistensi manusia di dunia ini. Kemudian juga hakikat manusia harus diambil dari seluruh nisbahnya; tidak hanya keselarasan batin antara bagian-bagian dan kemampuan-kemampuan yang membuat manusia dekat dengan lingkungannya.
Globalisme merupakan kenyataan zaman baru yang membuat saling terjadinya hubungan antar bangsa melalui suatu jaringan system. Globalisasi berbagai system dalam interaksi antar bangsa memang terjadi, namun ini tidak berarti punahnya budaya bangsa-bangsa. Kebudayaan maupun peradaban dapat diwariskan secara utuh dan sinambung melalui pendidikan, apalagi setiap individu yang memiliki eksistensi pernah mengalami pendidikan.

Last modified: Saturday, 25 July 2020, 5:58 PM