Latar Belakang Pengelolaan Hama Terpadu

 Pada awal tahun 1940-an, ketika beberapa jenis pestisida ditemuan banyak pendapat yang mengemukakan bahwa masalah hama akan mudah terselesaikan dengan melakukan penyemprotan pestisida. Pada awal penyemprotan pestisida cukup memberikan hasil yang memuaskan, namun ternyata penyemprotan pestisida secara terus-menerus baik konsentrasi (ml per liter air), dosis (liter pestisida per hektar), maupun frekuensi (keseringan) pemberiannya. Kenyataan hal tersebut tidak mampu mengatasi permasalahan hama, tetapi sebaliknya menciptakan permasalahan baru yang lebih rumit dan kompleks. Permasalahan yang berdampak negatif karena hama dapat berkembang dengan baik untuk bertahan dari pestisida yang diberikan. Tidak hanya itu, pemberian pestisida dengan dosis yang besar justru juga membunuh musuh-musuh alami dari hama, terlebih lagi pemberian pestisida juga berdampak kepada hasil panen, bahkan pencemaran air, tanah, pencemaran lingkungan yang pada akhirnya juga berdampak buruk kepada kesehatan manusia.

 Banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan dari pemberian pestisida, pada ahli kemudian menyadari bahwa pemberian pestisida bukanlah cara terbaik untuk mengusir hama secara komprehensif. Pada tahun 1959 para pakar yang dimotori oleh Stern, Smith, Van den Bosch, dan Hagen mendeklarasikan konsepsi pengelolaan hama terpadu (Integrated Pest Management Concep) untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil pertanian. Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) merupakan perkembangan pemahaman dari pengendalian hama terpadu, dimana pengendalian hama dilakukan hanya dengan memenfaatkan kondisi ekosistem, misalnya pengendalian menggunakan musuh alami, pengendalian dengan memodifikasi ekosistem dan yang lainya tanpa ada penggunaan bahan kimia pertanian walau dalam jumlah yang sedikit sekalipun. Konsep ini kemudian mulai diterapkan di Indonesia sejak tahun 1986 dan terus berkembang secara meluas di beberapa wilayah Indonesia.

 Indonesia merupakan negara berkembang pertama yang berhasil dalam menerapkan PHT pada lahan pertanian yang sesuai dengan kondisi lahan, ekosistem, dan sistem sosial masyarakat. Salah satu bentuk penerapan PHT yaitu melalui pembentukan Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) yang telah dijalankan dan dirasakan manfaatnya oleh banyak masyarakat sebagai bentuk pemberdayaan petani di negara berkembang. Indonesia yang merupakan negara pencetus SLPHT pada banyak jenis tanaman yaitu tanaman padi, palawija, dan berbagai macam sayuran. Sejak tahun 1997, Indonesia mulai melaksanakanSLPHT untuk memandirikan petani pekebun pada 6 komoditi perkebunan (kopi, teh, kakao, jambu mete, lada, dan kapas) di 12 propinsi yang ada di Indonesia.


SOAL LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah soal latihan berikut!
  1. Jelaskan dampak negatif penggunaan pestisida!
  2. Jelaskan latar belakang lahirnya konsep PHT!
  3. Jelaskan upaya apa yang dilakukan oleh Indonesia sebagai bentuk penerapan PHT!

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan pembelajaran 1.

image/svg+xml Tingkat penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar Jumlah Soal ✕ 100%

Arti tingkat penguasaan : 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

 Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan pembelajaran 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan pembelajaran 1, terutama bagian yang belum dikuasai.


PETUNJUK JAWABAN SOAL LATIHAN

<
  1. Penggunaan pestisida secara terus menerus dapat berdampak negatif dengan membunuh musuh-musuh alami dari hama, serta berdampak kepada kualitas hasil panen, bahkan pencemaran air, tanah, dan pencemaran lingkungan. Tidak hanya itu, yang terparah justru dapat berdampak buruk kepada kesehatan manusia.
  2. Banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan dari pemberian pestisida, merupakan latar belakang lahirnya konsep PHT, karena disadari bahwa pemberian pestisida bukanlah cara yang terbaik untuk mengusir hama. Konsep PHT lahir tidak lain bertujuan untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil pertanian dengan menggunakan musuh alami, pengendalian dengan memodifikasi ekosistem dan yang lainya tanpa ada penggunaan bahan kimia pertanian walau dalam jumlah yang sedikit sekalipun.
  3. Salah satu bentuk penerapan PHT yaitu melalui pembentukan Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) yang telah dijalankan dan dirasakan manfaatnya oleh banyak masyarakat sebagai bentuk pemberdayaan petani di negara berkembang

RANGKUMAN

 Pemberian pestisida secara terus menerus dengan jumlah yang semakin besar justru tidak memberikan hasil yang baik untuk mengatasi perlasalahan hama, namun justru sebaliknya menimbulkan dampak negatif yaitu pencemaran lingkungan termasuk pencemarian air dan tanah, dan juga berdampak buruk pada kesehatan manusia. Atas dasar hal tersebut lahir konsep PHT yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil pertanian dengan menggunakan musuh alami, pengendalian dengan memodifikasi ekosistem dan yang lainya tanpa ada penggunaan bahan kimia pertanian. Pada tahun 1997, Indonesia mulai melaksanakan SLPHT untuk memandirikan petani pekebun pada 6 komoditi perkebunan (kopi, teh, kakao, jambu mete, lada, dan kapas) di 12 propinsi yang ada di Indonesia, sebagai bentuk penerapan PHT.


TES FORMATIF

Pilihlah satu jawaban yang tepat!
  1. Pada tahun berapakah jenis pestisida ditemukan?
    1. 1920
    2. 1940
    3. 1950
    4. 1930
  2. Permasalahan apa yang terjadi ketika pestisida diberikan ke tanaman?
    1. Membunuh musuh alami hama
    2. Hasil panen yang berkurang
    3. Pencemaran lingkungan
    4. Semua jawaban benar
  3. Pakar yang mendeklarasikan konsep Pengelolaan Hama Terpadu (PHT), kecuali?
    1. Smith
    2. Samuel Huge
    3. Wan den Bosch
    4. Hagen
  4. Tahun berapakah konsep Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) dideklarasikan?
    1. 1950
    2. 1953
    3. 1958
    4. 1959
  5. Apa tujuan para pakar mendeklarasikan konsep Pengelolaan Hama Terpadu (PHT)
    1. Untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil pertanian
    2. Untuk mengusir hama tanaman
    3. Untuk meningkatkan kesuburan tanah
    4. Semua jawaban benar
  6. Pengendalian hama yang merupakan perkembangan dari Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) dilakukan dengan cara, kecuali?
    1. Pengendalian menggunakan musush alami
    2. Pengendalian tanpa menggunakan bahan kimia pertanian
    3. Pengendalian dengan memodifikasi ekosistem
    4. Pengendalian dengan penyemprotan pestisida
  7. Siapakah negara berkembang pertama yang berhasil menerapkan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT)
    1. Vietnam
    2. Indonesia
    3. Malaysia
    4. Thailand
  8. Penerapan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) harus menyesuaikan dengan?
    1. Ekosistem
    2. Kondisi lahan
    3. Sistem social masyarakat
    4. Semua jawaban benar
  9. Berikut adalah komuditi perkebunan yang merupakan bentuk pelaksanaan SLPHT,kecuali?
    1. Kopi
    2. The
    3. Lada
    4. Jambu
  10. Salah satu bentuk penerapan PHT adalah dengan membentuk?
    1. Simuasi Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT)
    2. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT)
    3. Sekolah Lapangan Pengelolaan Hama Terpadu (SLPHT)
    4. Simulasi Lapangan Pengelolaan Hama Terpadu (SLPHT)
Last modified: Wednesday, 1 July 2020, 11:56 PM